Kamis, 18 September 2014

Wisata Pemalang (Part 1)


Buku "Profil Pariwisata 2014 Pemalang" (Andam, 2014)
Alhamdulillah sore tadi saya berkesempatan mengunjungi Pemalang Expo yang digelar di Gedung Serba Guna Pemalang. Secara, jarang-jarang kan ada even seperti ini. Lumayan, dapat buku baru dan gratis pula untuk menambah buku koleksi saya, yaitu buku “Profil Pariwisata 2014 Pemalang” yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pemalang. Buat orang lain buku ini mungkin biasa saja tapi buat saya buku ini sangat bermanfaat sekali. Buku ini menyajikan informasi mengenai berbagai tempat wisata menarik yang ada di Kabupaten Pemalang, lengkap dengan informasi wisata kuliner, transportasi, dan akomodasinya. Tentu saja buku ini sangat bermanfaat sekali bagi saya dalam mengenal kota kelahiran saya ini, ya biar nggak buta Pemalang lah. Siapa tau kan ada teman yang main, saya pun jadi punya referensi. Hehe…
Mau tau tempat-tempat menarik apa saja yang ada di Pemalang? Yuk baca uraian berikut ini yang saya kutip dari buku “Profil Pariwisata 2014 Pemalang”.
1.     Pantai Widuri
Pantai Widuri terletak sekitar 2 Km ke arah Utara dari Pusat Kota Pemalang. Di Pantai ini kita dapat menjumpai adanya water park, dermaga, food court, dan sirkuit. Pengunjung bias menikmati pantai di dalam maupun diluar objek wisata Widuri.
2.     Pantai Keramat Sari (Blendung)
Pantai ini berupa pantai alami dengan hamparan pasir bersih yang terletak kurang lebih 32 Km timur laut Kota Pemalang yaitu di Desa Blendung Kecamatan Ulujami.
3.     Pantai Tingkir (Nyamplung Sari)
Tempatnya tak kalah menarik dengan Pantai Widuri dan Keramat Sari. Pantai ini terletak di Kecamatan Petarukan, sekitar 12 Km kea rah timur laut Kota Pemalang. Pantai ini banyak ditumbuhi Pohon Cemara dan Mangrove.
4.     Telaga Silating
Terletak sekitar 42 Km sebelah selatan Kota Pemalang, tepatnya di Desa Sikasur, Kecamatan Belik. Telaga ini dikelilingi oleh pohon-pohon yang rindang. Kita juga bisa menikmati sepeda air di telaga ini.
5.     Curug Bengkawah
Terletak tidak jauh dari Telaga Silating, sekitar 1 Km dan masih satu desa.
6.     Bukit Mendelem
Pertama kali saya melihat bukit ini saya dibuat takjub yang luar biasa. Bukit batu yang berdiri kokoh. Terletak di Desa Belik, Kecamatan Belik, tepat di belakang terminal Belik. Pohon-pohon hijau nan rindang mengelilingi bukit ini.
7.     Telaga Rengganis
Telaga ini terletak di Kecamatan Watukumpul dengan luas sekitar 1 Ha. Telaga ini dikelilingi oleh pepohonan pinus dan bersebelahan dengan Bukit Mendelem, hal ini menjadikan tempat disekitarnya sangat menarik untuk dijadikan objek heking dan camping.
8.     Agro Wisata Kebun Teh Semugih
Ini dia kebun tehnya orang Pemalang. Terletak di Desa Banyumudal, Kecamatan Moga, sekitar 45 Km dari Pusat Kota Pemalang ke arah selatan.
9.     Pemandian Alam Moga
Pemandian ini bersumber dari mata air alami yang memancar dari bawah kola mini. Terletak di Desa Banyumudal Kecamatan Moga.
10.Jambe Kembar
Jambe Kembar merupakan objek wisata keluarga dengan suasana pegunungan dan pedesaan, dilengkapi dengan rumah makan, penginapan, dan water boom.
11.Zatobay Water Boom
Terletak di bagian timur Kota Pemalang. Fasilitas yang ditawarkan meliputi kolam arus, playground pool dan ember tumpah, kids pool dan air mancur, serta Olympic pool.
12.Rainbow Rafting Comal River
Rafting ini dikelola oleh PT Jeram Indah Sungai Comal. Rute yang ditempuh kurang lebih sepanjang 8 Km yang dimulai di Desa Kebanggan Moga sampai Desa Kecepit Moga.
13.Desa Wisata Cikendung
Desa wisata ini terletak di Kecamatan Pulosari. Selain tempatnya yang asri karena dikelilingi oleh pohon-pohon yang rindang dan air terjun Watu Lawang, pengunjung juga dapat menikmati penampilan kesenian Silakupang yang memadukan antara Sintren, Lais, Khuntulan, dan Kuda Kepang.  
14.Wisata Mangrove
Terletak di Desa Mojo Kecamatan Ulujami. Selain menikmati hutan mangrove, pengunjung juga dapat menikmati kuliner seafood, yaitu bandeng cabut duri dan kepiting soka.
15.Makam Syeh Maulana Syamsudin Tanjungsari
Terletak di sebelah selatan Pantai Tanjungsari Pemalang.
16.Makam Syeh Pandandjati
Terletak di Bantar Bolang.
17.Makam Pangeran Benowo
Terletak di Desa Penggarit Pemalang.

