Sabtu, 14 September 2013

Bapak, Harapan Itu Masih Ada



Hari ini ku kembali lagi ke Purwokerto setelah sepekan lamanya berada di rumah, my home my paradise. Masih teringat jelas dibenakku bagaimana Bapak menangis menyambut kedatanganku hari minggu lalu. Betapa bahagianya beliau menyambut kedatangan putri kebanggaannya ini. Beliau tak tahu bahwa sebenarnya kudatang dengan membawa luka hati. Terharu rasanya saat beliau menangisiku. Tak pernah ku lihat ini sebelumnya terhadap kakak dan adikku. Berada di rumah selama sepekan alhamdulillah bisa membuatnya menjadi lebih baik dari sebelumnya, beliau tampak lebih segar dan terlihat senyum bahagia di wajahnya. Sebisa mungkin kucoba untuk membahagiakannya: membawakan koran untuknya, merawat tanaman-tanaman yang dulu ditanamnya, menyiapkan makanan untuknya, meringankan pekerjaan ibu, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya yang bisa ku lakukan. Ya selama sepekan aku benar-benar di rumah, tak pergi kemanapun. Sesekali juga ku ajak beliau mengobrol, menceritakan perkembangan tesisku, menceritakan seminarku, dan menceritakan pengalaman-pengalamanku yang lain. Beliau tampak begitu senang mendengarnya, seakan melupakan sejenak penyakit yang beliau rasakan, penyakit kanker yang sudah stadium 3 itu. Begitu juga denganku, rasa cinta dan perhatianku kepada Bapak seakan mengobati luka hati ini.
Bapak cepat sembuh ya.... Ku yakin harapan itu masih ada.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar