Malam tak bertuah, siang tanpa pesan
Sinisnya hari menyapa diriku
Manusia biasa mungkin takkan sanggup
Merenangi nasib gelap gulita
Bentangkan hatiku
Tuhan peluk aku
Cinta sahabat menafkahi jiwa
Reff:Jika aku menjadi seperti yang lain hidup bercahaya
Mungkin saja aku kehilangan rasa syukur, tak tersenyum dalam damai
Coba kau jadi aku, sanggupkah bernafas tanpa udara
Namun ku nikmati nasib dan takdir hidup ini bila Tuhan yang mau
Repeat *Repeat reff
Jika aku menjadi berubah melawan garis yang tertulis
Bukannya Tuhan tidak mendengar doa kita tapi Ia tahu yang terbaik
Jika aku menjadi
Kamis, 10 Januari 2013
Apa Artinya Cinta (Melly Ft. Ari Lasso)
Tiba-tiba engkau ada
Kemudian engkau hadir
Laksana kerdil ku memeluk
Lihat aku lebih dalam
Di matamu ku melihat
Ada cinta yang tersirat
Sirami hati merebak
Barangkali aku salah
Ku terdiam bukan bisu
Tahu engkau besar malu
Tutupi rasa gelisah
Biar saja waktu nanti
Yang menikmati kisah ini
Bersamamu aku senang
Belum juga kah kau menyadarinya
Akulah yang pantas untuk kau cintai
Di bawah langit biru aku bersumpah
Diriku tanpamu apa artinya cinta
Arti cinta ini sudah menelan waktuku
Siang malam hanya untuk pikirkan engkau
Sejuta kali aku berani bersumpah
Diriku tanpamu apa artinya cinta
Biar saja waktu nanti
Yang menikmati kisah ini
Bersamamu aku senang
Belum juga kah kau menyadarinya
Akulah yang pantas untuk kau cintai
Di bawah langit biru aku bersumpah
Diriku tanpamu apa artinya cinta
Kemudian engkau hadir
Laksana kerdil ku memeluk
Lihat aku lebih dalam
Di matamu ku melihat
Ada cinta yang tersirat
Sirami hati merebak
Barangkali aku salah
Ku terdiam bukan bisu
Tahu engkau besar malu
Tutupi rasa gelisah
Biar saja waktu nanti
Yang menikmati kisah ini
Bersamamu aku senang
Belum juga kah kau menyadarinya
Akulah yang pantas untuk kau cintai
Di bawah langit biru aku bersumpah
Diriku tanpamu apa artinya cinta
Arti cinta ini sudah menelan waktuku
Siang malam hanya untuk pikirkan engkau
Sejuta kali aku berani bersumpah
Diriku tanpamu apa artinya cinta
Biar saja waktu nanti
Yang menikmati kisah ini
Bersamamu aku senang
Belum juga kah kau menyadarinya
Akulah yang pantas untuk kau cintai
Di bawah langit biru aku bersumpah
Diriku tanpamu apa artinya cinta
Rabu, 02 Januari 2013
Malam Pergantian Tahun
Semuanya
benar-benar diluar dugaan. Malam itu
sang koordinator Ayu Mouri tidur lebih awal, Enk Minuscula yang bosan pun ikut
tertidur menyusulnya. Aku pun asyik
mengetik proposalku hingga tengah malam. Baru saja aku update status “Malam ini
pun masih setia dengan proposal”, eh Ayu Mouri malah bangun saat jam sudah
menunjuk pukul 11 malam.
Ayu
pun mengajakku keluar, Enk pun kita bangunkan dengan paksa. Jadilah kita
bertiga keluar malam itu pada pukul 11.30 malam. Kita pun masih bingung mau
kemana. Sebenarnya ada tawaran untuk bergabung dengan teman-teman kelas lainnya
yang sedang mengadakan acara di kos salah seorang teman, tapi kita tidak
mungkin kesana karena jauh dan kendaraan yang terbatas. Jadilah kita keluar di
sekitar kampus saja dengan naik motor bertiga ala ‘Cenglu’ hahaha…… Tempat tujuan pertama kita adalah membeli
kembang api. Terus mengitari jalanan kampus UNSOED Grendeng dan memutar arah menyusuri Jalan Gunung Muria
menuju kampus UNSOED Karangwangkal untuk menyaksikan kembang api dari Gedung
Jurusan Farmasi. Di Gedung Farmasi kita bertemu dengan Mas Yogi, teman sekelas
kita. Kami pun menyaksikan pesta kembang api di sekitar GOR Satria dari Gedung
Farmasi. Hanya beberapa saat kita disana kemudian dengan berjalan kaki kita
menuju ke Gedung LPPM. Di sanalah kami membuat acara yang tidak diduga-duga
sebelumnya.
Gedung
LPPM masih terlihat ramai, ada beberapa orang penjaga disana. Kebetulan juga
gedung itu sedang ditata untuk acara nikahan esok harinya. Awalnya kami hanya
pesta kembang api saja bersama dengan para penjaga LPPM. Saat kembang api
memercikkan cahayanya diangkasa, sungguh luar biasa, semua beban rasanya
hilang, yang ada hanyalah kegembiraan dan kebersamaan.
![]() |
| Mas Luqman, sang penjaga LPPM menyalakan kembang api |
Dua
kembang api yang kami bawa sudah habis. Lantas apa acara kami selanjutnya???
Cari
makan aja, sambil kita nongkrong di depan. Ayu dan Mas Yogi pun pergi untuk membeli
makanan. Saat mereka kembali, ternyata tidak hanya makanan dan minuman saja
yang dibawa, tetapi juga tiga bungkus lilin.
“Ayo kita buat tulisan dengan lilin ini: 2013
BU MIL”.
Ayu,
Mas Yogi, Enk, dan Aku pun segera memotong dan menata lilin itu sehingga
membentuk tulisan “2013 BU MIL”
Potongan
lilin yang tidak rata membuat kami kesulitan untuk menata lilin itu, tapi
berkat semangat dan usaha yang keras kami pun bisa mendirikan semuanya. Semua lilin dinyalakan.
“Ayo difoto”.
“Aduh kameranya ga ada”.
“Pake Hp-pake HP”.
“HPku ga canggih, fotonya kabur. Pake HP Mas
Yogi aja yang lebih canggih”.
“HPnya mati”.
“Di charge cepat, mumpung lilinnya masih nyala”.
Mas
Yogi pun langsung berlari mencari sumber listrik di Gedung LPPM. Beberapa saat
kemudian dia pun dating dan mengambil beberapa gambar.
“Aduh ga keliatan semuanya, kurang tinggi
ngambil gambarnya”.
“Ambil kursi ayo cepat, lilinnya sudah ada yang
mati”.
“Ayo dinyalakan lagi”.
Mas
Yogi pun berlari ke dalam ruangan untuk mengambil kursi. Kemudian ia pun
mengambil beberapa gambar lagi…. Selesai mengambil gambar, saatnya tiup
lilinnnnnnn…… kami pun meniupnya bersama-sama, merasakan kepuasan kami…
Semua
lilin sudah mati, sebagai Mahasiswa Ilmu Lingkungan yang bertanggung jawab kita
pun membersihkan bekas lilin-lilin itu, termasuk ‘mengepel parkiran LPPM dengan
tangan’ hahaha…. Cinta kampus banget ya…
Acara
malam itu pun berakhir pukul 03.00 Wib dini hari. Malam itu benar-benar diluar
dugaan. Mungkin ini adalah malam pertama dan terakhir kami merayakan tahun baru
bersama. Semoga harapan, impian, dan cita-cita kita dapat tercapai di tahun
2013 ini. Bukan hanya malam ini saja kebersamaan kita, tapi juga di malam-malam
yang lain ^_^
Selasa, 16 Oktober 2012
International Seminar on Mangrove
At the first day, the seminar
is started with dinner and java dance performance, that is Lengger Dance,
original dance from Banyumas Regency. After that is opening speech by Prof. Dr.
Edy Yuwono, Ph.D., as a Head of UNSOED. The second agenda is explanation about
REDD+ by Prof. Dr. Kuntoro Mangkusubroto as a Directur of REDD+
Satgas. REDD+ is abbreviation from Reducing Emission from
Deforestation and Forest Degradation. The country who produce many emission,
example CO2 must pay to the country who have large forest because
reducing emission. Indonesia is one of the country who have large forest. Large
of Indonesia forest is number 3 in the world and number 1 for mangrove.
The agenda at that night is
closing by Calung art performance from students of Economy Faculty of UNSOED.
Calung art also called Kentongan art, also original from Banyumas Regency. The
participants are very antusiasm to enjoy this entertainment, included me and I
want to watch it again in other time.
At the second day is top of
seminar. Many speakers invites, they are Prof. Michael Muchlenberg from
Germany, Dr. Chan Hung Tuck from Japan, Ir. Budi Rustomo, Ph.D from UNSOED,
Sanjay Swarup from Singapore, I Nyoman
Suryadiputa from Wetland International Organization, Lucky Adrianto from IPB,
etc. The seminar is discuss about Conservation related to REDD+, mangrove
in Indonesia (regulation, status, and potency), balancing mangrove conservation
and utilisation, community empowerment in mangrove buffer zone, environment,
mangrove mapping, mangrove carbon pools and climate change, social economy, and
community empowerment.
Selasa, 04 September 2012
Semalam di Rumah Sakit
Alhamdulillah
aku sudah bisa nginap di rumah lagi. Yach, kemaren aku baru saja aku mengalami operasi
gigi (odontektomi). Meski Cuma operasi kecil saja, tapi dokter tidak
mengijinkanku untuk langsung pulang. Sehingga aku pun menginap di rumah sakit
selama sehari semalam.
Hal
ini terjadi karena dua gigiku mengalami impaksi, yaitu tumbuhnya gigi ke
samping (ke luar rahang). Akibatnya selama ini aku sering mengalami pusing. Dampak lebih
lanjut dapat merusak jaringan-jaringan di sekitarnya dan makanan yang tersumbat
sulit dikeluarkan. Sebelum semua hal itu terjadi, aku pun memutuskan untuk
operasi saja, mumpung masih ada ASKES. Gigi impaksi ini awalnya ku ketahui
sejak enam bulan lalu saat ku periksa gigi seriku yang pernah pecah saat kelas
satu MTs karena kena tralis besi. Berhubung waktu itu sudah mulai masuk kuliah,
aku pun menundanya sampai liburan kuliah tiba. Dan akhirnya tanggal 3 september
kemaren operasi pun di lakukan.
Awalnya
aku kukira aku bakalan tidak sadar karena ada dua gigi yang akan di ambil, gigi
bungsu kanan dan kiri. Namun ternyata aku masih tetap sadar karena hanya gigi bungsu kiriku saja yang diambil, gigi bungsu kananku
akan diambil dalam waktu yang berlainan, jika ada kesempatan. Sebenarnya aku menginginkan
dua-duanya sekaligus, namun dokter tidak mengizinkan. Ya mungkin kalau dua-duanya
diambil sekalian aku akan kesulitan makan untuk beberapa hari karena kanan dan
kiri mulutku mengalami luka.
Meski
nginap di rumah sakit, aku tidak terlihat seperti pasien pada umumnya. Aku masih
bisa jalan-jalan keliling rumah sakit dan keluar masuk rumah sakit. Ya aku
terlihat sehat. Jadi, aku anggap saja sedang piknik dan menginap di hotel,
Hotel Dr. M. Ashari. Hahaha… dan yang menemani aku tidur semalaman di rumah
sakit juga adeku yang masih smp. Anaknya yang imut-imut dan tingkah lakunya
yang lucu menjadi hiburan buatku. Kerap kali aku pun harus menahan tawa.
Uniknya
lagi, di ruang Merak itu kamarku
bersebelahan dengan kamar tetangga yang juga masih saudaraku. Bertemulah kami
di sana tanpa disengaja. Dan otomatis, orang-orang yang datang menjenguknya
juga menjengukku. Waduh... sebenarnya aku tak ingin para tetangga tau, eh malah
pada datang. Malunya lagi, kondisiku terlihat sehat, tapi malah di rumah sakit.
Hehe…
Kalau
boleh memilih, setiap orang pasti akan memilih untuk tidak sakit, apalagi harus
menginap di rumah sakit, meski itu gratisan. Demikian halnya denganku yang
ingin terus sehat.
Jumat, 17 Agustus 2012
Kharismanya.......
Kedatangan tukang paket siang ini mengagetkanku.
Tak biasanya ku menerima paket. Yach, siang itu aku menerima paket dari Pak
Wandi, Aceh Tengah. Paket itu ditujukan kepada Bapak. Pak Wandi adalah teman
Bapak di Aceh. Kedua putrinya dulu juga santri-santri Bapak di TPA Al-Furqan.
Bapak sangat senang sekali mendapat kiriman paket
dari Pak Wandi. Peci dengan motif karawang Gayo pun langsung di cobanya. Aku
terharu melihatnya, ternyata Bapak masih meninggalkan kharisma di sana. Sering
kali teman, murid, dan santri-santrinya di sana menelepon Bapak. Padahal sudah
12 tahun Bapak meninggalkan Aceh.