Senin, 01 September 2014

Alamat Palsu?


“Takut, gelisah, terharu, dan sedih,” kiranya begitulah gambaran saya ketika pertama kali naik travel di tahun 2010 lalu. Pergi mendadak demi mengurus nilai kuliah yang tak keluar, padahal saat itu saya sedang mengambil program kursus di Pare, Kediri. Tak tanggung-tanggung, saya naik travel di malam hari seorang diri untuk jarak yang lumayan jauh Kediri-Semarang yang memakan waktu sekitar 7 jam lamanya. Ngapain takut, toh banyak penumpang lain? Ini dia masalahnya, semua penumpang di mobil itu adalah pria kecuali saya, mereka juga sepertinya rombongan. Perasaan lega mulai saya rasakan ketika sang supir menaikkan seorang penumpang di tengah jalan yang merupakan seorang ibu. Kebetulan keesokan harinya saya ulang tahun. Tiba-tiba ayah saya menelepon untuk mengucapkan selamat ketika saya masih dalam perjalanan. Sms pun berdatangan dari teman-teman saya. Terharu rasanya mendengar dan membaca pesan-pesan mereka saat saya dalam kondisi yang tidak nyaman.
Itu adalah salah satu cerita ketika saya berpergian. Saya mungkin termasuk orang yang sering berpergian, sebagian karena memang disengaja namun tak jarang juga saya pergi secara mendadak. “Kamu enak ya mba, sering pergi-pergi terus jalan-jalan”, seorang teman berkata kepada saya. Dalam hati saya berpikir, enak sih enak jalan-jalannya tapi sebenarnya jalan-jalan bukanlah tujuan utama saya, itu cuma pintar-pintarnya saya saja menyelipkan jalan-jalan sebagai tujuan sampingan dengan tetap memanaje waktu dan  meminimkan anggaran. Belum lagi tak selalu perjalanan saya semulus dengan yang saya harapkan, tak jarang saya jatuh sakit setelah kembali ke rumah karena biasanya sekali pergi saya akan pergi ke beberapa kota sekaligus dan sekali menganggur ya memang benar-benar di rumah. Ada juga beberapa pengalaman menarik yang pernah saya alami yang tentunya memberi kesan tersendiri bagi saya seperti beberapa pengalaman lainnya yang akan saya ceritakan di sini.
“Penghuni Baru atau Penyelundup,” mungkin kata-kata itu sempat terlintas dalam pikiran teman-teman sekos dan ibu kos teman saya beberapa waktu lalu ketika saya pergi ke Yogya. Secara, saya menginap di kamar si Fefri sedangkan si Fefri sedang mudik. Trus kok saya bisa masuk? Nah, begini kronologinya. Saya harus ke Yogya secara mendadak untuk mengikuti tes di sebuah perguruan tinggi. Sebelumnya saya sudah ke kota ini beberapa kali dan selalu menginap di kosnya si Fefri. Sebelumnya Fefri sekamar dengan Kiki, ketika saya datang, kami pun jadi bertiga sekamar. Pada kedatangan saya kali ini si Fefri tengah mudik dan si Kiki sudah pindah kos dan pada waktu yang bersamaan keluarganya juga datang mengunjunginya. Sebenarnya ada seorang lagi yang saya kenal di Yogya, Eva namanya, dia adalah keponakan Fefri. Hanya saja dia tinggal di pondok dan tak bisa menerima tamu yang menginap. Saya sempat bingung, menginap di hotel rasanya tidak mungkin karena saya di Yogya bukan sehari dua hari tetapi satu minggu, kebayangkan berapa biaya yang harus saya keluarkan kalau saya harus menginap di hotel. Maklumlah, saya belum memperoleh pekerjaan sehingga saya juga harus mengirit pengeluaran seminim mungkin. Fefri pun menyarankan agar saya menginap saja di kosnya. Saya pun akhirnya mengambil langkah ini. Si Kiki menyambut kedatangan saya dan mengantarkan saya masuk ke kamar kosnya si Fefri. Setelah itu dia pun meninggalkan saya. Kosnya Fefri ini sangat sepi sekali, hanya ada 4 orang yang ngekos yang sangat jarang sekali berada di kos. Jadilah sehari-hari saya sendiri. Untuk bertahan hidup saya memasak sendiri di dapur dengan memanfaatkan bahan-bahan makanan yang tersedia di kulkas yang sempat dibeli Fefri sebelum ia mudik. Sedangkan Eva, ia bersedia mengantar saya wira-wiri selama saya di Yogya, kebetulan dia juga sudah libur kuliah. Selama saya berada di sana, awalnya hanya teman-teman kos Fefri saja yang tahu. Naasnya, pas hari terakhir saya tidak bisa membuka pintu garasi dan minta tolong sama ibu kosnya, disitulah si ibu kos tahu keberadaan saya. Saya kira si Fefri/Kiki sudah bilang sama si ibu tapi sepertinya belum karena si ibu malah menginterogasi saya. Untungnya saja hari itu saya terakhir di yogya dan keesokan harinya saya pun capcus dari rumah kos itu. Hihi….
Ini nih pengalaman yang baru saja saya alami beberapa waktu lalu. “Alamat Palsu?” sempat terlintas dalam pikiran saya saat pergi ke Bandung beberapa waktu lalu untuk menemui seseorang yang tak saya kenal sebelumnya. Alamat yang tidak jelas di tambah handphone si empunya rumah yang susah dihubungi membuat saya harus menahan malu ketika salah memasuki rumah orang untuk beberapa kali. Saya juga merasa bersalah dengan supir travel yang mengantarkan saya dan beberapa penumpang lain yang juga belum diantar. Saya telah membuat mobil travel itu putar-putar selama satu jam lamanya hanya untuk mencari alamat rumah yang saya tuju. Mau bagaimana lagi, saya bingung dan takut. Si supir dan penumpang lain juga mungkin juga nggak tega dengan nasib saya. Akhirnya saya putuskan untuk turun di minimarket terdekat. Saya segera menelepon Lutfi teman saya yang lain dan memintanya untuk menjemput saya. Saya pun akhirnya menginap di kosnya untuk semalam, baru keesokan harinya pagi-pagi sekali Lutfi mengantar saya mencari alamat yang saya tuju. Ternyata, rumahnya sangat dekat dengan kos Lutfi itu dan semalam saya juga sempat melewati rumah itu.

Sabtu, 30 Agustus 2014

Bu Kiki: Keterbatasan bukan Penghalang


Mungkin tidak banyak yang tahu akan sosok seorang Bu Sri Rejeki (Kiki), beliau adalah mantan seorang dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan pernah menjabat sebagai ketua LPM kampus tersebut. Sebelumnya saya tak pernah mengenal Bu Kiki sama sekali, seorang kerabat jauhlah yang mengenalkan saya pada beliau melalui komunikasi telepon. Seperti orang yang belum kenal pada umumnya, saya juga sempat merasakan kecemasan ketika akan bertemu dengan beliau, terutama ketika kerabat jauh saya itu meminta saya untuk datang ke Bandung menemui Bu Kiki. Dengan modal nekat, saya pun berangkat ke Bandung seorang diri. Saya tidak begitu mengerti kota kembang ini, saya hanya pernah ke sini sekali dalam rangka study tour sekolah.
Kedatangan saya di Bandung disambut baik oleh Bu Kiki. Beliau ramah sekali, jauh dari pikiran saya yang sempat mengira akan tegang seperti bertemu dengan seorang profesor yang killer dan to the point. Saya pun di ajaknya mengobrol ngalor-ngidul tentang pengalaman hidupnya. Beliau dilahirkan pada tahun 1950 di Langsa, Aceh Timur. Ayah beliau adalah seorang dokter dan ibunya adalah seorang keturunan bangsawan Yogyakarta. Karena profesi ayahnya ini maka beliau sering berpindah rumah sejak kecil: Langsa, Palembang, dan terakhir Bandung. Sejak kecil beliau mengalami keterbatasan fisik, beliau menderita penyakit polio yang menyebabkan kedua ukuran kakinya berbeda sehingga beliau mengalami sedikit masalah ketika berjalan. Saat kecil, beliau juga harus menggunakan sepatu besi yang membantu dan melindunginya saat berjalan. Keterbatasan fisik tidak lantas membuat beliau dimanjakan oleh keluarganya yang masih keturunan Hamengkubowono VI ini. Beliau tidak pernah menganggap dirinya pintar tapi orang-oranglah yang menganggap beliau pintar. Nilai rapot beliau selalu 9 dan 10. Selepas menamatkan sekolah dasar beliau lantas masuk sekolah berasrama sampai SMA. Kemudian beliau melanjutkan studi dengan kuliah di Jurusan Elektro ITB, kemudian beliau pindah jurusan ke astronomi. Beliaulah satu-satunya mahasiswa jurusan astronomi angkatan 1973 ITB. Beliau selalu lulus dalam setiap testing yang beliau ikuti, teman-teman beliau menjulukinya dengan “ahli testing”. Selain selalu berprestasi, keterbatasan fisik juga tidak menjadi penghalang bagi beliau untuk keliling dunia. Saat tengah menyelesaikan skripsi, dosen pembimbing mengirim beliau seorang diri pergi ke Bangkok untuk mencari referensi karena kata-kata yang tidak sengaja beliau ucapkan saat bimbingan dengan sang dosen, “Kalau ada referensi dari Bangkok, saya pasti selesai dalam dua bulan”. Setelah lulus sarjana kemudian beliau melanjutkan studi pascasarjana di Amerika dengan beasiswa dari pemerintah. Saat bekerja beliau juga sering keliling Eropa.
Selain menguasai beberapa bidang ilmu seperti elektro, astronomi, statistik, matematika, dan komputer, beliau juga orang yang serba bisa. Beliau bisa memasak, menjahit, dan menyanyi. Saat menjadi dosen di kampus, beliau sempat bergabung menjadi anggota tim paduan suara kampus.
Bersama Bu Kiki dan Putrinya (Andam, 2014)
Sekarang beliau telah pensiun dari menjadi Dosen ITB sejak 10 tahun lalu. Hari-hari tuanya beliau habiskan untuk silaturahmi dengan kerabat-kerabatnya dan menemani putri semata wayangnya. Beliau juga suka membantu orang lain, dua orang pembantunya beliau sekolahkan sampai SMA dan keduanya kini telah menjadi orang yang sukses. Begitulah kiranya pengalaman hidup beliau yang dapat saya sampaikan di sini. Tentunya, banyak pelajaran yang dapat di petik dari kisah ini.

Senin, 11 Agustus 2014

Pesona Pantai Ujung Negoro dari Kereta Api

"Naik kereta api
Tut...tut...tut..."


Tiga tahun lalu saat saya masih kuliah di Semarang, rasanya naik Kereta Api (KA) Kaligung Jurusan Tegal--Semarang adalah suatu rutinitas yang harus dilalui ketika mudik ke kampung halaman. Perjalanan dengan kereta api sepertinya memang sudah menjadi favoritnya para mahasiswa meski perjalanan kereta saat itu tak senyaman sekarang. Kalau sekarang satu orang satu tempat duduk, berbeda halnya dengan zaman saya kuliah dulu, jangankan dapat tempat duduk, masuk kereta saja sudah untung dan harus berdesak-desakan di dalam kereta. Pernah sekali saya harus mengembalikan tiket karena kereta sudah penuh sesak. Tidaklah heran saat itu kalau ada penumpang yang pingsan di dalam kereta karena sesak nafas.
Usut punya usut, inilah beberapa alasan kami tetap memilih kereta. Pertama, tarifnya beda jauh dengan bus, saat itu tarif kereta Kaligung Jurusan Tegal--Semarang  kelas ekonomi hanya Rp 15.000,00 dan Rp 25.000,00 untuk kelas bisnis. Sedangkan tarif bus patas mencapai Rp 40.000,00. Naik KA Kaligung kelas ekonomi jauh lebih asyik daripada yang bisnis karena tempat duduknya yang berjejer seperti di busway membuat ruangan terasa lebih lebar. Kedua, waktu tempuh yang lebih pendek, berbeda 1-1,5 jam dengan bus. Ketiga, ramai-ramai duduk di kereta (meski terkadang lesehan) dengan teman-teman adalah hal yang mengasyikkan, bisa ngobrol ngalor-ngidul. Keempat, ini nih yang tak ditemui di jalur kereta api lainnya selain di jalur Pantai Utara Jawa yaitu pemandangan laut dan hutan karet di daerah Ujung Negoro Kabupaten Batang. Pemandangan laut yang masih alami ini memberikan kenikmatan tersendiri bagi para penumpang KA yang melaluinya. Setiap melewatinya saya ingin sekali mengabadikannya namun sampai saya lulus tak satu pun gambar dari  yang berhasil saya peroleh karena kondisi kereta yang seringnya penuh sesak membuat saya tak bisa mengambil gambar dengan posisi yang nyaman. Kini, setelah tiga tahun saya baru melaluinya kembali saya pun akhirnya bisa mengambil beberapa gambar dengan kamera pocket saya. 



Terlihat Pantai Ujung Negoro dari Kereta Api (Andam, 2014)

Sekarang, dengan pelayanannya yang lebih baik, KA tetap menjadi favorit kami meski tarifnya juga meningkat menjadi Rp 50.000,00. KA Kaligung juga telah berubah nama menjadi KA Kaligung Mas. Kini tidak hanya KA Kaligung Mas saja yang siap mengantarkan penumpang Jurusan Tegal—Semarang, tetapi juga ada KA Kamandaka Jurusan Purwokerto—Semarang yang juga bisa dinikmati oleh penumpang dari Pemalang, serta KA Pekalongan Ekspres--Semarang yang dapat dinikmati oleh penumpang dari Pekalongan.
Selamat menikmati perjalanan Anda! ^_^