Jumat, 13 Juni 2014

Beberapa Perjalanan dalam Sebulan


Saya bukanlah geografer atau reporter yang sering berpergian demi tugasnya, saya juga bukan petualang sejati yang selalu berpetualang untuk menghiasi hari-harinya, saya hanyalah seorang pengangguran yang sedang mengejar cita-cita. Dalam sebulan terakhir ini saya telah melakukan beberapa kali perjalanan keluar kota. Tujuan utama saya bukanlah untuk jalan-jalan, tapi saya selalu menyisipkan jalan-jalan dalam setiap perjalanan saya karena saya memang memiliki hobi travelling. Hehe….. Kesibukan saya sebulan terakhir ini membuat saya baru bisa menuangkan perjalanan saya dalam bentuk tulisan di blog saya ini.

Perjalanan Pertama : Minggu, 18 Mei 2014

Bersama rombongan di tempat budidaya jamur tiram (Andam, 2014)
Perjalanan pertama saya hanya satu hari bolak-balik. Saya juga tidak pergi jauh-jauh, hanya di kota tetangga yaitu Pekalongan saja. Saya tidak pergi sendiri melainkan bersama rombongan dari desa saya yang terdiri dari pengurus LKM, ibu-ibu PKK, dan pengurus karang taruna. Tentu saja dalam hal ini saya sebagai salah satu wakil dari pengurus karang taruna. Tujuan utama kami adalah study di tempat budidaya jamur tiram yang ada di Desa Wonosari, Kec. Karanganyar, Kab. Pekalongan. Ratusan jamur yang tersusun dalam rak-rak cukup menyita perhatian saya. Lembarannya yang putih dengan tubuh buah yang empuk sungguh terlihat menggemaskan. Saya suka dengan hal-hal baru, termasuk belajar tentang bagaimana membudidayakan jamur tiram. Walaupun kemungkinannya kecil untuk saya terapkan sendiri, karena saya lebih asyik memotret daripada mendengarkan guidenya. Haha….
Dari tempat budidaya jamur, perjalanan kami pun berlanjut ke tempat wisata Linggo Asri Pekalongan. Ini adalah objek wisata yang memadukan nuansa pegunungan dengan pohon-pohonnya yang rindang dan taman bermain serta kolam renang. Yang menarik bagi saya adalah sepanjang perjalanan dari tempat budidaya jamur tadi menuju ke Linggo Asri ini saya disuguhi dengan pemandangan alam hutan karet dan pinus di kanan-kiri jalan yang berkelok-kelok. Banyaknya tumbuhan dan pohon-pohon yang rindang membuat udara di Linggo Asri ini cukup segar.

Perjalanan kedua : Rabu, 21 Mei 2014

Jalan Pahlawan Semarang (Andam, 2014)
Berbeda dengan perjalanan pertama saya yang ikut rombongan, kali ini saya pergi dengan sepupu saya yang tentunya muhrim saya. Kami pergi pagi-pagi sekali setelah sholat subuh dengan menaiki sepeda motor menuju ibukota provinsi, Kota Semarang. Perjalanan selama 3 jam cukup melelahkan. Tapi tak apalah, sembari menunggu dia tes kerja toh saya bisa istirahat. Ke Semarang tentu saja memutar memori saya karena saya pernah tinggal di kota ini selama empat tahun lamanya ketika saya menempuh pendidikan sarjana.
Yang membuat saya sangat antusias untuk menemani sepupu saya itu ke Semarang adalah gedung tempat ia tes adalah salah satu gedung yang terletak di jalan favorit saya di Semarang yaitu Jalan Pahlawan yang terletak di selatan Simpang Lima Semarang. Jalan ini adalah pusat perkantoran Pemerintah Daerah Jawa Tengah, termasuk kantor gubernur. Dulu saya pernah beberapa kali nongkrong di jalan ini bersama teman-teman saya, karena memang ketika sore sampai malam hari jalan ini ramai dengan anak-anak muda yang nongkrong dengan sesama komuniti mereka. Saya juga pernah ikut kampanye earth hour di jalan ini dan rasanya sungguh luar biasa ketika jam 8 malam satu persatu kantor di jalan ini mulai memadamkan listriknya, sorak-sorak kami pun terdengar menyambut pemadaman ini.
Uniknya lagi, gedung yang saya tuju bersama sepupu saya adalah Kantor Perhutani Jawa Tengah, dimana dulu di depan gedung ini terahir kalinya saya nongkrong bersama teman-teman saya, menikmati malam terakhir kami bersama di Semarang. Kalau dulu cuma bisa nongkrong di depannya, sekarang saya bisa masuk ke kantornya.
Setelah sepupu saya selesai mengikuti tes, kami tidak langsung pulang ke Pemalang, melainkan mampir dulu ke dosen saya, Pak Tyas. Saya memang berencana mampir ke tempat beliau. Sebelum saya memberitahu bahwa saya akan mampir, beliau dulu yang menelepon saya pagi-pagi ketika saya masih dalam perjalanan ke Semarang. Entahlah, punya firasat apa beliau. Cukup lama saya bertamu ke rumah Pak Tyas di Banyumanik, mengobrol ngalor-ngidul, termasuk mengulas sedikit cerita saat saya masih menjadi mahasiswanya di Universitas Negeri Semarang. Alhamdulillah meski sudah tiga tahun lamanya saya lulus dari kampus itu tapi komunikasi kami masih tetap terjalin.
Setelah maghrib barulah kami pamit meninggalkan rumah Pak Tyas untuk pulang ke Pemalang. Kami juga menyempatkan diri mampir di pusat oleh-oleh Semarang yang ada di Jalan Pandanaran. Setelah itu barulah kami capcau ke Pemalang.
Perjalanan pulang ternyata tak semulus yang kami bayangkan. Tiba-tiba saja mesin motor sepupuku itu mati di tengah jalan ketika kami baru saja melalui alas roban Batang. Sekitar tiga puluh menit lamanya kami berdiri di pinggir jalan dan barulah mesin motor itu dapat dinyalakan kembali. Sudah lelah, ada acara mogok segala sehingga rasanya jadi tak karuan. Pukul 11 malam barulah kami tiba kembali di Pemalang dengan kondisi lelah yang sangat. Besoknya saya pun jatuh sakit.

Perjalanan Ketiga : Selasa-Sabtu, 27-31 Mei 2014

Pintu gerbang UNNES (Andam, 2014)
Perjalanan saya yang ketiga ini benar-benar tanpa direncanakan. Keputusan untuk pergi baru saya ambil pada pukul 21.30 WIB dan packing pun baru selesai sekitar pukul 12 malam.
Aku bangga akan almamaterku (Andam, 2014)
Selasa pagi, sekitar pukul 07.00 WIB saya pergi meninggalkan Pemalang seorang diri dengan tujuan pertama adalah Kota Semarang. Di Semarang, saya bertamu ke kos lama saya, Kos Al-Barokah di kawasan kampus Universitas Negeri Semarang (UNNES) di daerah Sekaran, Gunungpati, Semarang. Saya menghadiri hajatan putri kedua pemilik kos, Bapak Abdurrahman dan Ibu Alimahrum. Momen ini sekaligus menjadi ajang reuni bagi saya dan anak-anak Kos Al-Barokah lainnya: Rima, Indah, dan Rina, Anis, Arum, dan Mba Asri. Senang sekali saya bisa bertemu mereka lagi, reuni keluarga besar kos Al-Barokah. Selama 4 tahun saya kuliah di UNNES, 4 tahun pula saya tinggal di kos ini dan membuat saya begitu dekat dengan keluarga pemilik kos ini.
Selain bertemu teman-teman kos, saya juga menyempatkan diri bertemu teman-teman kuliah saya yaitu Tri Utami dan Rini. Pertemuan yang cuma sebentar, lumayan untuk melepas kerinduan saya akan masa-masa kuliah di UNNES dulu.
Saya menginap selama semalam di kawasan UNNES ini dan esok paginya saya menyempatkan diri berkeliling kampus UNNES dengan adik kos saya dulu. Sungguh lagi-lagi saya merasa bangga akan almamater saya ini, makin indah dan adem saja, nuansa kampus konservasi kian terasa.
Sekitar pukul 10.00 WIB, dari Semarang saya bertolak ke Yogyakarta untuk mengikuti tes kerja di sebuah kampus. Bus yang saya tumpangi memilih melalui jalan tol untuk menghindari macet. Pertama kalinya saya melalui Tol Ungaran-Bawen Semarang dan pemandangannya sungguh menarik.
Jembatang indah di Pascasarjana UGM (Andam, 2014)
Mushollah Apung di Pascasarjana UGM (Andam, 2014)
Saya disambut Fefri dan Kiki, dua sahabat saya sejak SMA yang juga orang Pemalang. Mereka masih tinggal di Yogya untuk urusan study. Dengan baik hati, mereka rela berbagi tempat tidur dan mengantarkan saya bolak-balik ke tempat tes. Selain mereka, saya juga bertemu Alfian, teman saya lainnya yang juga dari Pemalang. Dulu kami sempat satu kelas saat kelas 1 SMA. Saya juga bertemu Mas Budi, teman kuliah S2 saya dari Purwokerto. Alfian dan Mas Budi juga sama-sama mengikuti tes seperti saya di kampus yang sama. Bertemu dengan teman-teman lama itu sungguh menyenangkan karena bisa bernostalgia akan kenangan masa lalu.
Saya mengikuti tes selama dua hari lamanya di Yogya, yaitu hari Kamis dan Jum’at. Sabtunya saya kembali ke Pemalang via jalur selatan dan transit di terminal Purwokerto. Selama di Yogya, saya hanya jalan-jalan ke kampus Pascasarjana UGM untuk melihat Mushollah Apung dan taman indah dis ekitarnya. Kali ini saya sengaja tidak jalan-jalan mengelilingi Kota Yogya karena kondisi saya memang lagi kurang fit akibat perjalanan saya sebelumnya. Saya ingin memulihkan kesehatan saya karena saya juga harus kembali lagi ke kota gudeg ini beberapa hari lagi untuk mengikuti tes selanjutnya. Tentunya saya sangat berharap untuk dapat diterima kerja di kampus tersebut karena saya ingin sekali tinggal di kota ini.

