Senin, 28 Mei 2012

My Parent, You are My Inspiration


Kalau orang bilang idolanya adalah presiden atau artis ternama, namun tidak denganku. Bapak dan Ibukulah idolaku. Mereka adalah inspirasi yang nyata dalam kehidupanku.
Bapak dan Ibuku asli Pemalang. Bapak dan Ibuku berasal dari keluarga sederhana yang pas-pasan. Waktu kecil bapak adalah seorang penggembala itik. Bapak sering pergi ke berbagai tempat untuk menggembalakan itiknya, terutama saat musim panen tiba dengan tumpukan jerami sebagai alas tidurnya. Adapun ibu, sebagai anak pertama dari delapan bersaudara juga tak kalah susah dengan bapak. Ibu harus mencari kayu bakar terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah.
Ketika lulus sekolah dasar, bapak pun melanjutkan ke sekolah salafiyah. Bapak termasuk siswa yang pintar. Namun orang tuanya tidak dapat membiayai sekolah bapak lagi. Sehingga setelah menamatkan diri dari salafiyah, bapak pun tidak langsung melanjutkan ke sekolah menengah atas. Keinginan bapak untuk sekolah sangat kuat sehingga akhirnya bapak pun nekat kabur dari rumah menuju ke Bandung hanya dengan membawa uang untuk ongkos saja.
Sesampai di Bandung Bapak pun bekerja serabutan, jadi kuli bangunan dan bekerja di percetakan. Setelah dua tahun barulah bapak bisa melanjutkan sekolah ke SMA Islam Bandung. Kesibukan bapak bekerja tidak membuatnya malas dalam belajar, bapak pun termasuk peringkat 5 besar di kelas. Sambil sekolah bapak pun berjualan minyak tanah keliling di sore harinya.
Dari hasil penjualan minyak tanah keliling inilah bapak akhirnya bisa melanjutkan ke perguruan tinggi, yaitu di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada jurusan pertanian. Sambil kuliah bapak pun tetap bekerja, namun kali ini bapak menjadi penjual asongan. Hal itu menarik perhatian salah seorang dosen yang kemudian mengangkat bapak sebagai anaknya.
Sudah lebih dari sepuluh tahun bapak kabur dari rumah tanpa kabar berita dan membuat orang tuanya di Pemalang menganggap bapak hilang. Namun kabar itu berubah saat orang tua bapak menerima surat undangan untuk menghadiri acara wisuda bapak. Betapa bahagianya mereka menyaksikan anaknya di wisuda, apalagi bapak adalah orang pertama di desanya yang meraih gelar sarjana. Setelah wisuda bapak pun langsung diangkat menjadi PNS dan ditempatkan di STM Pertanian 1 Pegasing, Aceh Tengah.
Di STM Pertanian 1 Pegasing, Bapak adalah salah satu guru pioner di sana. Bapak pulalah yang memprakarsai pembangunan musholah di komplek sekolah yang luasya + 36 hektar itu. Bapak pulalah yang memprakarsai pembangunan masjid di Desa Wihnareh, desa dimana komplek berada. Kemampuan bapak menjadi khatib dan imam sejak kuliah membuatnya menjadi salah seorang tokoh agama di komplek dan desa Wihnareh ini. Bapak juga membuka Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di komplek, Bapak pun berhasil membawa TPA ini sampai ke tingkat Provinsi Aceh dan menjadi koordinator TPA se-Kecamatan Pegasing. Bapak begitu punya nama di sana, sehingga banyak orang yang keberatan dengan kepindahan Bapak ke Jawa di tahun 2000, bahkan mereka berani menjamin kehidupan bapak di sana.
Bapak juga merupakan orang ndeso yang bisa ke luar negeri. Bapak pernah pergi ke Taiwan selama 1 tahun pada saat ibu mengandungku di tahun 1988. Bapak berhasil lolos seleki ditingkat provinsi dan nasional sehingga bisa mengikuti penataran di sana.
Kisah ibu juga tidak kalah menarik. Setelah lulus SMP orang tuanya juga tidak sanggup membiayai sekolah ibu lagi. Ibu ingin terus sekolah agar bisa menjadi contoh buat ketujuh adiknya. Ibu pun merantau ke Jakarta ikut sanak famili di sana. Meski ikut sanak famili, ibu pun tidak enggan untuk membantu mengurusi pekerjaan sehari-hari layaknya pembantu. Namun, ibu tetap diizinkan untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Selama 4 tahun ibu di Jakarta dan setelah itu pulang ke Pemalang dan menikah dengan bapak.
Bapak dan ibuku orang yang ulet. Bapak dan ibu memiliki banyak adik, mereka pun ingin agar adik-adiknya sukses sehingga uang gaji bapak setiap bulan di kirim ke Jawa untuk membiayai sekolah adik-adik mereka. Untuk memenuhi kebutuhan kami sendiri, bapak pun membuka usaha peternakan ayam dan pembibitan kopi. Sedangkan ibu, ia berdagang sepatu dan pakaian di sekolah-sekolah. Aku dan mba puput juga sering membantu mengambil telur-telur ayam di peternakan dan mengisi polibek di pembibitan kopi, kami pun tak enggan untuk membantu bapak mencangkul di kebun, walau pun kami masih kecil. Alhamdulillah semua usaha ini berjalan lancar dan terkenal di Kecamatan Pegasing.
Kini sudah 12 tahun kami tinggal di Jawa, namun bapak sendiri tinggal di luar kota dan pulang ke Pemalang seminggu sekali. Kehidupan tanpa sosok bapak sehari-hari di rumah membuat istri dan anak-anaknya harus hidup mandiri, meski pun kami semua perempuan. Bapak dan ibu selalu mengajarkan kami untuk hidup mandiri tidak bergantung sama orang lain. Ya... aku ingin seperti mereka, aku ingin bisa ke luar negeri mengikuti jejak bapak, aku ingin selalu membuat mereka tersenyum bahagia, aku juga ingin menjadi sosok seorang ibu yang mampu mendidik anak-anaknya dengan baik.

Belajar Kebudayaan, Seni, dan Toleransi


Kehidupan yang telah kujalani selama lebih dari 23 tahun ini telah memberikan pengalaman dan pelajaran yang penting tentang nilai-nilai kebudayaan, seni, dan toleransi.
Waktu kecil kutinggal di komplek perumahan dengan mayoritas penduduknya adalah pendatang. Kami berasal dari berbagai daerah, seperti Medan, Padang, Jakarta, dan Jawa. Belum lagi waktu itu aku tinggal di Takengon, Aceh Tengah. Hal itu membuatku sedikit tahu tentang kebudayaan mereka.  Meski kami berasal dari daerah yang berbeda namun kami tak enggan untuk saling bergotong royong, misalnya saat pembangunan mushollah dan hajatan. Budaya gotong royong ini benar-benar kurasakan di sana. Ada cerita menarik disini yang terus kuingat adalah ketika ibuku mengalami pendarahan selama 2 bulan dan tidak bisa bangun dari tempat tidurnya, para tetanggalah yang mengurusi aku yang baru 4 tahun dan kakakku yang baru masuk sekolah dasar. Kemudiaan saat kelahiran adikku, para tetangga pulalah yang menyiapkan acara syukurannya. Maklumlah, kami tak punya sanak saudara di sana.
Karena aku tinggal di Aceh, Aku pun jadi tahu sedikit tentang kesenian di sana yang kunikmati secara langsung, seperti Kesenian Didong, Tari Saman, serta Lagu Bungong Jeumpa dan Bungong Selanga. Bahkan sampai sekarang aku masih hafal lirik lagu Bungong Jempa karena dulu sering menyanyikannya bersama teman-teman.
Seiring kepindahanku ke Jawa, aku pun mulai belajar budaya dan kesenian Jawa. Susah memang tapi aku terus berusaha keras meski sampai sekarang masih banyak budaya dan kesenian Jawa yang belum kuketahui, padahal sudah 12 tahun aku di Jawa. Dari belajar itu aku jadi tahu, kalau bahasa Jawa lebih kaya dari pada bahasa Indonesia, bahkan Indonesia sendiri juga tidak punya huruf khas Indonesia sedangkan Jawa punya aksara Jawa. Belum lagi keseniannya yang seabrek, ada wayang, sintren, karawitan, dan tembang macapat, tarian Jawa, dan lain-lain. Untuk wayang aku belum pernah nonton secara langsung sama sekali, keinginan sih sudah dari dulu tapi belum kesampaian. Kalau sintren juga baru nonton beberapa hari yang lalu di desa tetangga. Karawitan sih lumayan sudah sering liat. Untuk tembang macapat juga sudah pernah dengar, tapi sampai sekarang belum bisa menyanyikan 1 pun tembang macapat, bahkan membedakan jenis-jenisnya saja belum bisa. Sedangkan tarian Jawa, aku dulu pernah belajar waktu SMA, yaitu tari Gambyong, namun pas penilaian tetap saja remidi, padahal sudah latihan berkali-kali. Hehe.... malu ya...
Saat duduk di SMA aku pun mulai belajar untuk bertenggang rasa dengan umat agama lain. Aku yang berasal dari Madrasah Tsanawiyah pun tidak mengalami kesulitan ketika berteman dengan teman yang Katholik dan etnis China yang Kristen. Bahkan kami sering pulang bersama karena rumah kami satu tujuan. Di kelas pun aku tak enggan berdiskusi seputar agama mereka untuk menambah pengetahuan dengan menjaga batas-batas tertentu tentunya.
Saat masuk kuliah pun aku juga harus berteman dengan teman yang Katholik. bahkan saat Praktik Pengalaman Lapangan aku pun harus satu kos dengannya selama 3 bulan. Tak ada masalah bagiku. Aku pun jadi lebih tahu kehidupan mereka. Dan kini aku juga memiliki teman yang beragama Hindu yang berasal dari Lombok, bahkan kami juga tinggal satu kos. Ini juga membuatku belajar banyak tentang budayanya dan sikap toleransi.

Selasa, 01 Mei 2012

"EMBER Class"


Berbicara “Ember Class” otomatis berbicara I-MHERE Class  Biologi UNNES angkatan 2007. Kelas ini dibiayai oleh I-MHERE sehingga disebut I-MHERE Class. I-MHERE Class adalah kelas unggulannya program studi Pendidikan Biologi UNNES. Katanya sih kelas internasional gitu. Tapi anak-anak di kelas ini lebih sering menyebut dengan “Ember Class”. Disebut demikian karena anak-anak dikelas ini cerewet, kritis, dan rame layaknya ember. Mereka juga berani memprotes dosen secara terang-terangan, berani ngomongin dosen juga. Nonton video pake LCD proyektor, ada Prince dan Princess. Ada aja deh tingkahnya….
Meski katanya kelas internasional, tapi prasarananya sama aja dengan kelas reguler lainnya. Ketika lulus pun izajah kami tak ada bedanya. Tapi, mereka dapat kemampuan yang lebih dalam banyak hal. Hmmm... sok tau banget ya.
Kelas ini berdiri sejak aku semester 5, tepatnya pada tahun 2009. Aku adalah salah satu dari personil “Ember Class”. Pembelajaran di kelas ini berbeda dengan kelas regular biasa, terutama dalam pembelajarannya yang bilingual, Inggris-Indonesia. Hmmm…. Ga semua anak yang masuk kelas ini bisa bahasa Inggris lho. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak yang confident, meski bahasa Inggrisnya pas-pasan. Saat presentasi ataupun mengerjakan tugas seringnya in English. Seringnya sih kami ga mudeng juga. Hehe….. kebanyakan dari kami berpikir kelas ini adalah kelas motivasi untuk meningkatkan kemampuan English kami.
Sesuai dengan kelasnya, saat PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) pun, kami diterjunkan di sekolah RSBI. Kebayang donk, pembelajaran di RSBI kaya apa. Pake bahasa Indonesia aja ga mudeng, apalagi bahasa Inggris, otomatis harus mengulang berkali-kali biar para siswa paham.
Para Personil "Ember Class"

Kelas ku adalah angkatan yang pertama ada I-MHERE Class. Jumlah semua mahasiswa di kelas ini ada 33 orang. Uniknya lagi, dari 33 orang mahasiswa cowoknya hanya 2 orang, udah itu, nama mereka juga mirip cewek, Dasa Novi dan Upik Dwi. Hahaha…. Sampai bulan April 2012 masih ada beberapa dari mereka yang masih setia dengan dosen-dosennya, sehingga masih setia juga nungguin kampus UNNES tercinta. Mereka yang udah lulus kini beragam profesinya, seperti Nurin dan Ayu yang sedang hunting beasiswa S2 ke Australia dan juga mengajar di Neutron, Upik yang melanjutkan S2 UGM, Ova yang melanjutkan S2 UNS dan mengajar di SD Islam di Solo, Marta yang melanjutkan beasiswa S2 UNDIP, Fista yang udah ngajar di MTsN Jepara dan menikah dengan pengusaha ukiran Jepara, Azijah yang mengajar di SMA Semesta Semarang, Putri yang menjadi guru SMP Semarang, Anis yang mengajar di Primagama Pemalang, Tina yang mengajar di Primagama Wonogiri, Zubed dan Novi yang mengajar di Aceh ikut program 3T Pemerintah, Fitri yang ikut KKT, Lutfi yang jadi guru privat, serta aku sendiri yang melanjutkan S2 di UNSOED sambil mengajar di Ganesha Operation.
Demikian sekilas tentang “Ember Class”. Buat teman-teman yang lain aku tunggu kabarnya. Buat yang belum lulus ayo terus semangat. Aku yakin kalian pasti bisa. Boleh tuh, 10 atau 15 tahun lagi kita reunian, pasti seru deh, apalagi kalo ngajak keluarga kita. Mohon maaf  ya bila ada kesalahan penulisan nama dan profesi. Hahaha….. kayak kartu undangan aja. Sukses buat kalian  ^_^

Rabu, 25 April 2012

Semua itu Tidak Salah


Banyak yang bilang aku salah masuk jurusan Ilmu Lingkungan.

 “Andam, kamu itu cocoknya jadi guru, kayanya kamu salah jurusan dech”, kata-kata yang sering kudengar dikelas.

 Tapi apakah itu benar??? Hmmm, ga salah tapi juga ga benar. Memang terkadang aku juga sempat mikir kaya gitu. Tapi Siapa bilang aku salah masuk, ingat! Pendidikan itu luas ga Cuma jurusan pendidikan.  Aku selalu ingat pesan Pak Tyas:

 “ Ketika kamu ambil S2 nanti jangan Cuma berpikir ngambil Magister Pendidikan, kamu boleh ngambil yang lain, tapi semuanya harus dipandang dari sudut pendidikan sehingga masih sinkron dengan S1 kamu yang pendidikan.” 

Nah perkataan itulah yang sekarang jadi pegangan aku. Meski aku sekarang ngambil Magister Ilmu Lingkungan dan bergaul dengan orang-orang lingkungan, aku selalu berusaha memandang lingkungan dari sudut pendidikan. Lulusan ilmu lingkungan juga ga harus jadi konsultan lingkungan untuk mendapatkan uang banyak, jadi pendidik pun bisa. Sebagai contoh, salah seorang guruku mendapat bayaran Rp 200.000/Jam ketika memberikan jam tambahan olimpiade. Contoh lain: salah seorang rekanku yang baru saja lulus S1 mendapat bayaran Rp 100.000/3 jam ngajar olimpiade. Ya meski penuh dengan perjuangan. Tapi ingat! Pendidik adalah pahlawan tanpa tanda jasa dan ilmunya terus mengalir di dunia dan akhirat.

Minggu, 08 April 2012

Bersepeda


7 April 2012
Pagi ini aku kembali bersepeda menghirup udara segar sembari keliling mengitari jalan-jalan di Purwokerto. Ini adalah ketiga kalinya aku bersepeda sejak menginjakkan kaki di kota SATRIA ini. Untung saja ada seorang teman baik hati yang mau meminjamkan sepedanya kepadaku. Maklumlah, belum ada budget buat beli kendaraan ramah lingkungan ini. Berkat bersepeda kini aku sudah tahu beberapa jalan dan tempat di Purwokerto, seperti Jl. Soeparno, GOR Satria, Jl. HR. Bunyamin, Jl. Jend. Sudirman, Jl. Kampus, Jl. Soeharso, Hotel Aston, Jl. Dr. Angka, dan Jl. Karangkobar. Belum banyak memang, tapi setidaknya aku sudah tahu beberapa.
Bersepeda itu selain sehat juga melatih kita hidup sederhana. Karena alasan itu, bapak membiasakan kami selaku anak-anaknya untuk bersepeda sejak kecil. Bahkan sepeda adalah kendaraan favorit bapak. Aku masih ingat saat kecil dulu aku selalu diantar bapak menuju sekolah TK dengan sepedanya. Bapak tak pernah lelah meski harus mengayuh sepeda sejauh 3 Km dengan jalan yang naik turun. Aku juga masih ingat benar saat bapak tetap mengantarku sekolah meski ban sepedanya sangat kempes dan harus melalui tanjakan yang sangat terjal. Aku tak pernah malu ketika teman-temanku yang lain telah diantar dengan sepeda motor mereka, aku justru bangga dengan kesahajaan bapakku. Bukan berarti bapak tak mampu untuk membeli sepeda motor, tapi karena beliau lebih memilih untuk menyisihkan sebagian pendapatan keluarga kami guna membiayai sekolah adik-adik ibu dan bapak di Jawa.
Bapaklah orang yang pertama kali memiliki sepeda di komplek tempat kami tinggal, ini pun menjadi ciri khasnya di kalangan warga komplek. Saat ku kecil, teman-temanku pun banyak yang ikut-ikutan membeli sepeda seperti keluarga kami. Aku pun senang karenanya sehingga akan semakin banyak teman untuk bersepeda.
Kebiasaan bersepeda terus berlangsung hingga kini. Setiap akhir pekan biasanya bapak akan mengajak anak-anaknya untuk bersepeda mengitari Pemalang, seperti ke pantai ataupun ke desa-desa. Bahkan bapak sendiri seringkali bersepeda ke luar kota seperti Pekalongan, Tegal, Brebes, dan sampai ke Jawa Barat.
Ayo teman-teman, jangan sungkan-sungkan mencoba ya!!!

Rabu, 28 Maret 2012

Donan River and Nusakambangan Island

25 Maret 2012
Senang rasanya bisa menginjakkan kaki di pulau selatan Pulau Jawa ini, yaitu di Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap. Perjalananku kali ini adalah dalam rangka survei tugas mata kuliah Tata Ruang dan Pengembangan Wilayah bersama dengan teman-teman Magister  Ilmu Lingkungan, UNSOED.
Pukul tujuh pagi kami berangkat meninggalkan kampus UNSOED. Perjalanan menuju Sungai Donan-Cilacap kami tempuh selama satu setengah jam. Waktu yang singkat ini kumanfaatkan untuk melihat-lihat pemandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya, seperti Sungai Serayu yang lebar dan perbukitan disekitarnya, Bendungan Gerak Serayu, Pabrik Holcim, dan Pertamina.
Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah kampung nelayan dibantaran Sungai Donan. Dengan menyewa perahu kami pun berkeliling mengitari Sungai Donan untuk melihat langsung dengan dekat jala apung para nelayan disekitar pabrik Holcim dan Pertamina. Inilah objek permasalahan utama yang kami angkat. Jala apung yang dipasang nelayan di Sungai Donan seringkali mengganggu kapal tongkang Holcim dan Pertamina yang melintas. Sehingga tidak heran jika sering timbul permasalahan diantara nelayan dan Holcim ataupun Pertamina. 
Pulau Nusakambangan terlihat dari perahu
Pabrik Holcim yang terlihat dari perahu

Pertamina terlihat dari perahu
Puas mengitari Sungai Donan dengan pohon bakau di kanan kirinya, perahu pun berputar arah menuju Pulau Nusakambangan. Antara Pulau Nusakambangan dengan Pulau Jawa hanya dipisahkan oleh laut yang tidak terlalu lebar, hanya seperti sungai yang sangat lebar. Dari perahu kami bisa melihat Pabrik Holcim dan Pertamina dengan dekat, termasuk kapal-kapal tongkang yang sedang berlabuh ataupun bersandar disekitar pabrik. Kami juga disuguhi pemandangan hutan Nusakambangan yang masih hijau lebat. Dari kejauhan kami juga bisa melihat menara pantau dan pintu masuk menuju Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan. 
Berfoto di atas perahu
Setelah satu jam lebih kami di perahu, sampailah kami di pintu masuk objek wisata pasir putih disebelah timur Pulau Nusakambangan. Setelah membeli tiket seharga Rp 3.500,-/orang, kami pun mulai berjalan menuju benteng peninggalan Portugis yang ada di pulai itu. Setelah sempat mengambil beberapa gambar, barulah kami menuju ke pantai pasir putih. Hmmm........... pantainya lumayan menarik, tidak jauh beda dengan pantai Pulau Panjang, Jepara. Asyikya menikmati makan siang disini sambil melihat pemandangan pantai yang masih natural. Kamera yang dibawa pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil berbagai gambar yang menarik. Para orang-orang udik ini pun tidak mau kalah untuk menjadi model bidikan kamera. Hahaha....... lumayan bisa refreshing dari rutinitas yang terkadang membosankan.

Pantai Pasir Putih, Nusakambangan
Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang dan sudah saatnya kami kembali ke daratan Pulau Jawa dengan menggunakan perahu yang tadi kami sewa. Perjalanan selama satu setengah jam di perahu dimanfaatkan oleh beberapa teman untuk tidur beristirahat. Apalagi semilir angin diperjalanan membuat mereka mengantuk. Namun, rasa kantuk ini tetap kutahan demi bisa menikmati pemandangan yang tidak biasa ini.
Sampai di daratan pulau Jawa kami pun langsung pulang menuju Purwokerto. Perjalanan hari ini cukup mengesankan. Many experience I’m get today. Good Bye Cilacap..... See you next time... ^_^

Rabu, 11 Januari 2012

Takengon, Canada-nya Indonesia


Ketika membuka FB-Q pasti teman-teman akan terheran-heran kenapa aku mencantumkan Takengon, Aceh Tengah sebagai kota asalku? Seperti yang tercantum dalam catatanku yang lalu pada point no 11, aku pernah tinggal di kota ini selama lebih dari 10 tahun, tepatnya 10 tahun 11 bulan, 15 hari, sejak aku bayi. Meski akupun pernah tinggal di sini, namun sebenarnya aku bukan berasal dari kota ini, namun aku berasal dari Pemalang, Jawa Tengah dimana dulu aku dilahirkan. Masa kecil yang bahagia di tempat ini sangat berarti sekali dalam kehidupanku dan aku pun tidak ingin melupakannya sehingga aku mencantumkannya sebagai kota asalku.
Di Takengon aku tinggal di komplek STM Pertanian 1 Pegasing, Aceh Tengah. Komplek sekolah yang kutinggali ini bukan sembarang komplek sekolah pada umumnya karena luas sekolahan ini mencapai + 36 Ha. Di dalam komplek ini terdapat bangunan-bangunan sekolah yang diperindah dengan taman-taman bunga di halamannya. Satu jurusan di sana bagaikan satu fakultas perguruan tinggi. Sebagai contoh, jurusan peternakan selain terdapat ruang kelas dan gudang penyimpanan pakan, juga dilengkapi dengan lahan untuk menanam rumput dan kandang-kandang ternak yang lengkap dengan hewan-hewannnya, seperti sapi, kerbau, ayam, burung puyuh, burung merak, dll. Bagaikan kebun binatang deh pokoknya. Beda lagi dengan perpustakaannya, konon katanya saat itu, perpustakaan di STM ini adalah perpustakaan sekolah terbesar se-Provinsi Aceh. Sekolahan ini juga mempunyai 2 lapangan sepak bola, 1 lapangan basket, 1 lapangan tenis, 1 lapangan takraw, dan beberapa lapangan voli. Di komplek ini juga terdapat perumahan guru dan asrama putra-putri. Setiap guru juga di berikan hak untuk mengelola tanah di halaman depan dan belakang rumahnya untuk berkebun. Bukan hanya itu, selain berbatasan dengan pemukiman warga, sekolahan ini juga berbatasan langsung dengan sungai dan perbukitan, dimana tempatku berpetualang bersama teman-temanku layaknya si Bolang. Sudah kebayangkan luasnya sekolahan ini???
Saat hari libur tiba, aku bersama mbaku mba Puput dan teman-temanku seperti Galih, Miga, Laras, dan Febry akan pergi bermain ke Bukit ini menuju rumah teman kami di atas sana yang bernama kak Nani. Kak Nani akan mengajak kami berkeliling kebun kopinya, memetik buah biwa, dan menebang pohon bambu untuk kami jadikan obor. Cukup lama kami bermain-main di atas sana dan pulangnya kami akan singgah di sungai untuk berenang. Setelah itu barulah kami pulang ke rumah. Sungai ini juga berperan penting bagi masyarakat komplek. Ya komplek sering kekurangan air, bahkan air ledeng yang berasal dari pegunungan sering kali tidak mengalir sehingga kami harus mandi dan mencuci di sungai ini.
Aktivitas sehari-hari kami biasanya kami habiskan untuk bersekolah di SDN Wihnareh dan mengaji di Mushola Al-Furqon. Di sekolah, teman-temanku juga tidak jauh berbeda dengan teman bermain dan mengaji di rumah. Mereka adalah Agri yang suka bawa kue bawang dan cari bibit tumbuhan, Nova yang punya banyak burung dan kadang kesiangan, Hafidz si ketua kelas, Laras yang tomboy, si kembar Nyakna-Nyakni, Bang Miga yang selalu ingin tau, dll. Hahaha… mereka unik ya… Di sekolahan aku tergolong siswa yang pinter, bukan sombong lho ya… setiap pembagian rapot nilai-nilaiku selalu jauh di atas rata-rata sehingga aku selalu meraih peringkat satu. Namun sayang, aku hanya dapat bersekolah di sana sampai pertengahan kelas lima. Adanya referendum Aceh dan GAM membuat keluargaku yang asli jawa harus kembali ke Jawa demi keamanan.
Mushola Al-Furqan yang terletak di tengah komplek ini juga memberiku banyak kenangan. Sepulang sekolah kami biasanya langsung berangkat ke Mushola untuk mengaji pada pukul 13.30 WIB. Sambil menunggu ustadz dan ustadzah datang, kami akan bermain-main di halaman mushola yang sangat luas. Kami akan bermain sepak bola, lompat tali, patok lele, atau pun hanya sekedar duduk-duduk saja di bawah pohon cemara yang rimbun. Saat ustadz dan ustadzah datang, kami pun mulai mengaji. Tidak hanya mengaji, berbagai hal juga kami pelajari di sini, seperti kaligrafi, menggambar, bahasa Arab, bahasa Inggris, terjemah lafdziah, psikotes, olah raga, dan lain sebagainya. TPA yang baru seumur jagung ini juga terbilang sukses di tingkat kabupaten Aceh Tengah dan juga pernah mengikuti festival di tingkat provinsi. Sehingga banyak TPA-TPA lain yang mengacungi jempol kepada TPA kami. Yang mendirikan TPA ini adalah kedua orang tuaku. Namun sayang, dengan hijrahnya kami ke Jawa, aktivitas di TPA ini juga ikut mati. Sedih rasanya ketika mendengar dari teman-temanku di sana ketika mereka bilang kalau Mushola yang kecil itu kini sangat sepi sekali, tak ada aktivitas apapun di sana, bangunan kelas di sampingnya juga sudah di bongkar.
Sudahlah… sejenak mari kita lupakan cerita yang memilukan di atas. Sekarang giliran aku cerita tentang keindahan Takengon, Aceh Tengah, para pembaca pasti dah nunggu dari tadi kan??? Hehe….
Takengon, adalah salah satu kota di Provinsi NAD. Nama kabupatennya adalah Aceh Tengah karena terletak di tengah provinsi Aceh. Karena letaknya yang di tengah maka tidak heran jika Takengon merupakan daerah pegunungan dengan gunung tertinggi adalah gunung Geurodong dan Burni Telong. Suhu di daerah ini sangat dingin sekali, di pagi hari kabut juga cukup tebal. Penglihatan hanya radius beberapa meter saja. Dulu aja, setiap berangkat sekolah aku selalu mengenakan jaket. Daerah ini adalah daerah pertanian dengan banyaknya perkebunan kopi dan holtikultura di sini.
Yang paling menarik dari kota ini adalah adanya sebuah danau yang luas di antara perbukitan. Danau itu adalah Danau Laut Tawar. Dinamakan laut tawar karena bentuknya yang seperti laut namun airnya tawar. Selain pemandangannya yang indah, di sekitar danau ini juga ada beberapa gua yang terkenal dengan legendanya, seperti gua “Putri Pukes” dan “Layang Koro”, selain itu juga terdapat hotel berbintang ditepi danau, yaitu hotel Renggali. Kita bisa menyewa perahu untuk berkeliling danau ini atau pun hanya bermain-main saja di tepinya. Di danau ini juga terdapat ikan endemik yang tidak terdapat di tempat lain, yaitu ikan depik. Masyarakat sekitar juga mempercayai akan adanya makhluk “gulung tikar” di dalam danau ini yang sewaktu-waktu bisa mencengkeram manusia untuk di jadikan mangsanya.
Keindahan alam danau ini tentu saja menarik minat wisatawan asing untuk datang. Sehingga tidak heran apabila melihat banyak turis di sana. Orang Aceh bilang katanya Takengon adalah Canada-nya Indonesia. Yach, katanya mirip dengan Canada di benua Amerika. Memang cukup unik ya Indonesia, selain punya Bandung sebagai Paris van Java, juga punya Canada van Sumatera. Haha…. ^_^