Rabu, 23 September 2020

Kisah 20 : Dikejar Anjing

 

Sudah jam 5 sore, Om Kholiq belum pulang juga. Sepertinya ibu ada perlu dengannya. Omku yang satu ini memang seringkali keluyuran bersama temannya abang-abang STM. Ibu pun menyuruhku untuk mencari Om Kholiq ke lapangan.

Aku belum bisa naik sepeda jadi aku berjalan kaki saja sendirian. Padahal lapangannya lumayan jauh. Aku pun berjalan melewati jalan kerikil. Aku berjalan seperti biasa meski sendirian aku tak takut. Namun, saat melewati rumah Pak Is yang berada tepat di pertigaan, bulu kudukku sedikit merinding. Bagaimana tidak, rumah Pak Is terkenal seram, bukan karena rumahnya angker ataupun ada setan, melainkan karena anjing milik Pak Is. Anjing itu selalu menggonggong setiap melihat ada orang yang lewat.

Dengan batu di tangan, pelan-pelan aku melangkah melewati rumah Pak Is. Batu ini akan kupergunakan untuk melempar anjing jika ia mengejarku. Karena biasanya kalau di lempar batu, anjing akan pergi ketakutan.

“Aman...aman...,” kataku dalam hati setelah berhasil melewati rumah Pak Is dengan aman. Tampaknya si anjing coklat itu sedang tertidur pulas.

Aku kemudian berlari menuruni jalan kerikil. Aku ingin segera menemukan Om Kholiq sebelum hari petang. Kucari-cari dia di lapangan bola dan lapangan basket tempat ia biasanya bermain dengan teman-temannya, namun tak juga aku melihatnya. Lelah aku mencarinya. Di lapangan itu juga banyak orang main bola dan membuatku takut untuk berada lama-lama di sana. Aku pun memutuskan untuk pulang saja.

Aku kembali berjalan melewati jalan yang sama dengan ketika aku berangkat tadi. Mau tidak mau aku pun harus melewati rumah Pak Is lagi. Aduh! sudah sore lagi. Anjingnya pasti sudah bangun dan siap beraksi. Bagaimana ini? Aku mencoba untuk tetap tenang saat melewatinya. Tak terlihat lagi anjing itu di emperan rumah Pak Is. “Aman...aman,” kataku pelan. Namun saat ku berbelok melewati pertigaan, terlihat anjing itu berada di sana.

“Guk... guk...,” katanya sambil menatapku. Aku pun merasa takut. Ia mendekatiku, mencoba untuk menggigitku. Aku berusaha menghindar tapi ia berhasil menyentuh celana belakangku. “Waaaaaaa,” aku pun berlari sekuat tenaga sambil menangis berteriak. Untungnya lariku lebih cepat daripada anjing itu.

Hanya beberapa langkah ia mengejar, melihat beberapa orang berdiri di dekat rumahku, ia pun langsung berbalik arah. Om Mus yang berada di depan rumahku berusaha menenangkanku. Ia malah meledekku dan membuatku tertawa.
“Ngis... ngis... ngis...gula jawa, habis nangis ketawa!” katanya.

Untunglah tak ada luka, hanya kantong celanaku saja yang sobek sedikit. Wah, celanaku terkena najis. Ibu berarti harus mencucinya dengan tanah. Hah.. zaman itu mana aku tahu hukum-hukum seperti itu. Hehe...

Bukan hanya Pak Is saja yang punya anjing, beberapa warga komplek lainnya juga memelihara hewan buas ini. Tak usah jauh-jauh, tetangga samping rumahku persis, yaitu Bang Miga, rumahnya sudah seperti peternakan anjing. Ia punya banyak anjing. Si induk anjing yang ia beri nama “bagong” seringkali beranak dan membuat rumah Bang Miga pun ramai dengan anjing-anjing. Tentu saja aku yang tetangganya seringkali merasa takut.

Di Aceh Tengah, anjing sangat banyak sekali maka tidaklah heran kalau aku menemui anjing dimana-mana. Anjing-anjing ini selain untuk menjaga rumah, mereka juga berfungsi untuk menjaga kebun kopi dari pencuri ataupun gangguan babi. Selain itu, anjing juga kerap kali digunakan untuk berburu babi oleh orang-orang Padang.

Setiap seminggu sekali, yaitu pada hari Selasa orang Padang yang bermukim di Kabupaten Aceh Tengah akan melakukan buru babi secara berkelompok. Sudah menjadi tradisi tampaknya bagi mereka. Aku sering melihat rombongan mereka. Mereka menggunakan senjata tajam dan membawa anjing untuk berburu. Komplek kami sering kali menjadi tempat berburu, terutama bagian komplek yang berbatasan dengan sungai dan gunung. Mereka tak membawa pulang bangkai babi itu melainkan meninggalkannya saja. Keesokan harinya terkadang ada orang Medan yang datang untuk mencari bangkai itu, katanya sih untuk dijual.

Karena banyak anjing, maka aku juga harus berhati-hati ketika melangkah. Seperti hewan-hewan lainnya, anjing juga tak berakal sehingga ia membuang kotorannya di sembarang tempat. Jangan sampai aku menginjak kotoran anjing yang tersebar di mana-mana, tak terkecuali di jalan yang sering kulalui. Kotoran anjing ini sudah seperti ranjau saja. Pernah sekali sepatuku ini menginjak kotoran hewan buas itu ketika sedang istirahat sekolah. Tak enak sekali rasanya, aku pun berbisik pada seorang teman yang saat itu sedang bersamaku, kubilang padanya: “Hei, aku menginjak tahi anjing. Tolonglah nanti jangan kamu bilang teman-teman jika nanti mereka mencium bau tak sedap di kelas. Malulah aku jika teman-teman tahu”. Baunya yang tidak sedap pasti akan tersebar kemana-mana. Sudah pasti aku akan dikucilkan di dalam kelas. Anak-anak pasti akan menghindariku dan tak mau mengajakku bermain. Adalah hal yang paling malas mencuci sepatuku yang terkena kotoran anjing ini, tapi tetap harus kulakukan karena aku tak punya sepatu lagi.

Pernah suatu kali aku pulang sekolah beramai-ramai bersama Puput dan teman-temannya. Seekor anjing datang dan mengejar kami. Kami pun berlari. Secara spontan tiba-tiba Kak Dwi melemparkan tasnya. Tas itu pun jatuh di tumpukan tahi anjing. “Hahaha...” kami semua tertawa terbahak-bahak, “ah Kak Dwi bau tahi anjing!” anjing juga sudah tak mengejar kami lagi. Kak Dwi pun malu bercampur kesal. Kak Dwi tetap membawa pulang tasnya itu, tentunya sambil menahan aroma yang sangat tidak enak. Ia pun berjalan di belakang. Esoknya ia tak membawa tas itu lagi.

Anjing juga kadang memakan ayam-ayamku dan milik tetangga yang lain. Aku sering melihatnya langsung, ia berlari sambil membawa seekor ayam di mulutnya. Ayam-ayam kami pun sering merasa resah karena kedatangan seekor anjing yang menyelusup melalui lubang di bawah pagar. Mereka pasti akan ribut, “petok...petok....!” begitulah suara mereka. Anjing memang hewan yang kanibal.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar