Rabu, 23 September 2020

Kisah 13: Mengaji dan Misteri Kamar Mandi

 

Setelah makan dan menunaikan sholat dzuhur aku kemudian bersiap-siap untuk berangkat mengaji bersama Puput di Mushallah Al-Furqaan. Pengajian di mushallah ini sebenarnya bermula dari pengajian kecil yang diadakan di rumah kami setahun lalu yang digelar setiap habis sholat maghrib. Waktu itu hanya ada 6 orang saja santri bapak yaitu aku, Puput, Kak Titi, Kak Iin, Cecek Kak Titi, dan Bang Miga. Saat itu di komplek kami belum ada tempat mengaji. Dengan sukarela bapak menggelar pengajian kecil-kecilan di rumah kami atas usul orang tua mereka. Pengajian pun digelar di bebalen sederhana yang ada di bagian belakang rumah kami.

Hampir setiap rumah di Aceh Tengah ini mempunyai bebalen (bale-bale) yang berbentuk panggung, terbuat dari papan. Hal ini dimaksudkan agar tak langsung menyentuh permukaan tanah yang dingin. Bebalen ini merupakan tempat yang serba guna. Biasanya digunakan untuk tempat duduk-duduk bersama keluarga, tempat menonton TV, tempat makan, tempat sholat, tempat belajar, tempat menyambut tamu, bahkan juga dimanfaatkan untuk tidur bersama anggota keluarga. Karena terbuat dari papan maka rasanya pun hangat. Apalagi bebalen ini biasanya terletak bersebelahan dengan dapur, tanpa adanya tembok pembatas.

Ternyata pengajian di rumahku itu tersebar luas di kalangan warga komplek. Mereka pun pada berminat untuk memasukkan anaknya menjadi santri bapak. Tentu saja rumahku tak muat dengan banyaknya santri baru. Maka sejak aku kelas 1 SD, pengajian yang tadinya digelar dirumahku sekarang pindah ke mushallah ini atas usulan para orang tua santri. Waktu mengaji pun di rubah, yang tadinya malam hari sekarang siang hari sepulang sekolah. Sekarang santri bapak sudah lebih dari 30 orang yang merupakan anak-anak guru STM Pertanian Pegasing.

Mushallah ini berjarak sekitar 100 meter dari rumahku. Aku dan Puput pun berjalan menyusuri jalan setapak ditengah-tengah rumput teki. Sebenarnya enak sekali berlari di jalan ini karena bebas dari kendaraan yang lalu lalang. Jalannya yang tidak rata dan dipenuhi rerumputan membuat sang pemilik kendaraan malas melaluinya. Namun kami memilih berjalan kaki saja untuk menghindari ranjau rumput yang sering kali ada. Rumput teki setinggi lutut ini memang gampang sekali untuk diikat dengan sesamanya, kami pun akan terjatuh jika telapak kaki ini masuk ke lubangnya. Ini adalah ulah anak-anak usil yang kurang kerjaan, ya aku juga pernah melakukannya. Gemes rasanya melihat rumput teki yang begitu lebat. Hehe.. Tak jarang juga kami bermain di jalan ini, termasuk tidur-tiduran karena begitu empuknya. Kami tak takut akan bahaya ulat ataupun ular yang masih sering kami jumpai di komplek.

Aku dan Puput masih terus berjalan. Jalanan itu terlihat sepi, tak ada rumah di kanan-kirinya, yang ada hanyalah kebun kopi milik warga komplek dan kebun tebu milik STM yang tak terurus. Setibanya kami di mushallah, baru ada beberapa anak. Tanpa pikir panjang, segera kami ambil satu bangku panjang yang menumpuk bersama bangku-bangku panjang lainnya. Sebuah bangku panjang itu lantas kami letakkan di depan papan tulis. Kami sangat suka sekali duduk di depan papan tulis karena dengan begitu kami bisa menulis dengan lancar tanpa ada yang menghalangi kami. Kami juga dapat mendengar suara sang ustadz dengan jelas.

Selain mengaji, sang ustadz yang juga ayah kami sangat pintar sekali dalam menyanyi dan memberi tebak-tebakan. Suaranya memang tak sebagus Maher Zein, Opick, ataupun Haddad Alwi, tapi ia mampu menghibur kami. Kami selalu diminta menirukannya dan akan dilombakan antara santri putra dan santri putri.

“Osaka Osaka my favorite

Osaka Osaka sit down please!”

Itulah salah satu lagu yang diajarkannya pada kami. Lagu itu ia peroleh dari mimpinya. Bukan hanya lagu ini saja, seringkali ia memperoleh hal-hal baru berdasarkan mimpi-mimpinya dalam tidur. Mungkin seperti mendapat ilham.

Tak sampai pukul 2 siang, mushallah pun mulai ramai. Masih cukup lama juga kami masuk. Sudah menjadi rahasia umum kalau kami berangkat mengaji juga untuk bermain. Seperti siang ini, sambil menunggu para guru ngaji kami datang kami bermain-main di bawah rindangnya pohon pinus yang ada di halaman mushallah. Kami bermain apa saja, lompat tali, patok lele, serimbang, bahkan juga bola kasti dan bola tendang.

Tiga puluh menit kemudian bapakku dan ibuku datang, merekalah guru mengaji kami. Bu Nil, guru mengaji yang baru juga datang tak lama kemudian. Mulailah kami mengaji, mengucap do’a mau belajar sebagai pembuka. Bapak mulai menuliskan tugas yang harus kami tulis di papan tulis. Tentang ilmu tajwid tampaknya. Ilmu tentang bagaimana caranya membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Bapak mulai menjelaskannnya dengan suara yang nyaring, dengan semangat yang menggebu-gebu. Padahal, beliau baru saja balik mengajar dari SMA 1001 dan belum sempat pulang ke rumah.

SMA 1001 ini sangat jauh sekali dari komplek, lebih dari 10 km. Untuk menuju ke sana bapak pun harus menaiki mobil toa sebanyak dua kali. Sudah pasti bapak sangat lelah, belum lagi perutnya yang belum terisi makanan siang ini. Tetapi, bapak tak menunjukkan itu semua dihadapan kami para santri-santrinya, beliau tetap mengajar dengan penuh semangat. Hanya aku dan Puputlah yang dapat mengerti kelelahan bapak.

Hari ini hari pertamaku membaca Al-Qur’an setelah aku menyelesaikan membaca Iqra jilid 1 hingga 6 ditambah dengan Juz Amma selama 2 tahun lamanya. Tapi bukan ibu dan bapaklah yang hari ini akan mengajariku mengaji seperti biasanya, melainkan Bu Nil, orang tua Ivan.

Dengan sedikit gemetar aku membuka kitab suci yang warnanya merah jambu itu, Al-Qur’an milik ibuku. Perlahan-lahan kumulai membaca Basmallah dan dilanjutkan dengan surat Al-Fatihah dan beberapa ayat di surat Al-Baqarah. Alhamdulillah, aku berhasil menyelesaikannya dengan baik. Diantara santri yang lain, akulah santri termuda yang sudah sampai ke Al-Qur’an. Tentu saja saat itu jarang sekali ada anak kelas 1 SD yang bisa membaca Al-Qur’an dan sudah lancar dalam membaca bacaan sholat, termasuk bacaan tahiyatul akhir. Resepnya adalah bahwa di rumah aku selalu mencoba membaca apa yang akan kubaca nanti di tempat ngaji. Bapak juga seringkali memintaku membaca Surat Yaasin setiap malam Jum’at saat aku masih mengaji Iqra. Kata bapak, salah sedikit tidak apa-apa karena aku masih belajar, semakin sering aku membacanya pasti akan semakin lancar. Semboyan “Bisa karena terbiasa” memang benar adanya.

Sekitar pukul 4 sore para guru ngaji itu sudah selesai mengajar para santrinya. Semua santri lantas mengambil wudhu untuk menunaikan sholat ashar berjamaah. Segera kami berjalan menuju kamar mandi yang berjarak sekitar 100 meter dari Mushallah Al-Furqaan. Cukup jauh memang, hal ini harus kami lakukan karena sumber air yang mengairi empat kamar mandi mushallah telah kering sejak beberapa bulan ini, mau tidak mau kami pun harus mengambil wudhu di kamar mandi lain.

Kamar mandi yang terletak di perempatan jalan itu sangat sepi sekali, aku saja tak berani kalau ke situ sendirian. Konon katanya, kalau malam hari suka ada setan duduk di bawah pohon beringin yang ada di samping kamar mandi itu. Belum lagi, lampu bengkel yang ada di sampingnya terkadang suka kerlap-kerlip menyala mati. Aku sih belum pernah mengalaminya langsung, tapi dengarnya saja sudah ngeri. Ada juga yang bilang kawasan komplek ini dulunya adalah hutan, bahkan juga ada yang bekas kuburan, sering terjadi hal-hal berbau mistis di sini.

Cerita itu kata teman-temanku, padahal mereka sendiri belum tentu pernah melihatnya langsung. Cerita itu memang cuma “Katanya... katanya...,” dari mulut ke mulut. Memang banyak sekali versi cerita hantu di komplek ini yang masih kabar burung tentunya, termasuk juga misteri pohon nangka yang ada di salah satu sudut komplek.

Komplek tempatku tinggal ini memang sangat sepi, jumlah penghuninya tak sebanding dengan luasnya. Komplek sekolah seluas lebih dari 30 hektar ini hanya dihuni tidak lebih dari 30 kepala keluarga yang tinggal di rumah dinas. Komplek ini sangat luas sekali untuk ukuran sebuah Sekolah Teknologi Menengah (STM), bahkan luasnya melebihi kampus tempatku kuliah. STM ini terdiri dari beberapa jurusan, yaitu pertanian, peternakan, Teknologi Hasil Pertanian (THP), dan Mekanisasi Pertanian (MP). Selain itu, dikomplek ini juga terdapat perkebunan kopi dan sayuran yang luas yang dikelola oleh sekolah dan guru-guru STM. Di sana juga ada padang rumput dan semak-semak yang dibiarkan tumbuh di tanah yang tak dirawat.

Banyak murid-murid STM yang berasal dari luar daerah, seperti Aceh Tenggara, Aceh Utara, Medan, dan Jawa. Mereka pun tinggal di asrama yang telah disediakan di sekolah ini. Saat itu sekolah ini menjadi salah satu sekolah terfavorit di Aceh dengan segala fasilitas dan guru-guru yang dimilikinya. Sudah menjadi hal yang biasa kalau guru-guru di sekolah ini penataran keluar negeri seperti ke Taiwan, Belanda, Denmark, Jerman, dan Thailand. Bukan hanya sehari atau dua hari saja mereka pergi, bisa berbulan-bulan lamanya. Bapakku saja hampir setahun berada di Taiwan pada pertengahan tahun 1988 hingga awal tahun 1989. Di saat aku lahir bapak juga masih berada di negeri orang itu dan beliau pun mengirimkan nama untukku melalui surat. Kerenkan, namaku ini kiriman dari luar negeri yang sudah melampaui samudera luas dan berbagai pulau.

Ok kembali ke cerita mengajiku. Dari kejauhan terdengar suara seorang teman yang sedang mengumandangkan adzan ashar. Setelah mengambil wudhu di kamar mandi yang menyeramkan itu, aku pun bergegas kembali ke mushallah bersama teman-temanku. Segera aku mengambil mukena dan menggelar sajadah coklat milikku. Beberapa teman tampaknya tak membawa sajadah, aku pun menggelar sajadahku itu secara horizontal dan rela berbagi dengan mereka agar kami sama-sama bersujud di atas sajadah. Semua santri tampaknya telah duduk berjejer dengan rapi, bapak pun meminta salah seorang dari santri putra itu untuk mengumandangkan iqamah. Bapak kemudian memposisikan diri di depan sebagai imam kami.

“Allahu akbar!” seketika suasana pun menjadi hening, semua santri mengikuti gerak-gerik bapak. Kami mulai membaca bacaan sholat dengan pelan. Entahlah, teman-temanku ikut membaca bacaan sholat atau tidak, setahuku hanya sebagian saja dari mereka yang bacaan sholatnya telah lancar, yaitu santri-santri yang sudah kelas 3 ke atas. Sholat sudah hampir selesai, kami sudah berada dalam posisi duduk tahiyat akhir. Namun tiba-tiba kami mendengar suara yang cukup mengganggu konsentrasi semuanya, “Tut..,” suara kentut rupanya dari salah seorang santri putra. Tentu saja hal ini mengganggu yang lain, beberapa dari kami pun terdengar menahan tawa mereka, termasuk aku. Saat aku masih kelas 1 SD aku memang belum bisa khusyuk dalam sholat, bahkan sampai sekarang pun aku belum bisa benar-benar khusyuk.

Kemudian bapak mengucap salam, memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri, diikuti oleh para santri. Setelah itu pun beberapa santri tampak saling berbisik dengan teman mereka, membicarakan perihal kentut tadi. Haha... Bapak dan ibuku masih membiarkan kami saja. Baru setelah dzikir dan do’a selesai, para guru mengaji itu bereaksi.

“Siapa yang tadi waktu sholat tertawa,” kata bapak dengan keras. Semua santri pun langsung saling menunjuk temannya. Bahkan ada yang melaporkan perihal kentut tadi. Bapak tak menghukum kami ternyata. Melainkan menjelaskan kami untuk memberi kami pengertian bahwa dalam sholat berjamaah kerap kali terdapat jamaah yang membuang angin. Untuk itu jamaah lain harus bisa menahan diri mereka untuk tidak tertawa atau terpengaruh karena itu merupakan bagian dari menahan nafsu, menahan dari godaan yang dapat membatalkan sholat.

Setelah bapak memberikan pengertian kepada kami, barulah kami melipat mukena dan sajadah kami untuk bersiap-siap pulang. Kami duduk kembali dengan memangku tas kami masing-masing. Kemudian sang guru pun menyuruh kami untuk membaca do’a senandung Al-Qur’an sebelum kami pulang. Setelah bapak mengucap salam, kami pun diam membisu. Semua santri duduk seperti patung. Bapak akan menyebutkan nama santri yang duduknya paling tenang untuk pulang lebih dulu. Aku jarang sekali pulang duluan karena aku tak bisa diam seperti patung. Aku hanya berhasil pulang di urutan tengah. Haha...

***

Kisah 12: Senin Pagi dan Jualan Jajan

 

“Kukuruyuk..... kukuruyuk....!” suara ayam berkokok membangunkanku. Mereka saling sahut-menyahut satu sama lain untuk menyambut datangnya mentari pagi, sang penerang bumi.

Oh, sudah pagi rupanya. “Brrrr... dingin sekali rasanya,” gumamku seorang diri dan membuatku malas untuk beranjak dari kasur. “Ayolah De bangun sudah jam 6 ini. Kamu harus sholat subuh dan berangkat ke sekolah,” suara ibu membangunkanku, “mba Puput juga sudah bangun itu.”

Di Takengon Aceh Tengah, bagian barat dari negara ini tentu saja matahari lebih lambat terbitnya dari provinsi manapun yang ada di Indonesia. Untuk daerah Indonesia bagian timur, jam 6 mungkin sudah sangat terang sekali, untuk Pulau Jawa matahari tentunya sudah keluar menunjukkan kegagahannya. Di Aceh, ya jam 6 pagi masih gelap gulita, adzan subuh juga baru berkumandang. Ya ketika aku pindah di Jawa, beberapa hari aku sempat jet lag dengan perbedaan waktu ini.

Segera kubangkit sambil mengucek-ucek mata yang baru terbuka separuh ini, aku tak mau kalah dengan kakakku yang hanya 2 tahun lebih tua dariku. Rasa dingin membuatku ingin berlama-lama di kasur, dalam bungkusan selimut tebal rasanya memang hangat sekali. Segera kulawan rasa malas ini. Setan memang sedang menggangguku di saat subuh seperti ini. Merayu manusia agar terus tidur dan meninggalkan sholat subuh, apalagi dingin dipagi hari memang selalu terasa sampai ke tulang.

Tercium aroma kopi dari dapur yang mengalir terbawa udara pagi melalui sela-sela lubang ventilasi kamarku, sepertinya bapak sedang menyeruput kopi di bebalen. Aroma kopi memang sangat khas sekali tercium di hidung dan menggodaku untuk keluar kamar.

Kuberjalan menuju kamar mandi yang hanya beberapa langkah saja dari pintu kamarku. Kamar mandi kecil yang ada di tengah-tengah rumah kami. Hanya untuk mandi dan keperluan malam hari saja kamar mandi ini kami gunakan. Adapun untuk mencuci dan keperluan siang hari lebih sering kami lakukan di belakang rumah. Kekeringan berkepanjangan di komplek kami membuat air tak dapat mengalir ke dalam rumah. Hanya sedikit air yang keluar dari keran di belakang rumah kami. Berbeda dengan tetangga kami Bang Miga yang mempunyai sumur sebagai sumber airnya.

Perlahan kubasuh anggota tubuhku dengan air yang sedikit pula. Walau sedikit, diri ini rasanya tak tahan menahan dinginnya yang seperti es. Berada di dalam kamar mandi sama halnya berada di kulkas.

***

Dengan tas ransel dan sekantong plastik jajan aku berangkat ke sekolah dengan Puput. Aku sudah kelas 1 sekarang. Sudah jadi rahasia umum kalau aku ini penjual jajan di sekolahan. Bukan karena orang tuaku tak mampu tapi aku sendiri yang menginginkannya. Aku tak malu berjualan sambil bersekolah, justru aku malah senang melakoninya. Di saat teman-teman lain menggunakan uang pemberian orang tuanya untuk menabung, Alhamdulillah aku bisa menabung dengan uangku sendiri, hasil dari jerih payahku berjualan di sekolah. Tak tanggung-tanggung, minimal dua ribu rupiah aku memperoleh untung setiap harinya dan alhasil jumlah tabunganku setiap tahun mencapai ratusan ribu dan cukup untuk membayar ongkos bus patas bolak-balik ke Jawa. Tabunganku juga lumayan keren, saat kelas 1 sekolah dasar aku sudah membuka rekening di kantor pos dekat sekolahku. Hampir setiap seminggu sekali aku rutin mengunjungi kantor pos itu dengan buku tabungan yang berwarna kuning di tanganku, di dalamnya sudah kuselipkan beberapa lembar uang ribuan dan lima ribuan.

Tak selalu aku ini beruntung dalam berjualan, aku pernah juga mengalami kemalangan. Beberapa kali duitku hilang beberapa ribu dan tak pernah ketahuan siapa pencurinya. Aku biarkan saja, tak baik juga aku menuduh, tapi aku tak kapok berjualan. Meski aku berjualan, aku tetap berhubungan baik dengan para penjual jajan lainnya yang umumnya adalah ibu-ibu. Kadang kala aku juga membeli jajan mereka, tentunya yang tak ada dalam daftar jajan yang kujual.

Barang daganganku ini kuperoleh dari ibuku. Kami juga membuka warung di rumah, warung kelontong kecil-kecilan. Seminggu sekali dia akan ke kota untuk berbelanja memenuhi kebutuhan warung kami dan barang daganganku. Biasanya dia selalu berangkat dengan membawa dua tumpuk telur di tangan kanan dan kirinya kemudian dia pulang dengan membawa barang dagangan. Jika dia lelah dari kota, dia akan menitipkan barang dagangannya itu di Kedai Aceh yang ada di depan komplek. Maklumlah, jarak rumah kami dari jalan raya cukup jauh, sekitar 400 meter. Kasihan ibu kalau harus menenteng barang dengan tangannya di saat capek dan harus berjalan kaki pula. Malamnya bapak dan aku akan mengambilnya dengan menggunakan grek (gerobak kecil) agar lebih ringan membawanya melewati bangunan dan jalanan komplek yang sepi.

Berjualan tentu saja tak mengganggu aktivitasku di sekolah. Buktinya, aku selalu bisa menjadi nomor satu di kelas. Nilai raporku selalu di atas rata-rata kelas, bahkan dengan yang rangking 2 nilaiku jauh sekali di atasnya. Kata orang-orang kemampuanku ini setara dengan anak satu tingkat di atasku.

Orang komplek sudah seperti orang kota saja di lingkungan tempat tinggalku karena gaya hidup kami memang agak sedikit berbeda dengan masyarakat sekitar. Bahasa yang kami gunakan sehari-hari pun adalah bahasa Indonesia, berbeda dengan masyarakat sekitar yang umumnya menggunakan bahasa Gayo sebagai bahasa ibu mereka. Kami menyebut orang-orang di luar komplek kami sebagai orang kampung. Itu hanya sebutan saja, namun orang-orang komplekku ini tetap bergaul dengan masyarakat sekitar. Meski aku orang komplek, tapi aku tak malu berjualan di sekolah.

Sudah biasa aku dan kakakku berangkat pukul 06.30 pagi. Kicauan burung mengiringi langkah kami pagi ini. Kabut tebal juga masih menyelimuti komplek kami, jarak pandang kami tak lebih dari 20 meter saja. Dengan menggunakan baju seragam putih lengan panjang berlapis jaket tebal kami meninggalkan rumah. Berjalan kaki di pagi hari sudah jadi kebiasaan kami ketika berangkat sekolah. Jalan yang kami lalui cukup jauh. Kami harus melalui bangunan-bangunan Jurusan Pertanian yang dikelilingi oleh pohon kayu putih. Di ujung jalan jurusan ini kami pun akan berhenti sejenak di bawah pohon kemiri untuk mencari buah yang jatuh disekitarnya. Tak sungkan kami mengorek-ngorek di tengah rerumputan yang masih basah oleh uap air dan embun pagi demi menemukan buah kemiri. Buah berwarna coklat itu tak lantas kami bawa ke sekolah melainkan kami sembunyikan di tempat yang sekiranya tak diketahui orang lain. Cukup lumayan pagi ini, kami berhasil menemukan lebih dari lima butir buah kemiri. Dalam bungkusan plastik kecil kami pun menyembunyikannya di balik rerumputan hijau. Mencari buah kemiri sudah menjadi kebiasaan bagi kami anak-anak komplek, siapa yang cepat dia pula yang dapat. Pulang sekolah kami pun akan kembali ke pohon itu dan berebutan mencari bersama teman-teman kami yang lain. Aku tentu saja akan menambahkan buah yang baru kudapat dengan buah yang kukumpulkan pagi tadi.

