Rabu, 23 September 2020

Kisah 19: Berkelahi

 

Anak-anak perempuan dan laki-laki di kelasku saling bermusuhan beberapa hari ini. Aku lupa apa penyebabnya, yang jelas siang ini kami berantem di lapangan sekolah, kami saling menendang ala silat-silatan. Aku pun turut serta dalam barisan wonder woman itu. Satu lawan satu. Ups, hanya sebentar saja dan tak sampai menumpahkan darah ataupun meneteskan air mata. Sepertinya aku ada bakat tawuran antar pelajar juga. Haha...

Untung saja kami tak sampai dipanggil ke ruang guru. Seringkali kulihat kakak-kakak kelasku harus berurusan dengan guru karena ketahuan berkelahi. Bang Iwan dan Bang Hendra, kakak adik yang sudah langganan berkelahi seringkali dipanggil ke kantor karena ketahuan berkelahi dengan teman mereka. Kalau berkelahi mereka tak tanggung-tanggung, seringkali membuat lawannya babak belur ataupun menggunakan benda tajam.

Pergaulan anak laki-laki di sana memang sangat keras sekali, acap kali kulihat anak-anak kecil ini berkelahi dengan menggunakan benda tajam. Sering juga aku melihat mereka pada menghisap rokok. Bahkan anak yang paling diam pun sudah dapat dipastikan pernah melakukannya.

Anak laki-laki ini juga sering dipanggil ke kantor karena mengusili anak perempuan. Kakak kelasku yang cantik-cantik seringkali dikurung dalam kelas oleh mereka. Tentu saja hal ini membuat kakak-kakak kelasku itu menangis histeris. Untung saja, aku tak pernah diusili oleh mereka.

Anehnya, salah satu anak laki-laki yang usil itu yang berbadan besar, justru takut dengan suntikan. Suatu hari pihak puskesmas datang ke sekolahku untuk menyuntik para anak-anak kelas 6. Satu demi satu temannya di suntik di dalam ruang kelasku, eh dia malah berlari kabur ke sawah yang ada di belakang sekolahku ini. Dia terus berlari menyusuri pematang sawah. Teman-temannya tentu saja mengejarnya agar ia tetap disuntik. Bahkan Pak Saleh, konon kabarnya juga ikut mengejar. Cemen sekali mentalnya, kalah dengan anak-anak kelas 1.

Kesadaran sekolah juga masih rendah di Takengon ini. Masih banyak anak-anak desa yang tak sekolah. Bukan karena masalah biaya tapi karena rendahnya kesadaran akan pentingnya pendidikan. Mereka lebih memilih untuk bekerja di kebun kopi karena lebih menjanjikan. Setahun dua tahun berkebun kopi sudah pasti menghasilkan katanya daripada membuang-buang waktu untuk sekolah. Sekolah di Aceh ini gratis untuk tingkatan sekolah dasar, untuk sekolah menengah hanya cukup membayar beberapa ribu rupiah saja.

Setelah puas berkelahi di lapangan hijau itu kami kemudian pulang dan anehnya saat di jalan aku hanya biasa saja dengan teman-teman yang berkelahi tadi. Seperti tak ada masalah di antara kami.

Jalan raya yang sepi membuat kami menyeberang sekehendak hati, bahkan salah seorang teman kami ada yang nekat berjalan di tengahnya. Suasana jalan raya di sana memang kontras sekali dengan jalan raya di Jawa ini yang serba macet sangking sesaknya.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar