Minggu, 20 September 2020

Kisah 6: Rumah Wak Arsinem

 

Hari ini ibu ada keperluan ke kota untuk berbelanja. Ia tak ingin membawaku turut serta karena aku pasti akan merepotkannya. Apalagi kota lumayan jauh dari komplek kami, katanya butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai di sana. Aku pun ia titipkan pada Wak Arsinem, yang ada di sebelah belakang komplek.

Wak Arsinem ini juga orang Jawa, sama seperti kami. Kalau tak salah dia berasal dari Jawa Timur. Suami Wak Arsinem bekerja sebagai tukang kebun STM. Sementara Wak Arsinem sendiri adalah seorang juru masak. Ia memiliki empat orang anak: Bang Hartono, Kak Win, Bang Sugeng, dan Bang Sigit.

Aku telah rapi dengan pakaian yang bersih, rumah pun telah beres dari semua berantakan yang aku dan Puput ciptakan, ibu lalu mengantarkanku ke rumah Wak Arsinem. Kami berjalan melintasi jalan setapak. Di kanan kiri kami hanyalah semak belukar yang membuatku takut kalau-kalau ada ular yang menunjukkan kepalanya yang mengerikan. Di semak-semak ini juga Puput katanya pernah melihat musang beberapa kali. Hewan kecil yang menggemaskan karena ekornya yang tebal dan melengkung. Sekitar 200 meter kami melangkah, barulah kami tiba di rumah Wak Arsinem.

Rumahnya berdiri sendiri dengan berbagai tanaman hias ada di halamannya. Kak Win yang menanamnya, Kak Win memang suka berkebun. Wak Arsinem tak punya tetangga, rumah terdekatnya berjarak sekitar 50 meter dari rumahnya. Sekeliling rumahnya adalah semak-semak belukar dan kebun.

“Assalamu’alaikum...!” kata ibu sambil mengetuk pintu.

“Wa’alaikumussalam...!” sahut Wak Arsinem dari dalam sana.

Tak lama kemudian pintu pun terbuka, Wak Arsinem telah berdiri di balik pintu.

“Ooo... Ranthi, sini masuk!” katanya dengan logat Jawa yang khas. Sudah puluhan tahun ia tinggal di sini, tapi logat Jawa-nya tak hilang-hilang. Ia senang sekali melihatku datang. Diajaknya aku dan ibu ke dalam. Ibu menyampaikan maksudnya. Sepertinya Wak Arsinem pun mengerti karena memang aku sudah sering ia titipkan di sini. Setelah itu ibu pun pamit. Tentu saja aku tak menangis seperti anak-anak kecil lainnya ketika ditinggal orang tua mereka.

Kak Win lalu mengajakku menonton TV. Kamu jangan bayangkan kalau aku bisa menonton film-film favorit seperti anak sekarang, memilih channel yang menarik ataupun menonton beberapa acara sekaligus dengan memencet tombol-tombol yang ada di remote TV. Tidak! hanya ada 2 channel di sana: TPI dan TVRI. Tak hanya rumah Kak Win, rumah-rumah yang lain juga. Hanya mereka yang memasang parabola saja yang bisa menikmati berbagai channel seperti di Jawa. Namun saat umurku 4 tahun ini, di komplek belum ada yang memasang parabola di atap rumahnya. Sudah untung kami punya TV meskipun hanya hitam putih, beberapa orang di komplek ini bahkan masih banyak yang belum memilikinya.

Aku menonton acara di TV dengan acara seadanya saja. Lama-kelamaan aku pun mengantuk. Kak Win lalu mengajakku tidur di kamarnya yang sangat sederhana. Aku pun tidur dengan nyenyaknya di situ.

Aku terbangun saat matahari sudah mulai tergelincir ke barat. Sudah tidak terlalu panas rasanya. Aku tak melihat Kak Win, “pergi ke manakah dia?” pikirku. Aku lalu keluar kamar. Perutku kelaparan ternyata, aku memang belum makan siang.

“Ran, sini makan! Wak sudah masak banyak ini. Ada ikan ayam juga,” Wak Arsinem yang melihatku telah bangun segera mengajakku ke dapur.

“Apa ikan ayam?” aku sempat bingung. Dalam pikiranku, “ikan ya ikan, ayam ya ayam”. Tapi setelah Wak Arsinem menunjukkan apa yang ia maksud aku pun mengerti bahwa ikan ayam itu berarti daging ayam. Ada-ada saja wak ini.

Wak Arsinem masak banyak hari ini, karena ia juga berjualan makanan. Siapa yang mau beli ya? Padahal dia kan tidak punya tetangga. Oh ternyata anak-anak asrama putri pelanggannya. Meski rumahnya jauh, sekitar 100 meter dari asrama, para anak-anak asrama itu adalah pelanggan setia Wak Arsinem. Saat itu hanya Wak Arsinem-lah yang menjual nasi di komplek. Masakan Wak Arsinem juga terkenal enak, ia adalah koki yang handal. Aku pun makan dengan lahapnya. Padahal aku jarang sekali menyukai masakan orang, tapi untuk masakan Wak Arsinem aku sangat menyukainya. Bahkan aku tak sungkan untuk nambah. Keluarganya memang sudah seperti keluargaku, mungkin karena kami sama-sama orang perantauan dari Jawa. Sesama perantauan dari satu daerah biasanya memiliki tali persaudaraan yang kuat.

Seusai makan, Bang Sigit mengajakku bermain. Bang Sigit sudah pulang dari sekolahnya di SDN Wih Nareh. Ia mengajakku ke sungai yang berada di belakang rumah. Setelah melewati sebuah kebun yang luas, sampailah kami di sungai. Kami tak mandi di sana, hanya melihat saja sebentar. Kemudian kami kembali lagi ke atas, ia menunjukkan sesuatu padaku. Ia menunjukkan sarang tawon yang ada di dalam kotak kayu yang terletak di permukaan tanah, di sela-sela bebatuan yang ada di pinggir sungai itu. Aku begitu takjub melihatnya, terlihat ada madu di sana. Hanya sebentar ia membuka kotak kayu itu, ia tak berani lama-lama karena khawatir tawon-tawon itu akan menyerang kami.

Kami kembali lagi ke rumah Wak Arsinem. Aku kembali melakukan banyak hal di sana, seperti melihat kolam ikan kecil yang ada di belakang rumah.

Hari ini aku hanya bermain di sekitar rumahnya saja. Jika aku dan Puput kemari di hari libur, Kak Win dan Bang Sigit akan mengajak kami ke Desa Kolam yang tak jauh dari rumah Wak Arsinem. Desa Kolam terletak di sebelah barat laut dari komplek kami. Desa Kolam merupakan perkampungan orang-orang Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Aceh Tengah. Beberapa guru STM juga ada yang bermukim di sini dan menjadi pengikut LDII. Meski aku pernah ke desa ini beberapa kali, bukan berarti aku juga pengikut ajaran LDII ini. Desa Kolam adalah salah satu tempat yang menarik. Perkampungan ini seperti desa terpencil karena berada di ujung jalan desa dan jauh dari jalan raya. Desa Kolam di kelilingi oleh aliran sungai dan terdapat banyak kolam ikan di sana sehingga kami pun menyebutnya sebagai “Desa Kolam”.

Sore hari, ibu pun datang bersama Puput untuk menjemputku. Ibu mengucapkan terima kasih kepada Wak Arsinem yang telah menjagaku.

Kisah 5: Hujan Es

 

Udara terasa panas namun angin berhembus dengan sedikit kencang menggerakkan daun pepohonan dan tumbuhan-tumbuhan lainnya kesana-kemari seperti saling melambai mengikuti irama alam. Aku mulai terasa kedinginan akibat hembusan angin itu. Awan-awan yang tadi terlihat cerah berwarna putih tiba-tiba berubah menjadi hitam kelabu. Seram juga rasanya melihat langit yang kian gelap. Aku lalu masuk ke dalam rumah. Ku tutup pintu rapat-rapat agar angin tak masuk. Enak sekali rasanya di saat cuaca seperti ini untuk tidur pikirku.

Sekitar pukul 4 sore tetes-tetes air mulai berjatuhan membasahi permukaan bumi. Bau tanah pun tercium. Semakin lama hujan pun turun semakin deras. Tak hanya suara petir saja yang terdengar menggelegar tetapi juga suara lain. Terdengar suara seperti kerikil yang berjatuhan di atas atap seng rumah kami. Aku pun tak bisa tidur karena mendengarnya. Aku begitu takut tetapi juga penasaran. Lantas kulihat keluar jendela.

“Hujan es.. hujan es...,” teriakku. Aku lantas memanggil Puput, bapak, dan ibu untuk menunjukkan apa yang kulihat. Kami sangat terkejut. Kami melihat keluar lagi, tampak es batu bersebaran di halaman rumah. Potongan es yang sebesar kerikil itu juga ada yang masuk ke dalam rumah kami melalui bawah pintu.

Di sini, kami jarang sekali minum es. Kami lantas mengambil es-es itu dan mencampurkannya dengan air teh, maka jadilah es teh. Rasanya tak kalah dengan es teh yang pernah kami minum.

Hujan es terjadi sampai pukul 5 sore. Setelah reda, orang-orang pun pada berhamburan keluar rumah. Rasa penasaran mengalahkan rasa dingin yang kami rasakan. Kami ingin melihat langsung potongan es yang tersebar itu dengan mata kepala kami. Memang, potongan es tampak bersebaran di jalan. Jika tadi aku berada di luar rumah sudah pasti aku akan terluka karena akan seperti terkena lemparan kerikil yang bertubi-tubi rasanya. Ini adalah pertama kalinya aku mengalami hujan es. Aku pun pernah kembali mengalaminya saat masih tinggal di sana. Kalau di Jawa ini, aku belum pernah mengalaminya sama sekali.

Konon hujan es ini terjadi jika ada pohon temung yang menggugurkan semua daunnya. Aku sih tidak begitu paham apa hubungan ilmiahnya. Tapi aku tahu pohon temung itu, setahuku dulu di komplek ada 2 yaitu di belakang gedung jurusan THP (Teknologi Hasil Pertanian) dan di sebelah timur kantor. Pohonnya besar sekali dibandingkan pohon-pohon lainnya.

Kisah 4: Ibu Sembuh

 

Kurang lebih dua bulan lamanya ibu terbaring sakit, dua bulan itu pula bapak mengurusi kami. Bapakku memang suami yang luar biasa. Ia begitu sabar dalam merawat kami anak-anaknya dan istrinya yang terbaring sakit. Badan ibu sekarang terlihat kurus sekali, perutnya yang dulu sedikit buncit sekarang sudah kempis. Sekarang ibu sudah sembuh dan bisa kembali mengurusi kami. Keadaan pun kembali seperti biasanya. Belakangan aku tahu bahwa janin yang keguguran itu telah sebesar jempol orang dewasa dan berjenis kelamin laki-laki. Seandainya hidup mungkin saat aku menulis kisah ini umurnya sudah 20 tahunan lebih.

Ibu pernah cerita kepadaku, saat ku masih bayi katanya dia pernah jatuh di tangga pasar ikan yang ada di pinggir sungai Peusangan Kota Takengon. Waktu itu ibu tengah menggendongku di tangga pasar itu, ia hendak membeli ikan untuk dimasak. Namun tiba-tiba ia jatuh terpeleset. Pinggang ibu rasanya sakit sekali. Katanya masih sering terasa hingga aku umur 6 tahun. Mungkin itu juga yang menyebabkan ibu keguguran. Ibu juga sempat cerita sebelum berangkat ke Bu Reduk itu, ia merasakan pinggangnya sakit. Kasihan sekali ibu. Aku jadi merasa bersalah karena telah meninggalkan sakit dipinggang ibu selama bertahun-tahun akibat menggendongku.

Kisah 3: Ke Pasar Bersama Bapak

 

Setelah keguguran itu, ibu terus pendarahan. Ibu hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur. Ia tak bisa ke mana-mana, bahkan untuk duduk saja pun ia mengalami kesulitan. Jadilah bapak yang mengurusi aku dan Puput. Menyiapkan makanan buat kami, membuatkanku susu, mengantar Puput sekolah, mengurusi ayam, membersihkan rumah, bahkan juga ke pasar semuanya dilakukan oleh bapak. Kami tak punya sanak saudara di sini selain Om Mus. Om Mus juga sibuk sekali dengan pekerjaanya di proyek. Sesekali para tetangga datang ke rumah kami, membantu meringankan tugas bapak.

Untunglah, tetanggaku Pak Mun mempunyai kerabat seorang bidan, dengan senang hati Bu Bidan datang ke rumah kami secara rutin. Padahal rumahnya cukup jauh dari komplek ini. Rumahnya ada di Desa Kebayakan, sekitar 10 km jauhnya dari komplek ini.

Pagi ini bapak mengajakku ke pasar. Katanya daripada di rumah nanti aku akan mengganggu ibu. Lucu sekali rasanya saat itu, seorang bapak ke pasar dengan anak perempuannya yang baru berumur 4 tahun.

Di dalam mobil toa aku pun duduk di pangkuannya. Kami turun di terminal kota. Dari terminal itu bapak mengajakku berjalan menuju para pedagang sayuran.

“Berapa ini seikat?” tanya bapak kepada penjual bayam.

“100,” bapak pun mengeluarkan uang 100 rupiah dari kantongnya. Ia berikan uang itu kepada sang penjual.

Bapak tak pintar menawar jadi ia langsung membayar saja berapapun harganya. Tapi tak begitu masalah karena harga sayuran sangat murah sekali di sini dibandingkan dengan di Jawa.

Sayur-sayuran itu kemudian ia masukkan ke dalam ransel besar yang sedari tadi menggantung di punggungnya. Aneh memang, biasanya orang ke pasar membawa keranjang tapi bapak membawa ransel, tapi masih mendinglah dari pada seorang bapak membawa keranjang.

Ia lalu mengajakku berkeliling pasar lagi. Ia terus melakukan hal yang sama berulang kali: memilih sayuran, menanyakan harganya, dan membayarnya.

Tak hanya membeli sayuran, bapak juga membeli barang-barang pokok lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari kami, seperti gula, minyak, susu, dan lain-lain. Aku terus mengikutinya berjalan berkeliling pasar yang sangat luas itu sampai tas ransel bapak benar-benar penuh. Bapak makin terlihat seperti pendaki gunung saja. Setelah itu barulah kami pulang ke rumah dengan mobil toa kembali.