Buah kemiri memang bermanfaat bagi kami sebagai pelengkap bumbu masakan. Jarang sekali kami membeli buah kemiri, kami cukup mencarinya di pohon kemiri yang ada di komplek ini. Buah itu kemudian kami hilangkan daging buahnya hingga tersisa bijinya saja yang berwarna hitam. Biji-biji itu lalu kami jemur sampai benar-benar kering. Setelah itu barulah kami pecahkan pelan-pelan dengan cara membungkusnya dalam sapu tangan. Hal ini kami lakukan agar biji putih yang dihasilkannya itu tak lari kemana-mana. Beginilah cara kami memperoleh kemiri. Kami jarang sekali membeli rempah-rempah. Kayu manis bisa kami peroleh dengan mengambil sedikit kulit kayu dari pohon kayu manis yang ada di dekat laboratorium komplek kami. Lengkuas, sereh, kunyit, dan jahe kami peroleh dari kebun kami sendiri ataupun minta ke tetangga.

Di Jurusan Pertanian ini juga ada pohon coklat. Seringkali ketika berbuah kami mengambil buah coklat ini secara beramai-ramai. Kemudian kami membelahnya dengan cara memukulkannya pada tembok beton. Kami lalu memakannya beramai-ramai pula. Kadang kala kami juga mengambil buah markisah yang tumbuh menaungi pembibitan kopi di sini. Kami hanya berani melakukan aksi kami ini di saat Jurusan Pertanian ini dalam kondisi sunyi senyap karena jika ketahuan kami pasti akan dimarahi.

Tak jarang perjalanan kami ke sekolah sedikit terganggu, makhluk berbadan coklat besar dengan moncong merah sesekali lewat dihadapan kami. Besarnya bisa sampai sebesar drum kecil. Babi memang sering kali turun ke pemukiman warga dan merusak pertanian warga, tak terkecuali di komplek kami. Seringkali aku merasa takut kalau babi itu akan mengejar kami. “Berlarilah secara zig-zag jika kamu di kejar babi,” begitulah bapak sering mengajarkan kami untuk waspada ketika babi mengejar. Tetapi untung saja, sampai aku pindah aku belum pernah di kejar hewan buas itu meskipun aku sering melihatnya.

Perjalanan kami terhenti sejenak tatkala sampai di perbatasan komplek. Pagar tembok permanen setinggi 1,5 meter dengan kawat besi di atasnya setinggi 1 meter telah menghadang kami. Lompat pagar, itulah kebiasaan kami setiap pagi saat berangkat sekolah demi memotong jalan. Tembok yang tinggi itu tentu cukup susah untuk dilalui. Untunglah dua buah batu besar sudah ditata disana dan beberapa kawat besi juga sudah dihilangkan sehingga kami pun bisa melaluinya tanpa mengalami kesulitan yang berarti. Kalau kami lewat jalan depan tentunya kami harus memutar dan akan membutuhkan waktu yang lebih lama.

Masih cukup pagi memang ketika kami berangkat sekolah, matahari saja baru terbit, jadi wajar kalau terkadang masih ada babi yang lewat. Tak jarang ketika kami sampai di sekolah pintu pun masih tertutup rapat dan kami harus rela duduk di depan kelas menunggu sang juru kunci datang. Entahlah, berangkat siang sedikit saja rasanya tak enak. Kebiasaan berangkat cepat pun jadi kebiasaanku sampai aku besar. Aku pasti menjadi yang nomor 1 sampai di kelas. Rieke yang rumahnya di dalam komplek sekolah bahkan juga kalah denganku. Ia malah lebih sering berangkat agak siang.

Sekitar pukul 7 pagi kelas mulai ramai, satu demi satu teman-temanku mulai berdatangan. Teman sebangku ku pun telah datang, Ranti namanya, lengkapnya Ranti Mauliya, anak Kampung Bongkol, keturunan asli suku Gayo. Kami memang memiliki nama panggilan yang sama, sama-sama Ranti. Sehingga tidak jarang kami sering keliru ketika orang memanggil kami.

Lonceng berbunyi sekitar pukul setengah delapan pagi, semua siswa berlarian ke lapangan sekolah. Para siswa SDN Wih Nareh pun berbaris dengan rapi untuk upacara bendera senin ini. Aku sangat suka sekali berdiri di barisan paling depan karena aku bisa melihat dengan jelas pelaksanaan upacara bendera ini. Semua siswa tampak berdiri dengan tegap mengenakan seragam putih-merah mereka.

Diam-diam aku menaruh perhatian pada kakak-kakak kelas 5 dan 6 yang berdiri menjadi petugas upacara bendera. “Aku ingin seperti mereka,” gumamku dalam hati. “Aku ingin bisa menjadi pembawa acara, pembaca undang-undang, pembaca do’a, pembawa bendera, pemimpin lagu, pemimpin barisan, ajudan pembina upacara, dan pemimpin upacara,” aku berandai-andai dalam hati dan semua terbukti bisa kucapai saat aku besar, termasuk menjadi pemimpin upacara dan berdiri di barisan guru-gurunya.

Upacara berjalan dengan hikmat. Setiap senin memang selalu diadakan upacara bendera di sekolahku. Berbeda dengan sekolah dasarku di Jawa, tempat aku pindah sekolah, bisa dihitung dengan jari berapa kali aku upacara selama 1,5 tahun aku bersekolah di sana.

“Upacara selesai pasukan dibubarkan,” sang pembina upacara memberi mandat kepada pemimpin upacara. Itu berarti upacara telah selesai.

Kami tak lantas menuju ruang kelas kami, melainkan mengambili sampah yang berserakan di halaman sekolah. Setiap siswa wajib mengambil sebuah sampah plastik ataupun bekas bungkus makanan dengan tangannya lalu membawanya menuju lubang sampah yang ada dipinggir lapangan. Kami akan berlomba-lomba untuk sampai ke lubang sampah secepatnya karena setelah itu kami bisa berdiri di barisan paling depan sebelum masuk ke kelas.

Sudah jadi kebiasaan kami untuk berdiri rapi di depan kelas membentuk dua barisan membujur ke belakang. Sang ketua kelas Hafidz namanya akan memilih barisan yang rapi untuk masuk ke dalam kelas lebih dahulu. Suatu kebanggaan bagi kami yang barisannya rapi untuk dapat masuk ke kelas lebih dahulu.

Saat Bu Asmiati sang wali kelas kami datang, sang ketua kelas yang kebetulan juga adalah anaknya akan menyiapkan kami semua. “Berdiri,” kami semua pun akan segera berdiri. “Beri hormat!” dengan serentak kami pun mengucapkan salam sembari hormat, “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,” dengan suara yang cukup keras, menggemparkan seisi kelas. Setelah beliau sang guru menjawab barulah kami duduk kembali.

Hari ini pelajaran Bahasa Indonesia. Masing-masing dari kami diajar menulis dan membaca olehnya. Dengan sangat rapi beliau menuliskan beberapa kata di papan tulis bercat hitam itu dengan menggunakan kapur. Kemudian beliau membacanya dengan cukup nyaring sambil menunjuk tulisan itu dengan penggaris kayu yang panjang, kami para siswa pun menirukannya. Selanjutnya kami akan menulis sampai halaman buku kami penuh dengan tulisan yang isinya sama itu dari baris pertama sampai baris yang paling bawah. Setelah selesai kami akan menumpuknya. Setelah itu Bu Asmiati akan berkeliling kelas, membimbing kami satu-satu untuk belajar membaca. Beruntung aku sudah lancar membaca sehingga hari ini bu guru tak perlu repot-repot mengajariku lagi. Tulisanku juga cukup rapi dibandingkan teman-temanku yang lain.

“Teng... teng...,” terdengar suara lonceng yang berasal dari kantor yang persis berada di samping kelasku.

“Horeee.....!” teriak kami.

Waktu istirahat tiba. Saatnya aku beraksi. Dalam sekejap, sejumlah anak telah mendatangiku untuk membeli jajan kesukaan mereka, ada jajan medan jaya yang berwarna-warni, ole-ole, kerupuk pinokio, bombon (permen), gulali, dan lain-lain. Tak perlu repot-repot aku berteriak “Jajan.. jajan...,” seperti suara seorang penjual makanan keliling. Toh mereka akan mendatangiku dengan sendirinya. Entahlah, punya daya pikat apa aku ini. Haha.... Tak hanya teman-teman anak kelas satu saja yang membeli daganganku, kakak kelas dan guru-guru juga ada yang membelinya untuk anak kecil mereka yang kerap kali dibawa serta dalam mengajar. Sudah biasa, waktu istirahatku ini adalah waktu untuk berjualan. Sementara anak-anak yang lain bermain di lapangan hijau sekolah kami, bersenda-gurau dengan teman-temannya, aku malah asyik melayani pembeli. Aku tak pernah malu melakoninya, justru aku menikmatinya. Sekali langkah, satu dua pulau terlampaui. Sembari aku sekolah aku juga berjualan. Hehe....

“Teng... teng...,” lonceng di pukul kembali. Semua anak bergegas masuk ke kelas karena kami tak ingin di dahului sang guru kami. Bu Asmiati kembali masuk. Mengajarkan kami berhitung. Aku pun mengeluarkan seikat batang sange yang kupunya. Aku memang belum secanggih beberapa temanku yang lain, bukan batang sange yang mereka keluarkan, tetapi mesin penghitung sempoa. Meski begitu, kemampuan berhitungku tak kalah dengan mereka. Aku hanya punya potongan-potongan batang sange. Batang sange ini berwarna kuning dan ringan seperti gabus, diambil dari suatu tumbuhan beruas-ruas dari kelompok ilalang. Hidup di semak-semak kebun depan rumahku, diameternya sekitar 1 cm atau sebesar jari. Sampai saat ini aku tak tahu apa nama Indonesia ataupun nama ilmiah tumbuhan itu. Sebatang tangkai panjang itu lalu dipotong-potong sepanjang 10 cm. Aku memiliki sekitar 20 potongan batang sange di dalam tasku setiap hari yang dapat membantuku untuk berhitung dengan cepat. Saat aku kelas 2 aku tak membutuhkannya lagi karena aku sudah dapat berhitung dengan cepat, sementara teman-temanku masih ada yang menggunakannya ataupun menggunakan sempoa. Sange juga dapat digunakan untuk membuat sangkar burung, seperti yang dilakukan oleh temanku Nova untuk sangkar burung-burungnya.

Sekitar pukul 10.30 WIB, kami pulang sekolah. Kami memang pulang lebih awal dibanding kakak kelas kami yang lain. Aku tak menunggu Puput karena dia akan pulang jam 12 siang nanti, aku juga tak menunggu Miga, tetangga rumahku karena anak kelas 2 itu akan pulang setengah jam lagi. Aku pulang bersama sahabat-sahabatku Febry dan Ana yang juga anak komplek. Saat pulang, aku memilih jalan yang berbeda. Jika tadi aku berangkat aku harus melompat melewati pagar belakang komplek maka ketika pulang aku melewati pintu gerbangnya. Selain Febry dan Ana, aku juga biasa pulang dengan Agri dan Nova. Teman kami yang lain yang juga anak komplek.

Melewati gerbang komplek berarti aku berputar menuju rumahku dan akan lebih jauh, tapi aku senang karena aku bisa melalui taman komplek yang indah, melewati pepohonan pinus yang rindang, berlarian di tengah lapangan hijau, dan melihat bunga-bunga yang indah. Melihat anak-anak STM dengan seragam putih abu-abu mereka membuatku juga ingin seperti mereka nanti.

Di persimpangan koperasi kami pun berpisah, menuju arah rumah kami maisng-masing. Agri, Nova, dan Febry menuju arah selatan, Ana menuju arah barat, sedangkan aku sendiri menuju arah utara. Aku pun meneruskan langkahku melalui jalan kerikil sekitar 200 meter, hanya dua rumah saja yang kulalui, selebihnya adalah kebun-kebun komplek.

Komplek tempatku tinggal ini merupakan komplek sekolah SMKN 1 Pegasing (sekarang SMKN 2 Takengon). Tetapi aku lebih suka menyebutnya dengan nama Komplek STM, sebagaimana orang-orang juga menyebutnya. Hal ini karena pada awal berdirinya sekolah ini bernama STM Pertanian Pegasing. Komplek sekolah ini luasnya mencapai lebih dari 30 ha. Sebelah utara dan timur komplek ini dibatasi oleh jalan raya. Sebelah selatannya terdapat pemukiman masyarakat Desa Wih Nareh, kami menyebutnya daerah Kampung Bongkol. Adapun sebelah barat komplek berbatasan langsung dengan sawah, sungai, dan perbukitan. Meski luas, tak begitu banyak orang yang tinggal di komplek kami. Saat ku tinggal di sana penghuninya tak lebih dari 30 kepala keluarga yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Medan, Padang, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, serta Aceh Tengah dan daerah Aceh lainnya sehingga kami pun berasal dari berbagai suku yang berbeda pula.

Perumahannya sendiri terbagi dalam 3 blok, blok utara, selatan, dan barat mushallah. Mushallah Al-Furqaan berdiri tepat di tengah-tengah komplek ini. Kira-kira begitulah gambaran komplek tempat aku tinggal.

***

Saat kutiba di rumah, ups... pintu terkunci. Ibu sedang pergi rupanya. Aku tak perlu khawatir tak bisa masuk. Segera kucari pintu rumah yang terselip di bawah salah satu pot bunga ibu. Aku pun mendapatkannya, tanpa pikir panjang kubuka pintu merah yang terkunci itu. Kucopot sepatu hitam dan kaus kaki putihku, segera ku ke dapur untuk menemukan benda besar berwarna abu-abu yang berisi air. Kuambil benda kaca yang ada di rak piring dan kutuangkan air dari dalam teko itu. “Glegek... glegek...,” segarrr, terasa nikmat sekali air tak berwarna ini. Tak perlu repot-repot keluargaku memiliki kulkas, airnya sudah pasti terasa segar seperti air es, peninggalan dingin pagi tadi. Cuaca siang hari memang sangat panas, kontras sekali dengan cuaca pagi tadi yang dipenuhi kabut. Mungkin juga karena daerah kami adalah dataran tinggi yang berarti lebih dekat ke matahari.

Tak jarang karena cuaca yang kontras ini membuat hidungku harus mengeluarkan darah. “Mimisan” begitu orang menyebutnya. Pernah sekali aku mengalami mimisan saat masih berada di sekolahan. Aku tak perlu panik dan menangis karena ibu telah mengajarkannya padaku bagaimana cara menanganinya. Aku pun mengelapnya dengan sapu tangan yang kubawa, kemudian berbaring di kursi untuk beberapa saat agar darahnya tak keluar lagi. Jika di rumah, ibu pasti sudah menyumbatnya dengan daun sirih yang dipetik dari belakang rumah kami.

Ibu tak ada di rumah, sebelum aku berangkat sekolah tadi ia memang berpesan bahwa ia akan ke Simpang Kelaping untuk berjualan pakaian. Puput masih sekolah dan bapak juga masih mengajar, Om Mus masih di Proyek, Om Kholiq adik ibuku juga masih di sekolah, jadilah di rumah aku sendirian. Tak perlu takut, aku sudah biasa seperti ini sejak aku masih di taman kanak-kanak.

Setelah berganti pakaian, aku segera menuju ke peternakan ayam yang ada di belakang rumah. Dengan baskom ditangan, aku lalu mengambil telur-telur ayam kampung itu, telur berwarna putih dan berbentuk lonjong. Wadah minum beberapa ayam juga tampak kosong, air yang tadi pagi diisi bapak tampaknya sudah habis. Kasihan, mereka pasti ingin minum kembali sepertiku. Segera kuletakkan telur-telur itu di dalam rumah dan menatanya di dalam karton. Lalu aku kembali ke kandang dengan setengah ember air ditanganku. Kuisikan kembali wadah minum yang telah kosong itu agar ayam-ayamku juga tenang, aku tak ingin mereka berkokok dengan keras karena pasti akan menganggu para tetangga rumahku.

Sekitar pukul 12 siang Puput pun pulang. Tak lama kemudian ibu juga pulang. Ibu kemudian memasak untuk makan siang kami.

***

Kisah 11: Kelulusan TK

 

Aku berangkat agak siang hari ini bersama ibu. Ini adalah hari terakhirku di Taman Kanak-Kanak Renggali. Mulai tahun ajaran baru nanti aku masuk sekolah dasar. Hari ini kami tak belajar seperti biasanya. Orang tua kami pun juga duduk bersama kami karena hari ini akan ada pembagian ijazah TK.

Bu Arini menyampaikan pesan-kesannya mengajar kami selama setahun ini. Setelah itu beliau menyebutkan nama kami satu per satu untuk menerima ijazah. Febry, Nova, Agri, Fajar, Hafidz, aku, dan siswa-siswa lainnya maju satu per satu bersama orang tua kami masing-masing. Senang sekali saat ijazah berada di tanganku. Tak lupa kucium tangan Bu Arini yang lembut itu.

Laras tampak menangis dengan histeris karena ia tak menerima ijazah seperti kami. Dia memang belum lulus karena dia masih TK nol kecil di sini. Ia pun harus sekolah TK setahun lagi. Umurnya memang lebih muda setahun dari kami. Tak hanya Laras, beberapa siswa lainnya juga mengalami hal yang sama, termasuk Winoto.

Sedih juga melihat Laras yang harus duduk TK lagi karena selama ini kami kan selalu bermain dan pulang bersama.

Minggu, 20 September 2020

Kisah 10: Kempesnya Ban Sepeda Pagi Itu

 

Seperti biasa, setiap pagi bapak selalu mengantarku ke TK Renggali dengan sepeda gunungnya. Sepeda bermerk Olympus berwarna abu-abu itu adalah satu-satunya kendaraan yang kami punya. Kami tak punya motor ataupun mobil seperti warga komplek lainnya. Kehidupan kami memang sangat sederhana dibanding mereka. Kesederhanaan bapak memang sudah dikenal oleh banyak orang, baik di komplek Desa Wih Nareh maupun di daerah asalnya, Pemalang Jawa Tengah.

Bapaklah orang komplek pertama yang mempunyai sepeda. Beliau adalah satu-satunya guru yang mengendarai sepeda di sekolah tempat beliau mengajar. Meski begitu, Beliau tak pernah terlambat ke sekolah. Sepeda adalah kendaraan favoritnya sejak kecil. Sepeda telah menemani masa hidupnya. Sepedalah yang mengantarkan beliau ke mana saja.

Seperti biasa beliau mengantarkanku pagi-pagi sekali sebelum pukul 07.00 WIB. Di Aceh, itu adalah waktu yang masih pagi. Suasananya sama dengan pukul 06.00 WIB di Jawa. Matahari saja baru terbit di sana sekitar jam 06.00 WIB dan subuh saja jam 05.30 WIB.  Meskipun sama-sama daerah waktu Indonesia bagian Barat, tapi Aceh adalah daerah paling barat jadi beda waktunya pun hampir satu jam dengan Pulau Jawa. Setiap hari beliau harus mengayuh sepeda melewati jalanan yang naik turun demi mengantarkanku sekolah ke TK Renggali yang jaraknya sekitar 3 km.

Aku telah siap pagi ini dengan mengenakan seragam TK-ku yang berwarna putih-hijau, bersepatu coklat, dan rambut yang dikucir setengah. Sebuah tas kotak berwarna merah jambu juga telah tergantung di bahuku. Isinya adalah sekotak jajan dan sebotol air minum. Tas itu pula yang dulu dipakai Puput saat sekolah TK. Sekolah memang menyuruh kami membawa makanan dan minuman setiap hari agar kami tak perlu membeli jajan di sekolah. Acara makan jajan adalah acara yang paling kusukai karena pada saat ini aku akan berkesempatan untuk mencicipi jajan yang dibawa oleh teman-temanku. “Barter jajan” itulah yang kami lakukan. Aku paling sering melakukannya dengan si kembar Nyakna dan Nyakni. Mereka selalu membawa jajan yang enak-enak karena orang tua mereka memang berjualan makanan. Abi dan Ummi mereka mendirikan warung tepat di depan gerbang komplek STM, kami menyebutnya warung “Kedai Aceh” karena mereka adalah orang Aceh, berbeda dengan orang Takengon yang umumnya adalah orang Gayo.

Setelah sarapan dan minum segelas kopi untuk menghangatkan tubuh kami, bapak mengantarkanku. Bapak juga telah rapi dengan pakaian safarinya yang biasa beliau gunakan untuk mengajar. Aku duduk di depan, di besi yang menghubungkan antara tempat duduk dan stang. Perlahan bapak kayuh sepeda itu. Rasanya agak sedikit berbeda pagi ini, jalannya tak secepat biasanya. Gerakan kaki bapak agak sedikit berat. Oh... kempes rupanya, namun beliau tetap berusaha mengayuhnya. Termasuk saat kami harus melalui sebuah tanjakan di Desa Kung. Beliau terus berusaha mengayuh sepeda yang kempes itu, namun sepertinya beliau tak kuat. Beliau pun memilih turun dan menuntun sepeda itu dengan aku tetap duduk di atasnya. Beruntunglah, tiba-tiba Pak Khaidir, Ayah Nova lewat di saat yang tepat. Beliau baru saja mengantarkan Nova ke TK. Beliau pun berhenti karena melihat kami.

“Kenapa sepedanya itu Pak Kodam?” tanya Pak Khaidir dengan logat Batak-nya, beliau memang orang Medan. Dengan brewok di wajahnya, ia terlihat sedikit menyeramkan, namun sebenarnya ia orang yang baik.

“Anu Pak, kempes,” jawab bapak dengan sedikit malu.

“Bukan kempes lagi tampaknya Pak, bocor itu!” kata Pak Khaidir lagi sambil mengamati ban sepeda bapak dengan seksama, dengan mengernyitkan sedikit dahinya. “Begini saja Pak, biar saya saja yang antar Ranthi ke sekolahnya, kasihan nanti dia terlambat, tadi waktu saya antar Nova sudah banyak siswa yang datang. Bapak balik saja ke komplek!” ia mencoba menawarkan bantuan.

“Ya boleh,” kata bapak setelah ia berpikir sejenak, saran Pak Khaidir sepertinya memang masuk akal.

Pak Khaidir lalu memutar sepeda motornya menuju ke arah TK Renggali. Aku pun turun dari sepeda bapak dan duduk di belakang Pak Khaidir. Agak sedikit gugup rasanya karena baru kali ini aku diantar oleh orang lain. Naik sepeda motor pula, yang jarang-jarang aku naiki. Sementara bapak, beliau kembali lagi ke komplek.

Bukan sekali ini saja peristiwa ban kempes itu terjadi, beberapa kali aku dan bapak mengalaminya, bahkan seringnya beliau tetap berusaha mengayuh sampai sekolahku. Hal-hal itulah yang membuatku mencintai sepeda, bahkan aku juga tak malu saat berangkat kerja dengan sepeda.

Kisah 9: Taman Kanak-Kanak Renggali

 

Umurku sekarang sudah 5 setengah tahun. Aku pun masuk sekolah taman kanak-kanak.

“Hore! sekarang aku sekolah,” teriakku, aku sangat senang sekali.

Sebenarnya sejak setahun lalu aku sudah ingin masuk TK. Gara-garanya, Bang Miga tetangga rumahku yang biasa main denganku masuk sekolah TK. Aku kan iri dan tak punya teman lagi. Bapak waktu itu sempat membawaku ke TK Renggali, berniat mendaftarkanku. Tapi pihak sekolah tak mau menerimaku, katanya umurku masih terlalu muda. Padahal besarku dan Miga sepertinya sama saja.

Sekarang aku pun masuk TK Renggali, TK yang aku idam-idamkan sejak lama, TK terfavorit di kecamatan kami. Di TK ini pula dulu Puput menikmati masa kanak-kanaknya. Aku tak menemui Miga di sini karena dia sudah lulus dan bersekolah di SDN Wih Nareh bersama Puput.

Desaku yaitu Desa Wih Nareh belum mempunyai taman kanak-kanak sehingga aku sekolah di Taman Kanak-Kanak Renggali yang berada di ibukota Kecamatan Pegasing yaitu di Desa Simpang Kelaping, berjarak sekitar 3 km dari komplek dengan melewati jalan raya, serta satu kali turunan dan tanjakan yang ada di Desa Kung. Di sini aku mempunyai banyak teman, beberapa dari mereka juga anak komplek STM, seperti Febry, Nova, Agri, Fajar, Hafidz, dan Laras. Berhubung kami satu komplek maka orang tua kami akan bergantian datang menjemput.

Di sekolah, kami duduk secara berkelompok. Aku tidak duduk bersama anak-anak komplek itu. Aku duduk dengan anak-anak lain yang semuanya laki-laki. Terkadang aku merasa tidak nyaman. Apalagi anak laki-laki suka usil dan meja mereka selalu berantakan. Terkadang aku yang membereskannya, karena aku tak ingin kelompokku terlihat berantakan.

Alat bermain di sekolahku masih sangat terbatas. Kami tak punya ayunan ataupun pelosotan seperti di sekolah-sekolah TK pada umumnya. Hanya ada satu njot-njotan, itu pun harus mengantri. Kami pun bermain dengan alat seadanya saja. Bahkan tak jarang aku hanya bermain kelereng ataupun bermain kejar-kejaran dengan temanku.

Hari ini gilirah Ayah Agri dan Ayah Febry yang datang menjemput kami. Aku tak turut bersama mereka. Karena tadi sebelum berangkat sekolah ibu bilang mau datang ke SD Simpang Kelaping yang berada satu komplek dengan sekolah TK-ku ini. Biasanya kalau ibu ke Simpang Kelaping pasti sekalian menjemputku karena di rumah juga sepi tak ada orang. Ibu adalah seorang penjual pakaian dan sepatu. Seringkali ibu menjualnya sampai ke Simpang Kelaping, bahkan juga Kayu Kul. Guru-guru di sekolah ini adalah para pelanggannya, termasuk Bu Arini, guru TK-ku.

Lama sekali ibu tak kunjung datang, sementara teman-teman komplekku sudah pulang sedari tadi. Sudah tak ada anak lagi di sekolahku, Bu Arini sang guruku juga sudah mau pulang. Aku pun akhirnya ikut ke rumahnya di Kayu Kul. Kami berjalan kaki di sepanjang tepi jalan raya. Bu Arini menggandeng erat tanganku. Ia takut aku tertabrak kendaraan yang lewat. Lumayan jauh jalannya, tapi tidak begitu terasa karena aku memang sudah terbiasa berjalan kaki.

Kami sudah di depan SMPN 1 Pegasing, itu berarti kami sudah hampir sampai di rumah Bu Arini, tinggal melewati beberapa rumah saja. Namun, tiba-tiba sebuah mobil toa berhenti di sebelah kami. Sepertinya salah seorang penumpang akan turun. Benar saja, ibuku keluar dari mobil toa itu.

“Mama!” pintaku, betapa senangnya aku melihat siapa yang turun. Ia langsung memelukku. Aku hampir saja menangis. Setelah berbicara dengan Bu Arini sebentar, ia lalu mengajakku pergi. Aku pun tak jadi ke rumah Bu Arini.

Ibu tak lantas mengajakku pulang ke rumah, melainkan ke rumah Winoto, teman TK-ku juga. Kami duduk satu kelompok. Bu Narti, Ibu Winoto kenal baik dengan ibuku, ia juga orang Jawa Tengah. Rumah Winoto juga lumayan jauh, bisa saja kami berjalan kaki. Tapi sepertinya ibu tak mau aku terlalu capek. Ibu pun memilih naik mobil toa lagi dan berhenti di perempatan Simpang Kelaping. Barulah dari perempatan itu kami berjalan kaki kembali ke rumah Winoto karena rumahnya tak dilalui mobil toa.

Setelah melewati beberapa rumah dan lapangan hijau yang luas, sampailah kami di rumah besar itu. Winoto terlihat sedang bermain di depan rumahnya, ia lalu memanggil ibunya yang ada di dalam rumah. Bu Narti pun keluar dari rumahnya. Bu Narti adalah ketua Koperasi Liga Gayo, salah satu koperasi terbesar Aceh Tengah dan ibuku adalah bendaharanya. Koperasi mereka ini terkenal di tingkat kabupaten dan provinsi. Bu Narti dan ibuku juga pernah beberapa kali berpergian keluar kota untuk mengurusi koperasi mereka ini, seperti ke Banda Aceh dan Lhokseumawe.

Kisah 8: Apa Isi Nasi Bungkus?

 

Tak terasa, bulan Ramadhan sudah menginjak hari ke 16, itu berarti sudah 16 hari pula bapak menjadi imam sholat tarawih dan memberikan ceramah setelah selesai sholat tarawih di mushallah Al-Furqaan. Sehingga malam ini menginjak malam ke 17 dari bulan Ramadhan, dimana dibulan ini untuk pertama kalinya ayat suci Al-Qur’an diturunkan.

Puluhan jamaah telah datang. Jamaah putra telah ramai tampaknya. Tirai berwarna putih juga sudah terbentang, menjadi hijab antaran jamaah putra dan putri, sehingga kami tak bisa saling melihat. Ibu-ibu dan jamaah putri lainnya juga telah siap dengan mukenah putih yang menutup aurat bagian atas tubuh dan kain sarung yang menutup bagian bawahnya. Mereka telah menggelar sajadah masing-masing. Malam ini lebih ramai dari biasanya sehingga jamaah putri pun sampai keluar dan harus rela sholat di bebalen (bale-bale, emperan) mushallah dan aku salah satunya. Sholat tarawihku masih bolong-bolong sehingga ibu menyuruhku sholat di belakang saja agar tak mengganggu jamaah lainnya.

“Allahu Akbar!” bapak memimpin sholat. Para jamaah pun mengikutinya.

Sudah menjadi kebiasaan dari tahun ke tahun bapak yang menjadi imam sholat di mushallah ini. Sebelum mushallah Al-Furqaan ini di bangun bapak juga sudah menjadi imam di bengkel sekolah, tempat dimana sholat jamaah dulu dilaksanakan. Atas inisiatif beliau dan beberapa rekan-rekannya kemudian dibangun mushallah yang bentuknya rumah panggung ini dan Masjid Baiturrahim Desa Wih Nareh. Selain menjadi imam, bapak juga seorang khatib Desa Wih Nareh.

Malam 17 Ramadhan adalah malam yang kutunggu-tunggu karena selain ada Pak Teuku (kyai) dan lebih ramai dari biasanya, juga ada acara makan besar bersama-sama setelah sholat tarawih nanti. Pada malam-malam biasanya kami hanya makan makanan ringan dan minum kopi atau teh saja sambil mendengarkan ceramah. Tetapi berbeda dengan malam ini. Setiap kepala keluarga sedikitnya membawa lima bungkus nasi yang kemudian dikumpulkan jadi satu dengan nasi bungkus lainnya sehingga nanti akan dibagi secara acak.

Aku dan Puput tak mengikuti sholat tarawih itu sampai selesai. Aku memilih bermain dengan teman-temanku. Malam ini kami tak mencari met-met. Beberapa anak yang lebih besar dari kami juga ada yang tak sholat seperti kami. Ia mengajak kami keluar mushallah untuk melakukan suatu misi.

Dengan sebuah lidi di tangan, sambil berjongkok ia masuk ke kolong mushallah yang bentuknya rumah panggung ini. Gelap sekali di kolong itu, bukan lapisan semen di bawahnya tetapi tanah yang ditumbuhi rumput-rumput. Ia pun dibantu dengan lampu senter agar lebih terang. Sekitar lima langkah ia lalu berhenti dan menusukkan lidi itu ke atas mushallah melalui sela-sela papan panggung ini. kemudian ia kembali keluar dari kolong yang gelap itu dan mencium batang lidi itu. “Hmmm.... ini bau telur sama sayur santan,” begitu katanya. Cerdas sekali akalnya untuk mengetahui apa lauk nasi bungkus itu. Aku dan beberapa teman lain juga menirukannya pada sela-sela papan yang berbeda yang berarti beda nasi bungkus pula.

Sementara ia menusuk, ada seorang teman di atas mushallah sana yang menandainya (orang Jawa bilang “niteni”) plastik makanan mana yang bergerak. Hal ini kami lakukan untuk mendapatkan nasi bungkus dengan lauk yang istimewa. Nah, pada saat pembagian nasi nanti kami pasti akan memilih nasi bungkus yang kami inginkan. Hahaha..... nakal kali kami ini.... yee.. itu waktu aku masih kecil, masih jadi anak bawang, jadi cuma ikut-ikutan saja.

Bacaan bapak sangat merdu dan jelas sehingga sholat pun terasa khusyuk meski hanya sebelas rakaat. Suara jangkrik dari padang rumput yang mengitari mushallah dan gemericik air dari selokan besar di sekitar mushallah juga kalah dengan suara bapak. Tetapi setelah itu bukan bapak yang memberikan ceramah seperti biasanya, melainkan Pak Teuku dari luar komplek yang mengisinya.

Tirai putih lalu dibuka dan jamaah putri juga bisa melihat Pak Teuku. Para jamaah kemudian duduk melingkar, baik jamaah putra maupun jamaah putri. Dengan begitu kami pun jadi lebih santai dalam mendengarkan ceramah. Saat itu aku masih kecil sehingga tak memperhatikan apa isi ceramahnya, yang kupikirkan hanyalah nasi bungkus.

Kisah 7: Mencari Met-Met

 

Bulan Ramadhan telah datang. Sekolah pun libur untuk beberapa hari sehingga aku memiliki teman untuk bermain. Kali ini aku mengikuti Bang Sigit dan teman-temannya jalan-jalan mencari met-met. Met-met adalah salah satu jenis serangga. Bentuknya lonjong seperti kumbang tapi tak bermoncong dan panjang badannya hanya sekitar 1-2 cm. Met-met yang besar warnanya coklat muda dengan kepala warna coklat tua, sedangkan met-met yang kecil dari kepala hingga badannya berwarna hijau tua. Met-met adalah nama lokal di tempat kami, aku sendiri tak tahu nama ilmiahnya.

Biasanya aku menjumpai met-met di mushallah. Saat sholat tarawih aku akan mengumpulkan met-met dengan anak-anak kecil lainnya yang juga tidak sholat sepertiku. Saat orang tua kami sholat, kami akan mengumpulkan met-met yang tersebar di mushallah, biasanya dia ada di bawah lampu. Aku sangat senang jika bisa mengumpulkan banyak met-met. Kami pun akan mengadu met-met itu untuk balapan. Met-met yang berjalan tercepatlah yang akan jadi pemenangnya.

Pagi ini Bang Sigit bersama teman-teman seusianya mengajakku berkeliling komplek STM. Kami berjalan dari blok rumahku ke arah sungai. Kami berhenti dari satu pohon ke pohon lain yang ada di kebun komplek. Tak terkecuali pohon yang ada di semak-semak. Met-met biasanya bersembunyi di sana. Aku mengikutinya saja. Entahlah, kenapa saat kecil aku begitu berani masuk ke semak-semak.

Ye.... hari ini kami dapat banyak met-met, kami dapat sekantong plastik ukuran 1 kg gula. Buat apa coba met-met sebanyak ini? Bukan buat koleksi lho ya. Kamu tahu buat apa? Buat makan ayam. Haha... dengan cuma-cuma met-met yang banyak itu Bang Sigit berikan ke ayam. Padahal sungguh susah sekali mengumpulkannya. Itulah kenikmatan kami bisa mengumpulkan sebanyak-banyaknya tapi bukan untuk memilikinya.