Rabu, 08 Januari 2020

CPNS Bukan Segalanya

Banyak orang bertanya sama saya, "Ikut CPNS tidak?"
Dengan enteng saya menjawab "Tidak".
"Lho kok tidak ikut? Tidak sayang ijazahnya?" tanya mereka keheranan.
Sambil tersenyum saya menjawab : "Tidak".
Banyak orang menilai bahwa dengan jadi PNS hidup akan lebih bahagia dan masa depan lebih terjamin. Saya tidak memungkiri itu, namun saya tidak 100% setuju. Menurut saya, kebahagiaan tidak hanya diukur dr kesuksesan menjadi CPNS. Saya juga ingin menjadi CPNS, tapi tergantung situasi dan kondisi juga.

Kondisi saya sekarang adalah guru swasta yang mempunyai 2 orang balita. Sementara formasi yang ada jauh dari tempat tinggal saya. Sedangkan suami Alhamdulillah sudah PNS sehingga akan sulit untuk pindah. Jika saya mendaftar CPNS sekarang dan lolos seleksi, tentu saja saya harus merelakan untuk jauh dari suami dan anak-anak saya. Secara finansial mungkin kebutuhan akan tercukupi namun secara lahiriah malah lelah yang akan saya dapatkan. Saya belum siap untuk itu. Sehingga saat ini saya memutuskan untuk tidak ikut CPNS. Saya yakin, insya Allah rezeki saya akan datang dengan jalan yang lain dan saya bahagia dengan kondisi saya sekarang.

Beginilah Jika Mamah Sekolah Lagi

Sungguh besar impian dan cita-cita mamah sebenarnya, ingin menjadi guru profesional dan bisa keluar negeri. Tapi mamah tahu kemampuan mamah sebagai seorang guru yang juga seorang ibu. Anak-anak mamah rasanya lebih berharga daripada segalanya. Sehingga cita-cita itu belum bisa mamah jalankan dengan maksimal.

Mamah tidak betah menganggur sehingga mamah tetap menjadi guru, walau hanya guru SD. Jika mengikuti ijazah mamah, mamah sebenarnya bisa menjadi guru SMA bahkan juga dosen. Tetapi itu tentu akan banyak menyita waktu mamah. Mamah mengajar di sebuah SD swasta yang letaknya di desa. Tapi itu tak mengapa. Justru di sinilah karir mamah mulai berkembang. 

Alhamdulillah mamah lulus pretest PPG dua tahun lalu, yaitu tahun 2017. Mamah merasa beruntung sekali karena teman-teman mamah banyak yang tidak lulus. Setelah lama menanti, akhirnya mamah dapat panggilan juga pada Juli 2019 untuk mengikuti PPG. Dimulai dari daring. Saat itu ayah juga sedang pelatihan di luar kota. Sambil momong dede mamah harus menyempatkan diri untuk membuka laptop. Luar biasa tugas-tugas daring ini. Seringkali mamah harus tidur dini hari setelah mengerjakan tugas. Setelah daring, pada bulan September 2019 mamah harus ke Yogya untuk mengikuti workshop PPG. Sungguh dilema rasanya saat itu. Meninggalkan dede yang masih berumur 9 bulan dan disisi lain mamah telah menunggu kesempatan ini 2 tahun lamanya. Dengan terpaksa mamah menitipkan dede pada orang lain yang bukan siapa-siapa. 2 bulan lamanya dede tinggal dengan Mba Jum. Ayah dan Kakak akan tilik sesempatnya. Sedangkan mamah hanya bisa memendam rindu. Dede yang tadinya mimi ASI harus beralih ke susu formula. 

Masa-masa workshop di Yogya mamah lalui. Diakhiri dengan ujian UKMPPG yang luar biasa. Alhamdulillah mamah berhasil melaluinya. Kini mamah bisa berkumpul lagi dengan dede, kakak, dan ayah kembali.