Kisah 2: Keguguran

 

Sore ini ibu mengajakku ke rumah Bu Reduk, seorang bidan ternama di Kecamatan Pegasing. Rumahnya terletak di Desa Simpang Kelaping. Untuk ke rumah itu kami harus berjalan dulu ke depan komplek sejauh kurang lebih 400 meter. Kami tak bisa naik becak karena di sini memang tak ada. Bahkan juga tak ada pedagang makanan ataupun minuman yang masuk ke komplek kami karena pasti mereka pikir tak ada rumah di dalam komplek ini. Dari gerbang hanya terlihat bangunan sekolahan dan lapangan saja, sedangkan perumahannya terletak jauh ke dalam. Jadi, jangan berharap ada gerobak bakso ataupun es cendol yang lewat.

Kami melalui jalan komplek yang masih kerikil, melewati rumah Pak Is dan Pak Sutar, kemudian berbelok ke arah kiri, melewati pohon yang rindang dan perpustakaan sekolah yang besar. Perpustakaan ini sangat besar sekali dibandingkan dengan perpustakaan sekolah pada umumnya, besarnya kurang lebih dua kali ruang kantor guru. Konon kabarnya ini adalah perpustakaan sekolah terbesar di Provinsi Aceh. Kata ibu, dulu ia pernah bekerja di sini menjadi seorang penjaga perpustakaan saat Puput masih kecil, namun ketika ku lahir dia berhenti dari pekerjaannya itu. Bapak juga pernah mengajakku ke sini saat menemaninya mengetik. Kulihat banyak sekali buku di dalamnya yang disusun dengan rapi di atas rak-rak buku yang besar. Selain ada ruang baca, juga ada ruang pertemuan di dalamnya. Terkadang ruangan ini dipakai untuk arisan ibu-ibu komplek.

Setelah melewati perpustakaan, kemudian kami melintasi lapangan sepak bola STM. Lapangan bola ini sangat luas sekali, dua kali lipat lapangan bola pada umumnya. Kulihat banyak orang bermain bola di sini. Mungkin abang-abang STM ataupun orang Desa Wih Nareh. Di lapangan ini juga aku pernah menonton layar tancap. Kami menonton film Wiro Sableng secara beramai-ramai di malam hari, tokoh legendaris yang gila. Di sebelah barat lapangan ini juga ada lapangan basket, lapangan bulu tangkis, dan lapangan sepak takraw. Lapangan ini seringkali digunakan oleh para siswa STM untuk latihan. Aku juga pernah melihatnya. Adapun di sebelah timur dan selatan lapangan ini adalah taman-taman komplek yang indah, terdapat pinus, kembang sepatu, akasia, cemara, dan tanaman-tanaman lainnya. Orang yang menonton pertandingan pun tak akan kepanasan.

Dari lapangan ini kami melewati jalan kerikil kembali dan sampailah di gerbang komplek. Di depan gerbang inilah kami menunggu mobil toa. Lumayan lama kami berdiri di dekat pintu gerbang dan mobil toa pun datang. Ibu lalu menyetopnya. Ibu membantuku untuk naik. Lambat sekali jalan mobil ini kataku dalam hati, sepertinya ibu juga merasakannya. Lalu ia bertanya pada sang kernet, ”Sore begini penumpangnya sepi Bu jadi jalannya lambat,” begitulah jawaban sang kernet yang terus berdiri di pintu. Pintar juga ini kernet. Benar saja, sampai rumah Bu Reduk tak ada penumpang lain lagi selain aku dan ibu.

Tak perlu mengantri, ibu langsung memencet bel rumah Bu Reduk. Tak lama kemudian beliau pun datang membuka pintu. Ia langsung menyilahkan ibu dan aku masuk ke ruangannya dan meminta kami untuk duduk di depan meja kerjanya. Ibuku mau memeriksakan kandugannya. Ibuku tengah hamil rupanya. Asyik! aku mau punya adik. Tapi kok perut ibu tidak tampak besar seperti perut tetangga rumahku yang juga sedang hamil, pikirku.

Setelah mengungkapkan maksudnya, ibu pun diminta berbaring di tempat tidur yang tak jauh dari meja kerjanya. Bu Reduk mau memeriksanya. Dengan kalung besi andalannya, Bu Reduk memeriksa ibu. Entah selanjutnya apalagi yang ia lakukan. Aku tak tahu, bagaimana mungkin dia tahu keadaan ibu hanya dengan benda itu. Aku pun hanya diam saja dengan menyimpan rasa keheranan sambil duduk di kursi. Sebenarnya aku merasa ngeri kalau berada di ruangan dokter ataupun bidan, karena aku takut untuk minum obat sehingga sampai besar ibuku tak pernah memberikanku obat jika aku sakit. Setelah menginjak bangku SMA barulah aku mau minum obat.

***

Siang ini tiba-tiba banyak orang di rumahku. Aku dan Puput tampak bingung ketika memasuki rumah, dari pagi tadi kami hanya bermain saja di belakang rumah. Bapak juga tampak sibuk. Sementara Om Mus dari kemarin dia tidak pulang, katanya dia menginap di proyek.

Kudengar ibu-ibu itu berkata dengan sesama temannya yang baru datang, katanya ibuku pendarahan. Aku tak tahu apa yang terjadi, kulihat ibu terbaring lemah di kasur. Seorang dokter tengah memeriksanya. Aku dan Puput pun sedih melihatnya. Salah seorang dari ibu-ibu itu lantas membawaku dan Puput ke belakang. Beliau mencoba menenangkan kami agar tak menangis.

Tak hanya ibu-ibu saja yang datang, beberapa bapak-bapak juga ada yang datang ke rumahku. Salah seorang diantara mereka kulihat membuat lubang besar di samping rumah. Entahlah untuk apa lubang itu. Setelah lubang selesai digali, bapak keluar dengan sebuah bungkusan sapu tangan putih di tangannya.

Bapak meletakkan bungkusan sapu tangan itu ke dalam lubang yang telah digali. Sambil berdo’a bapak menguburnya dengan tanah secara perlahan-lahan. Belakangan aku tahu bahwa itu adalah janin yang keluar dari rahim ibu. Ibu keguguran dan aku tak jadi punya adik.

Kisah 1: Proyek Hortigayo

 

Perlahan kubuka mata ini, kukucek-kucek keduanya dengan jari-jemariku yang takkutahu apakah bersih atau kotor. Kulihat ibu, Mba Puput, dan bapak sudah tak ada lagi di kamar.

“Oh, mereka sudah bangun semua”. Aku pun segera bangkit, turun dari kasur empuk ini.

“Dingin,” begitu kataku saat kedua telapak kakiku menginjak lantai ubin.

Aku lalu berjalan pelan keluar kamar. Tak kuperdulikan kasur yang masih berantakakan. Selimut yang tadi membungkusku kubiarkan saja tergeletak, seprei pun terbuka tak karuan, bantal dan guling juga dalam posisi arah yang tidak jelas ke sana kemari.

Kulihat korden kuning penutup kaca ruang tamu telah terbuka lebar. Sinar matahari menembus kaca dan menerangi ruang tamu di pagi ini. Sudah terang rupanya. Kulihat TV hitam putihku berbicara sendirian menyiarkan berita pagi, tak ada yang menontonnya. Kulantas berjalan ke belakang, menjumpai ibu di dapur.

“Ade sudah bangun rupanya. Aduh kok berantakan sekali,” katanya sambil memasak.

“Mba Puput mana Ma?” tanyaku mencari Puput, satu-satunya kakakku. Usianya 2 tahun lebih tua dariku.

“Itu di belakang sama bapak. Cuci muka dulu sana di kamar mandi! Sudah mama siapkan air hangat,” ibu sepertinya tidak tahan melihat anak bungsunya ini terlihat berantakan. Saat itu aku belum punya adik, umurku saja baru sekitar 4 tahun.

Ketika pagi hari air di sini sangat dingin sekali seperti air es rasanya sehingga sudah menjadi kebiasaan orang-orang di sini membasuh mukanya ataupun memandikan badannya dengan air hangat.

Ibu lantas membawaku ke kamar mandi yang terletak di tengah rumah kami. Ia membasuh mukaku yang kotor ini, menghilangkan bekas iler yang tadi mewarnai wajahku. Cepat sekali ia membersihkannya karena ia tahu bahwa aku kedinginan meskipun sudah menggunakan air hangat.

Kemudian ia mengelap wajahku dengan kain handuk yang kering. Aku kemudian langsung berlari ke belakang rumah. Saat membuka pintu, hanya kabut yang terlihat. Aku tak bisa melihat Puput dan bapak di luar sana.

“Dingin kok Ade keluar,” suara Om Mus mengagetkanku, ia muncul dari balik kabut yang tebal. Om Mus adalah adik bungsu bapakku yang juga tinggal bersama kami di Aceh. Ia telah siap dengan pakaian kerjanya.

“Mba Puput sama bapak mana Om?” tanyaku padanya.

“Itu di kandang ayam!” tunjuknya ke arah kandang ayam kami yang ada di halaman belakang rumah.

Segera kupakai sandal jepit bututku. Aku lantas berlari untuk menjumpai Puput dan bapak. Kulihat Puput sedang bermain bersama ayam-ayam kami dan bapak sedang memberi makan ayam-ayam dengan dedak (bekatul). Aku pun bergabung dengan Puput, melihat ayam-ayam kami yang hanya beberapa ekor saja jumlahnya.

Hari ini hari minggu sehingga Puput tidak berangkat ke sekolahnya. Bapak juga tidak berangkat mengajar.

“Ayo kalian siap-siap sana, kita kan mau ke proyek!” bapak menyuruh kami masuk ke dalam rumah untuk mempersiapkan diri berangkat ke proyek. Selain di halaman depan dan belakang rumah ini, kami juga mempunyai kebun sayuran di area Proyek Hortigayo yang terletak di Desa Kung, sebuah desa di sebelah utara desa kami. Sudah menjadi kebiasaan bapak setiap hari Minggu selalu ke kebun ini.

Kami kemudian masuk. Terlihat ibu sedang menyiapkan bekal yang hendak kami bawa nanti. Bekal-bekal itu dia tata dalam rantang plastik berwarna merah.

“Sudah selesai,” kata ibu dengan pelan setelah ia selesai menata bekal kami dan peralatan lainnya. “Ayo sekarang kalian ganti baju!” aku dan Puput pun langsung berjalan ke kamar. Ibu mengganti pakaian kami, lengkap dengan jaket tebal kami. Kami tak perlu mandi, pagi yang dingin membuat kami jarang sekali mandi.

Setelah semuanya siap kami lantas ke belakang rumah, menuju bengkel pertanian. Puput turut membantu ibu membawa bekal. Bapak telah menunggu kami di sana. Ia telah siap dengan traktor merah dan gerobak kuningnya. Traktor inilah yang akan menjadi kendaraan kami menuju Proyek. Meski letaknya di belakang komplek, tapi cukup jauh kalau kami harus berjalan kaki. Apalagi kami biasanya memutar lewat jalan depan yang lebih aman.

Perlahan traktor ini mulai berjalan meninggalkan gedung Jurusan Pertanian dan komplek kami dan mulai memasuki jalan raya yang masih sepi. Kabut tebal yang putih masih menyelimuti jalanan yang kami lalui. Jarak pandang kami pun hanya beberapa meter saja. Dingin terasa sampai ke tulang. Setiap hari keadaan di Takengon memang seperti ini, sehingga wajar kalau kota ini di juluki sebagai “Kota Dingin”. Untunglah, bapak lumayan lihai menyetir traktor ini, sehingga kabut dan dingin tak jadi masalah. Aku, Puput, dan ibu duduk di gerobak. Namanya juga traktor, sudah pasti jalannya lambat, tak secepat mobil. Tapi traktor ini juga tetap bisa melalui jalanan yang naik turun. Hanya kalah dalam kecepatan saja.

Traktor mulai memasuki area proyek. Terlihat perkebunan sayuran yang terbentang luas. Proyek Hortigayo merupakan salah satu proyek perkebunan yang ada di Kabupaten Aceh Tengah. Pemilik proyek ini adalah orang luar negeri, entahlah dari mana asalnya. Sehingga tidak heran kalau banyak orang asing di sini. Bapak juga kenal beberapa dari mereka, seringkali bapak terlihat mengobrol bersama mereka. Aku hanya tahu nama salah satu dari mereka yaitu Mr. Steven. Om Mus juga bekerja di proyek ini sejak ia lulus dari STM Pertanian, tempat bapak mengajar. Seringkali ia pulang dengan membawa sayuran dari proyek ini, termasuk membawa cabe paprika yang besar itu.

Masih pagi sekali, tapi aktivitas di proyek ini sudah terlihat ramai. Om Mus sendiri sudah berangkat sejak pagi tadi sebelum kami ke sini. Kami langsung menuju kebun bapak yang sebenarnya juga masih milik proyek ini. Hanya saja bapak diizinkan untuk mengelolanya daripada tanah itu dibiarkan menganggur. Bukanlah hal yang sulit untuk mendapatkan izin karena bapak sudah kenal baik dengan orang-orang di proyek ini.

Sebuah gubuk kecil berdiri kokoh di tengah kebun kami. Sementara bapak dan ibu membersihkan kebun, aku dan Puput akan bermain di sana. Sesekali kami juga turun dari gubuk itu untuk melihat bapak dan ibu membersihkan rumput. Kadangkala aku juga ikut mencabuti rumput yang kecil-kecil.

Bapak dengan terampil mengarahkan traktor untuk membajak tanah kebun kami. Ia tak kuat kalau harus mencangkulnya sendiri. Biasanya ada beberapa abang-abang STM yang membantunya di sini, tapi sudah beberapa minggu ini aku tak pernah melihat mereka ke sini lagi. Sementara ibu akan menggunakan cangkul dan parang untuk membersihkan rumput-rumput di sekitar tanaman yang besar. Hari ini mereka tidak menanam, melainkan membersihkan lahan bekas panen Minggu lalu dan mempersiapkan lahan untuk ditanami kembali. Bapak biasanya menanami kebun ini dengan aneka sayur-sayuran, seperti kacang panjang, wortel, cabe, dan tomat. Hasilnya untuk memenuhi kebutuhan sendiri ataupun dijual. Bapak memang insinyur pertanian yang dapat menerapkan ilmunya.

Saat sinar matahari mulai terasa terik, bapak dan ibu menghentikan kerjanya. Segera mereka mengajakku ke pancuran. Ibu dan bapak hanya membersihkan sisa-sisa tanah yang menempel di tangan dan kaki mereka saja. Sementara aku dan Puput juga mandi di pancuran ini. Segar sekali rasanya. Air pancur ini berasal dari kolam besar yang ada di Proyek Hortigayo. Kolamnya sangat besar sekali, seperti embung. Plastik hitam dipasang sebagai dasar kolam ini agar airnya tak meresap ke tanah. Terkadang aku dan Puput berlari-lari mengelilingi kolam ini. Ibu pun sering mengkhawatirkan kami kalau-kalau kami jatuh ke dalam kolam setinggi 1 meter itu.

Beberapa orang pekerja proyek juga datang ke pancuran ini, mereka membawa sekeranjang besar wortel. Mereka mencuci sayuran yang berwarna oranye itu.

“Oh ada ibu, panen ya Bu!” sapa mereka, sepertinya mereka sudah mengenal ibu karena kami memang sering ke proyek ini.

“Tidak Kak, cuma membersihkan saja, sudah panen Minggu kemaren. Sepertinya proyek ini yang baru panen?” kata ibu.

“Iya Bu, ini wortel sisa panen kemaren. Kalau mau ambil saja ini Bu!” kata mereka menawarkan kepada ibu.

Mereka lalu memberikan ibu beberapa wortel yang telah dibersihkan, dengan senang hati ibu menerimanya. Ibu lalu menggigitnya, “Krenyes... krenyes...,” enak katanya. Apalagi baru dipanen, rasanya pun manis. Aku pun penasaran, aku lalu mengambil satu wortel kecil dari tangan ibu. Aku ikut-ikutan menggigitnya seperti kelinci, “Manis!” benar juga kata ibu, rasanya memang segar. Setelah aku kuliah di Biologi, aku pun tahu bahwa wortel banyak mengandung vitamin A dan sangat baik untuk kesehatan mata dan kulit.

Setelah itu kami balik lagi ke gubuk untuk menyantap makan siang kami. Ibu membawa beberapa masakan. Aku tak tahu apa nama masakan itu, yang pasti sangat enak.

Setelah makan, ibu memberesi sisa bekal kami dan alat-alat yang tadi ia gunakan untuk membersihkan kebun kami. Sementara bapak, ia menyiapkan traktor untuk pulang.

Setelah traktor siap, aku, Puput, dan ibu lantas menaiki grobak traktor itu. Bapak kembali mengemudikannya. Baru berjalan sekitar 100 meter jauhnya, tiba-tiba bapak menghentikan traktornya di depan kantor Proyek Hortigayo. Ia mau menemui seseorang katanya. Aku pun mengikutinya. Bertemu dengan Mr. Steven rupanya. Dengan lancar bapak berbicara bahasa Inggris padanya. Tentu saja aku tak tahu artinya.

Mr. Steven terlihat sangat tinggi sekali, ia memang bule yang berasal dari Belanda. Mr. Steven tinggal di Takengon bersama istri dan anak-anaknya. Bapak kenal baik dengan keluarga Mr. Steven. Bapak pernah mengajakku dan Puput ke rumahnya di daerah kota, lalu kami diberinya pensil raksasa sebagai oleh-oleh dari Belanda katanya. Hampir setengah meter panjang pensil itu, warnanya putih dengan penghapus yang berwarna merah, ada tali kuning kecil di dekat penghapusnya, tapi sekarang pensil itu entah kemana. Aku juga pernah bermain bersama anaknya yang masih bayi, kulitnya merah dan sangat imut sekali. Hihi... aku pernah melihat baby orang bule secara langsung.

Setelah berbicara sejenak, bapak kembali lagi keluar dan aku kembali mengikutinya. Bapak tak lantas naik ke traktor, ia memeriksa salah satu ban gerobak.

“Kempes!” begitu katanya.

“Terus bagaimana Pak?” tanya ibu, ia tampak khawatir sekali.

“Naik saja dulu!”

“Ya sudah Pak, nanti dari Desa Kung, mama dan ade naik mobil toa saja,” ibu mencoba memberikan solusi.

“Ya sudah, ayo pada naik!” kami pun langsung naik.

Dengan berjalan yang lebih lambat daripada berangkat tadi kami pun tiba di pertigaan Desa Kung. Aku dan ibu lantas turun. Sesuai dengan perkataan ibu kami akan melanjutkan perjalanan pulang dengan naik angkutan mobil toa. Sementara Puput ia tetap di gerobak, ia mau menemani bapak. Paling tidak, beban di gerobak itu sudah berkurang sekarang.

Sebuah Prolog: Kecilku di Kota Dingin

 

Kumpul dengan teman-teman adalah hal yang menyenangkan, membicarakan apa saja, termasuk masa lalu ketika bersama. Terkadang juga saling bertukar pikiran menceritakan masa kecil kita masing-masing. Pengalaman masa kecil yang berbeda terkadang membuat kita tidak percaya diri untuk menceritakannya kepada orang lain. Inilah yang terkadang membuatku sedikit minder untuk menceritakan masa kecilku. Masa kecilku rasanya tak umum saja dengan mereka, aku bukan hanya bermain masak-masakan, kelereng, ataupun lompat tali. Tidak! Tapi lebih dari itu. Dengan kehidupanku yang sekarang ini siapa yang sangka kalau aku pernah berjualan jajan di sekolah dan bekerja di pembibitan kopi saat aku masih duduk di sekolah dasar. Siapa sangka juga kalau aku yang sekarang anak rumahan ini dulunya sering bermain di gunung dan sungai. Mungkin hanya keluarga dan teman-teman masa kecilku saja yang tahu.

Terkadang ada rasa takut yang terselubung dalam kalbu tatkala aku akan menceritakan masa kecilku bahwa aku pernah tinggal di tengah-tengah provinsi paling barat Indonesia: Nangroe Aceh Darussalam. Tepatnya aku tinggal di Desa Wih Nareh, Kecamatan Pegasing, sekitar 8 kilometer jauhnya dari pusat Kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah yang merupakan bagian dari daerah Dataran Tinggi Pegunungan Gayo. Aku takut diri ini dikatakan pembual oleh teman-temanku. Tapi beginilah kenyataan yang aku alami, menghabiskan masa kecilku di “Kota Dingin” Takengon. Aku yakin, beberapa dari kalian juga ada yang mengalaminya, nasib anak perantauan yang pernah pindah rumah.

Masa kecilku begitu indah untuk dilupakan, begitu istimewa menghiasi hari-hariku di Kota Dingin Takengon, masa-masa dimana aku mengenal hidup dan persahabatan untuk pertama kali. Masa kecil itulah yang telah membentuk sifat dan karakterku sekarang, termasuk kemampuanku dalam berbagai hal. Aku tak mau menyia-nyiakan masa kecil yang turut membesarkan namaku. “Selama ini aku tak pernah mendengar dari orang lain tentang masa kecil yang seindah masa kecil kita,” begitulah salah seorang teman masa kecilku pernah berkata dalam suratnya padaku. Seorang teman lagi berkata, “Ingin kubuat novel kisah-kisah kita ini”. Hal itu semakin mendorongku untuk bisa membuat tulisan ini.

Tulisan ini terutama kupersembahkan untuk Almarhum Ayahanda Mukodam tercinta. Menulis cerita ini tentu saja tak lepas dari kehidupannya. Karya ini juga kupersembahkan buat keluargaku: ibunda, Mba Puput, dan adikku Ragil.

Karya ini juga tentunya kupersembahkan buat kalian semua, teman kecilku yang kini masih melekat dalam kalbu yang telah menghiasi hari-hariku di Kota Dingin Takengon: Febry, Laras, Bang Galih, Bang Miga, Nova, Agri, Hafidz, Kak Dayah, Kak Ani, Fitri, Kak Ami, Bang Ivan, Yoga, Kak Iin, Kak Titi, Kak Dwi, Ranti Mauliya, Ana, Iyen, Rieke, si kembar Nyakna-Nyakni, Nanda, Adit, Ridho, Winoto, dan semua teman-teman yang telah memberi warna dalam hidupku. Aku masih ingat saat kenapa kita harus berpisah. Andai saja saat itu aku tahu akan arti persahabatan, mungkin ku kan memilih untuk terus bersama kalian.

Aku tak tahu apa yang sekarang kalian rasakan, apakah namaku masih terukir dalam hati kalian ataukah tidak. Namun, setiap saat, setiap waktu diri ini terus bersabar, demi menanti perjumpaan yang entah kapan datangnya. Aku yakin bahwa Allah akan mempertemukan kita kembali teman…. Hanya Dia-lah yang tahu kapan saat yang tepat bagi kita untuk bertemu, entah esok, lusa, atau menjelang akhir hayat kita nanti.

Alhamdulillah Allah mengaruniakanku daya ingat yang tinggi dan kemampuanku dalam hal tulis-menulis. Masa kecil yang benar-benar berkesan dan masih kuingat hingga kini bermula saat umurku 4 tahun. Sehingga cerita ini pun kumulai pada umur itu. Maaf, sudah sekian lama aku ingin menuliskannya, namun baru sekarang mimpi itu terwujud. Mohon luangkan waktu untuk membacanya teman-teman kecilku. Sudahlah, kumulai saja kisah hidup yang penuh liku-liku ini.