Perjalanan Keempat : Kamis-Senin, 5-9 Juni 2014

Diantara patung boneka (Andam, 2014)
Hari Kamis saya kembali lagi ke Yogya untuk mengikuti tes. Saya kembali berangkat sendiri. Kali ini saya memilih berangkat melewati jalur selatan, yang berarti transit lagi di terminal Purwokerto. Kota dimana saya dulu pernah tinggal selama menempuh study S2.
Saya kembali menginap di kos Fefri dan Kiki. Mereka kembali harus rela berbagi tempat tidur dengan saya. Saya memang sering merepotkan mereka, tapi tak apalah, itulah fungsi teman yang memang siap untuk direpotkan.
Sehari lamanya saya mengikuti tes, yaitu pada hari Jum’at. Sabtunya saya pun meninggalkan Kota Yogyakarta setelah menyempatkan diri berbelanja beberapa buku di Shopping Centre dan melihat patung-patung di Pusat Budaya Yogya. Saya memang tak menghabiskan waktu lama di Yogya karena saya sudah sering jalan-jalan di kota ini. Kali ini tujuan jalan-jalan saya adalah Kota Solo dan Wonogiri.
Patng-patung boneka (Andam, 2014)
Waduk Gajah Mungkur Wonogiri (Andam, 2014)
Sekitar pukul 1 siang, saya meninggalkan Kota Yogya dengan menumpangi kereta api Sidomukti dari Stasiun Lempuyangan. Sejam lamanya perjalanan kemudian saya pun tiba di Stasiun Purwosari Solo, seorang teman telah menanti kedatangan saya. Tina namanya, teman kuliah saya saat di UNNES. Senang sekali bisa bertemu dia kembali karena selepas lulus tiga tahun lalu kami baru bertemu kembali.
Di Waduk Gajah Mungkur (Andam, 2014)
Dia mengajak saya singgah dulu ke kosnya di Sukoharjo, baru kemudian sorenya kami bertolak ke Wonogiri, tempat asalnya. Tak butuh waktu lama, sekitar 40 menit kami pun tiba di rumahnya di Kota Wonogiri.
Malamnya Tina mengajak saya ke Alun-Alun Wonogiri, yang kebetulan tak jauh dari rumahnya. Kami melihat pertunjukan musik. Hanya sebentar kami di sana karena kami memang tak terlalu menikmatinya. Bagi saya adalah hanya untuk sekedar tahu dan merasakan berdiri di Alun-Alun Wonogiri.
Tugu Pusaka Wonogiri (Andam, 2014)
Minggu pagi, Tina pun mengajak saya berkeliling Waduk Gajah Mungkur yang merupakan waduk terbesar di Jawa. Dia paham betul keinginan saya sejak dulu bahwa saya ingin ke waduk ini. Akhirnya, keinginan saya terkabulkan, melihat waduk yang sudah sering saya dengar sejak SD itu. Selain waduknya yang luas dan indah, pemandangan di Kota Wonogiri ini juga cukup menarik, banyak gunung-gunung batu di sana. Mungkin karena itulah kota ini dinamakan Wonogiri (giri = gunung). Tina juga mengajak saya menikmati makanan khas Wonogiri yaitu mie ayam. Haha... mie ayam memang dimana-mana ada, tapi mie ayam Wonogiri memang terkenal, rasanya memang sangat enak, berbeda dengan mie ayam yang pernah saya nikmati di kota-kota lain.
Masjid Agung Kraton Surakarta (Andam, 2014)
Tak lama-lama saya berada di kota ini, sorenya kami kembali ke Sukoharjo. Sebelumnya, di perbatasan Kota Wonogiri, kami menyempatkan diri berhenti sejenak untuk melihat tugu pusaka. Kalau dulus saya hanya bisa melihat tiruannya saja di Maerokoco Semarang, sekarang saya dapat melihat aslinya. Tugu Pusaka adalah tempat penyimpanan pusaka Wonogiri.
Setelah mengambil gambar sejenak, kami melanjutkan perjalanan ke Sukoharjo. Hanya sekitar 30 menit kami transit di kos Tina, kemudian Tina mengajak saya berkeliling Kota Solo sampai pukul 9 malam. Ia mengajak saya ke Alun-Alun Utara dan Selatan Surakarta serta Masjid Agung Keraton Surakarta.
Senin pagi, saya kembali ke Pemalang. Saya berharap dapat menemukan hal-hal baru lagi dalam perjalanan saya selanjutnya. Selalu ada cerita dan pelajaran dalam setiap perjalanan.

Jumat, 18 April 2014

Kirim Surat: Kebiasaan Lama yang Mulai Tersingkirkan


“Ndam di TU kulihat ada surat buat kamu,” kata seorang teman. Kalimat yang tak pernah kudengar lagi sekarang. Betapa bahagianya aku ketika itu mendengar mendapat surat. Tak sabar rasanya menunggu waktu istirahat tiba untuk segera menyambangi ruang tata usaha sekolah guna mengambil surat yang ditujukan untukku. Tak hanya di sekolah, surat untukku juga kerap kali kuterima di rumah. Entah berapa surat yang telah kuterima. Bahkan pernah suatu kali dalam seminggu aku menerima 3 surat.
Koleksi surat dan benda-benda pos milikku (Andam, 2014)
Hobi mengirim surat bermula saat aku bisa menulis. Saat itu umurku baru enam tahun dan aku sering ikut-ikutan kedua orang tuaku mengirim surat untuk saudara mereka yang ada di Jawa. Aku seringkali meminta mereka menyisipkan suratku diantara lembaran surat yang mereka kirim. Zaman itu, telepon dan internet belum merakyat seperti sekarang. Aku juga sering ikut mereka ke kantor pos yang juga tak jauh dari sekolahku. Kebiasaan it uterus berlanjut sampai aku memberanikan diri mengirimkannya sendiri melalui kantor pos.
Mengirim surat pun menjadi kebiasaan intensifku tatkala aku pindah ke Jawa dan jauh dari teman-teman kecilku yang berada di Aceh (Takengon) sana. Ya aku ingin terus menyambung silaturahmi dengan mereka. Banyak hal yang bisa kutulis dalam suratku seperti keadaan kesehatanku, keadaan sekolahku dan teman-temanku di sekolah, hal yang kadang membuatku gembira atau sedih, serta tempat-tempat yang pernah kukunjungi. Bisa sampai berlembar-lembar aku menuliskannya.
Bisa berbulan-bulan aku mendapat balasannya dan betapa bahagianya aku ketika mendapat balasannya. Yang mereka tuliskan juga tak kalah menarik dengan tulisanku. Bahkan aku pernah menangis dibuatnya. Surat itu dari Febry yang ada di Aceh. Surat itu kuterima waktu aku SMA. Isinya dia pernah mengirim surat untukku tapi tak juga mendapat balasan. Ya saat itu sedang ramai-ramainya GAM, banyak mobil yang distop dan dibakar di tengah jalan, bisa jadi surat itu juga turut bersamanya. Kebetulan juga aku baru masuk SMA, selama ini Febry mengirimkan surat ke SMPku di MTsN Model Pemalang. Dalam surat itu bahkan Febry menuliskan bahwa selama ini dia mencari-cari alamat SMA ku. Sambil menangis ia menuliskan surat itu dan sangat berharap surat itu sampai ditanganku. Jika surat itu tidak sampai kepada yang dituju mohon kiranya dikembalikan lagi kepada pengirimnya.
Selain mengumpulkan surat, perangko yang tertera di amplop juga menyita perhatianku. Aku suka sekali mengumpulkan benda pos yang gambarnya berwarna-warni dalam bentuk yang menarik. Aku pun menggunting dan membersihkanya. Lalu kumasukkan dalam buku Stamp Album-ku.
Hari ini iseng-iseng aku membuka laci lemari yang sudah lama tak kusentuh. Kutemukan kembali surat-surat yang pernah kuterima dan benda-benda pos lainnya. Sungguh luar biasa rasanya saat kumembacanya kembali. Mulai tersadarkan bahwa kebiasaan itu sudah mulai tersingkirkan sejak aku mengenal handphone dan internet sekitar 7 tahun lalu. Rasanya aku ingin menulis surat lagi.

Rabu, 02 April 2014

Kilas Balik Pemilu 1999 di Aceh Tengah

Sungguh rugi jika orang pada zaman sekarang memilih GOLPUT dari pada menggunakan hak pilihnya. Kita warga negara Indonesia jadi kita harus memilih pemimpin kita. Sungguh munafik jika anda tetap mengaku warga negara Indonesia, tinggal di Indonesia, makan dari hasil bumi Indonesia, kerja di lembaga pemerintah Indonesia dan menikmati gajinya, namun anda memilih GOLPUT. Setiap orang tak ada yang sempurna begitu juga pemimpin kita, dia manusia yang sama dengan kita tapi dia berani menjadi pemimpin negara ini yang sudah jelas-jelas itu tidak mudah. Dan atas keberaniannya itu dia tidak hanya diminta pertanggungjawabannya di dunia, tapi juga di akhirat.
Pemilu 1999 di Aceh masih membekas dalam pikiran saya. Saat itu umur saya masih 10 tahun. Saya memang belum mempunyai hak pilih tapi saya belajar dari pengalaman. Karena adanya reformasi, pemilu yang sejatinya akan diselenggarakan lagi pada tahun 2002 (5 tahun setelah 1997) maka diadakan di tahun 1999. Saat itu Provinsi Aceh sedang ramai-ramainya GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Kehidupan politik sangat labil di sana, tidak terkecuali di Kabupaten Aceh Tengah tempat dimana saya dulu tinggal. Dari sekian banyak kabupaten dan kota di Provinsi Serambi Mekah itu, Aceh Tengah memang kabupaten yang paling aman dari kekerasan, namun tidak dengan politik. Tahun 1999 itu nyaris tidak ada pemilu di sana. Kekhawatiran akan bahaya GAM dihari pemilu terus menghantui masyarakat. Sehari sebelum pemilu tidak ada bilik-bilik tempat pemungutan suara, bahkan malamnya para tokoh masyarakat masih mengadakan rapat untuk memutuskan apakah akan ada pemilu atau tidak. Dari musyawarah itu memutuskan pemilu tetap berlangsung namun tidak di desa kami, Desa Wihnareh. Pemilu dilaksanakan di Desa Simpang Kelaping selaku ibukota Kecamatan Pegasing.
Keesokan harinya, berduyun-duyun masyarakat Kecamatan Pegasing menuju ke Desa Simpang Kelaping. Jarak Desa Wihnareh dengan Desa Simpang Kelaping cukup jauh, sekitar 3 Km namun mereka tetap menggunakan hak pilihnya meski beberapa dari mereka harus berjalan kaki. Kami para pendatang dari luar daerah, orang yang keamanannya terganggu tetap saja memperjuangkan hak pilih kami.
Berhubung lokasinya yang jauh dan faktor keamanan, kami selaku anak-anak juga turut serta ke Desa Simpang Kelaping. Untung saja, tetangga saya ada yang punya mobil sehingga kami bisa ikut menumpang. Sesampainya di Desa Simpang Kelaping, kami para anak-anak tinggal di dalam mobil dalam kondisi tertutup rawat, tak seorang pun dari kami boleh keluar. Rasa dag-dig-dug terus menghantui kami. Tempat parkir mobil ini  berjarak sekitar 200 meter dari TPS. Mobil itu berisi lebih dari 6 orang anak kecil: saya, kakak saya, adik saya yang masih bayi, dan 3 orang anak kecil lainnya.
Area persawahan bekas panen di Desa Simpang Kelaping pun di sulap menjadi area TPS massal. Ada beberapa TPS di sana. Masing-masing desa membangun satu TPS mereka. Suasana tegang menyelimuti masyarakat saat berlangsungnya pemungutan suara. Berbeda jauh dengan pemilu tahun 1997 dan pemilu tahun 1999 di daerah lain dimana TPS masih berada di desa masing-masing.

Semoga cerita ini bermanfaat dan membuat Anda yang berencana GOLPUT untuk berpikir kemba

Kamis, 20 Maret 2014

Pagi di Curug Cipendok

Lelah setelah acara wisuda dan bingung mau kemana, esok harinya tepatnya Rabu tanggal 19 Maret 2014 saya pun memutuskan untuk jalan-jalan ke Curug Cipendok yang merupakan curug tertinggi di Kabupaten Banyumas. Pukul 6 pagi saya pun berangkat bersama teman-teman. Meski dingin dan kabut masih menyelimuti Kota Purwokerto, tidak mengurungkan niat kami untuk pergi ke sana.
Curug Cipendok terletak di desa Karangtengah Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas. Untuk menjangkaunya tidaklah terlalu sulit karena jalannya yang sudah beraspal dan hanya berjarak sekitar 25 Km dari pusat Kota Purwokerto ke arah barat. Curug ini terletak persis di lereng Gunung Slamet bagian selatan.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit kami pun tiba. Segarrrrr.... begitulah yang saya rasakan ketika baru memasuki area Curug Cipendok. Udara pegunungan memang begitu segar, tidak seperti udara kota yang sudah polusi. Barisan pepohonan menyambut kedatangan kami. Dari tempat parkir perjalanan pun dilanjutkan dengan berjalan kaki. Mulai deh hunting objek buat pemotretan. Haha.... sayang sekali kalau pemandangan yang indah dan menarik ini tidak diabadikan dan menambah koleksi foto saya. Banyaknya anak tangga cukup membuat saya berkeringat, tapi semua itu terbayarkan ketika sampai di Curug Cipendok yang menjadi objek utamaku. Dalam jarak 50 meter uap airnya juga sudah terasa karena hembusan angin. Huuuu.... dingin yang menyegarkan. Semakin mendekati air terjun dinginnya pun semakin terasa. Tidak usah nyemplung pakaian pun akan basah dengan sendirinya. Sambil menikmati berendam di air saya pun dapat melihat Elang Jawa (Spizaetus bartelsi).
Sekitar 3 jam lamanya kami menikmati keindahan air terjun, setelah itu kami lanjutkan dengan beristirahat di taman bermain yang juga ada di area itu sembari menghangatkan badan dan melihat kota Purwokerto dari atas sana.
Curug Cipendok (Andam, 2014)
Lanscape di sekitar tempat parkir Curug Cipendok (Andam, 2014)
Hutan Gunung Slamet di Sekitar Curug Cipendok (Andam, 2014)
Rest area Curug Cipendok (Andam, 2014)
Udara pagi yang begitu segar, pemandangan yang indah, dan air yang dingin cukup menyegarkan kami. Bagi para pecinta wisata alam tempat ini sangat cocok sekali untuk ekoturisme dan bagi para pecinta fotografi tempat ini juga cocok sekali untuk objek pemotretan. 

Selasa, 18 Maret 2014

Graduation Day

Bagi sebagian besar orang, hari wisuda mungkin adalah hari yang bahagia. Namun tidak begitu bagi saya. Wisuda itu hanya euforia sesaat, setelah itu saya pun akan bingung untuk melangkah manapaki kehidupan yang lebih nyata. Hari ini, gelar saya pun bertambah. Tidak hanya sebagai Sarjana Pendidikan tetapi juga Master Sains (M.Si.). Mungkin orang akan memuji dan merasa senang mendengarnya. Namun, yang saya rasakan justru sebaliknya, semakin banyak gelar yang saya peroleh maka semakin berat pula beban yang saya pikul.
Hari ini, saya juga tidak sebahagia 2 tahun lalu saat wisuda sarjana. Bisa jadi karena bukan wisuda pertama saya. Ditambah lagi saya telah kehilangan orang yang saya cintai. Ya Bapak sangat ingin sekali menyaksikan hari bahagia ini. Segudang rencana telah disusunnya untuk menghadiri acara wisuda ini sejak setahun lalu saat saya mulai menyusun tesis. Beliaulah orang pertama yang memotivasi saya untuk mengambil S2 di UNSOED dengan program Beasiswa Unggulan. Sayang, ternyata Allah lebih dulu memanggilmu sebelum hari ini tiba. Hari ini  saya persembahkan untukmu Bapak.
Sesaat setelah menerima ijazah (Andam, 2014)

Senin, 17 Maret 2014

Penglepasan Wisuda

Hari ini saya pun resmi menjadi alumni Pascasarjana Universitas Jenderal Soedirman dengan gelar M.Si. Malam ini, tepatnya pukul 19.00 WIB saya dengan ditemani ibu pun menghadiri acara Penglepasan Wisudawan Program Pascasarjana ke-44 Universitas Jenderal Soedirman. Alhamdulillah saya berhasil lulus kurang dari 2 tahun, tepatnya 1 tahun 10 bulan. Rasanya Cukup terharu saat nama saya dipanggil untuk menerima sertifikat penghargaan karena telah berhasil lulus dengan predikat Dengan Pujian (Cumlaude) dan berhasil meraih IPK di urutan ke-7 besar dari 56 wisudawan. Ya dengan bangga, ibu menyaksikannya. Seandainya Bapak masih ada pasti beliau juga turut bersama kami. Semoga engkau menyaksikan malam ini dari Syurga sana.
Saat menerima sertifikat penghargaan (Andam, 2014)

Bersama Ibu Direktur Pascasarjana dan Bapak Ketua Prodi Ilmu Lingkungan (Mulyana, 2014)
Aku dan Ibu (Andam, 2014)