Dua bulan lalu, saat pernikahan kakakku, kami juga
kedatangan tamu dari Boyolali, keluarga Om Sahid. Mereka bahkan juga bermalam
di rumah kami. Pertemuan yang mengharukan setelah 15 tahun, karena beliau dulu
pindah 3 tahun sebelum keluarga kami pindah ke Jawa.
Kharisma Bapak sebagai seorang guru dan ustadz
masih terus ada sampai sekarang. Dua hari yang lalu muridnya juga ada yang
berkunjung kemari jauh-jauh dari Brebes, bahkan mereka pun sempat bermalam di
rumah kami. Tak hanya kali ini saja, rumah kami sering kali kedatangan tamu guru
dan murid-murid Bapak dari jauh, bahkan setelah mereka lulus pun terkadang juga
ke rumah kami. Bapak menjadi guru favorit bagi murid-muridnya dan teladan bagi teman-temannya, baik di Aceh
maupun di Jawa.
Aku ingin menjadi pendidik seperti beliau, yang selalu
dikenang oleh murid-muridnya dan menjadi teladan bagi teman sejawatnya.
Meski menjadi pendidik itu tidak mudah, karena mendidik adalah seni
bagaimana caranya untuk menularkan ilmu yang kita punya kepada orang lain. Ilmu
yang ditularkan pun akan terus mengalir karena akan ditularkan lagi dari satu
generasi ke generasi selanjutnya. Ya… berakhir tanpa ujung..........................
Jumat, 20 Juli 2012
Fasting Month
“Ramadhan tiba...
Ramadhan tiba...
Marhaban ya
Ramadhan...
Marhaban ya
Ramadhan...
Marhaban ya Ramadhan...”
by Opick
Kala Ramadhan
tiba aku selalu ingat tradisi Ramadhan masa kecilku. Sehari sebelum puasa
biasanya ada tradisi ‘megang’, sampai sekarang aku juga belum begitu paham apa
itu megang. Setahuku megang adalah makan
besar sebelum puasa datang. Biasanya warga komplek akan menyembelih sapi
ataupun kerbau bersama-sama. Kota juga ramai karena banyak ibu-ibu yang
berbelanja untuk persiapan puasa. Biasanya sehari sebelum puasa kami akan
kumpul bersama keluarga, menyantap semua masakan yang dibuat ibu. Hmmm...
tradisi yang tak pernah kutemui lagi di Jawa, jangankan makan besar, bisa
kumpul keluarga saja sudah untung. Maklumlah, semenjak di Jawa, anggota
keluarga kami tinggal di kota yang berbeda-beda.
Kembali lagi
ke cerita masa kecilku. Sementara para orang tua sibuk mempersiapkan megang,
kami selaku anak-anak juga punya kesibukan tersendiri. Biasanya kami akan pergi
ke gunung di belakang komplek untuk mencari batang bambu. Bambu ini akan kami
jadikan obor. Setelah dari gunung kami akan mampir ke sungai untuk mandi sambil
mainan kapal-kapalan menggunakan gedebong pisang. Pulang dari sungai kami akan mempersiapkan
obor kami masing-masing. Obor ini akan kami gunakan sebagai penerangan selama
perjalanan menuju musholah. Musholah Al-Furqan tempat kami tarawih terletak di
tengah komplek. Berjarak kurang lebih 300 meter dari rumah. Jalan menuju ke
sana sangat gelap, tak ada rumah di kanan-kirinya. Lampu penerangan juga tidak
ada. Yang ada hanyalah semak-semak dan perkebunan kopi milik guru-guru STM.
Obor atau lampu senterlah penerangnya.
![]() | ||
| Musholah Al-Furqan, tempat warga komplek sholat. Terlihat tak ada rumah di sekitarnya. (Foto: by Tea, 2010) |
![]() |
| Papan nama Musholah Al-Furqan yang telah berusia lebih dari 20 tahun. (Foto: by Tea, 2010) |
Saat Tarawih,
Bapaklah imamnya. Selain memimpin sholat, bapak juga selalu memberikan ceramah
setelah selesai sholat tarawih setiap malam, kecuali malam 17 Ramadhan karena
malam itu diisi oleh Pak ‘Teuku’ (sebutan untuk kyai di Aceh) dari luar. Bacaan
bapak sangat bagus sehingga sholat pun terasa khusyuk meski hanya sebelas
rakaat.
Malam 17
Ramadhan adalah malam yang kutunggu-tunggu. Malam itu, selain ada Pak Teuku
juga ada acara makan-makan nasi bungkus. Untuk mendapatkan nasi dengan lauk
yang istimewa aku dan teman-teman suka usil. Musholah Al-Furqan ini berbentuk
rumah panggung sehingga membuat kami mudah dalam beraksi. Biasanya salah
seorang dari kami akan menusuk nasi bungkus dengan lidi dari bawah musholah.
Teman yang lain akan menandai (orang Jawa bilang ‘niteni’) dari atas musholah.
Setelah ditusuk kemudian lidinya kami cium, sehingga kami akan tau itu lauknya
apa. Kami melakukan hal yang sama untuk beberapa bungkus nasi yang berbeda.
Nah, pada saat pembagian nasi kami pasti akan memilih nasi bungkus yang kami
inginkan. Hahahaha..... nakal banget ya.... yee.. itu waktu aku masih kecil,
masih jadi anak bawang, jadi cuma ikut-ikutan aja. Wkwkwkwkwk.....
Lain malam,
lain juga siangnya. Kala Ramadhan tiba, pasti deh rame dengan petasan atau
mercon. Eits.... itu di Jawa. Kalau di Aceh, ramenya meriam bambu. Tetanggaku,
Bang Miga adalah orang paling pinter se-komplek dalam hal main meriam bambu,
sampai-sampai beberapa orang jadi korbannya. Ya beberapa dari mereka ada yang
harus digunduli karena sebagian rambutnya terbakar, ada juga yang kehilangan
alisnya kaya tuyul. Hehehe.......
Untuk mengisi
waktu luang kami selama Ramadhan biasanya kami habiskan dengan bersepeda
mengitari komplek, bermain di taman komplek, atau pun ke gunung. Ya, saat-saat
yang menyenangkan....
Menjelang
lebaran, pasti deh tercium aroma kue dari setiap rumah di komplek. Tetanggaku
adalah jagonya bikin kue. Setiap tahun biasanya mereka akan membuat kue dalam
partai besar untuk keluarga besar mereka. Ya, mereka asli Gayo. Tidak seperti
keluargaku yang jauh dari keluarga besar kami. Hmmm... aku sangat senang
melihat orang membuat kue. Tak jarang aku main ke tetangga dan ikut membantu
mereka membuat kue.
Lain tetangga,
lain pula kesibukan di rumahku. Menjelang lebaran, ibu dan bapak akan
disibukkan oleh banyaknya tamu yang datang untuk membeli ayam. Ya, Bapak dan
ibu mempunyai usaha ternak ayam sebagai usaha sampingan. Aku juga sering
membantu mereka di peternakan, seperti memberi minum dan mengambil telur-telur
ayam setiap hari. Kesibukan itu bukan
lantas membuat ibu tidak bikin kue. Ibu tetap buat kue lebaran, namun biasanya
sudah mepet lebaran karena buatnya juga cuma sedikit.
Malam takbiran
tiba. Biasanya aku cuma takbiran saja di Musholah bersama teman-teman. Tak ada
acara pukul bedug karena musholah kami tak punya bedug. Kami hanya memainkan
alat seadanya, seperti gelas, piring, sendok, dan rebana sebagai musik
pengiring takbiran, ya semacam ensemble. Tak jarang malam takbiran diikuti
dengan mati lampu. Takbiran pun makin asyik, kami akan menyalakan lilin atau
pun obor yang kami punya sambil main kembang api.
Hari nan fitri
pun tiba. Beramai-ramai orang menuju lapangan komplek untuk menunaikan sholat
ied. Bukan hanya warga komplek, namun juga semua masyarakat Desa Wihnareh. Tak
terkecuali wanita yang sedang haid. Tak ada orang yang membawa kendaraan,
semuanya berjalan kaki, jauh atau pun dekat rumah mereka. Selesai sholat ied,
kami tidak langsung pulang. Kami langsung keliling komplek ke rumah guru-guru
untuk bersalaman. Aku paling senang ke rumah Pak Sutar karena biasanya aku akan
dikasih balon. Hehehe......
![]() |
| Lapangan Komplek, tempat biasa kami menunaikan sholat Ied. Terlihat bukit di belakang komplek. (Foto: by Tea, 2010) |
Langganan:
Postingan (Atom)




