Rabu, 17 Juli 2013

Sepenggal Catatan Diaryku



Rabu, 26 Juni 2013
Bapak hari ini ulang tahun. Aku pun mengucapkan selamat kepadanya melalui sms. sebelumnya aku tak pernah melakukan ini dalam hidupku. Namun, kali ini aku ingin membuatnya terharu disaat beliau sedang berusaha keras melawan penyakitnya.

Kamis, 27 Juni 2013
Ujian semesteran terakhir. Semester depan sudah tak ada kuliah lagi jadi tak akan ada ujian semesteran lagi. Tapi hari ini aku mendapat kabar melalui sms bahwa Bapak mau operasi besok. Kabar yang tak kusangka secepat ini. Ingin rasanya sore ini pulang agar bisa mendampingi beliau ketika operasi besok, namun tak bisa karena masih ada tanggungan ujian take home yang harus dikumpulkan malam ini juga. 

Jum’at, 28 Juni 2013
Bapak dioperasi di Rumah Sakit Islam Harapan Anda, Tegal. Aku hanya bisa berdo’a. Hari ini juga Enk ulang tahun. Untuk menghilangkan kesedihan, aku pun membantunya menyiapkan party.

Sabtu, 29 Juni 2013
Pagi-pagi aku ikut kuliah umum AMDAL. Agak sedikit badmood hari ini. Siangnya aku pulang ke Pemalang. Sulit bagiku untuk memutuskan pulang hari ini. Jauh-jauh hari sebelumnya aku telah berjanji dengan Fefri untuk ke Yogya hari ini dan sama Ova untuk ke Solo setelah dari Yogya. Dengan lebih mengutamakan Bapak, aku pun membatalkan semua janji dengan fefri, ova, dan tina. Mereka pasti memahaminya. Berhubung sampai pemalang sudah sore, aku pun tidak bisa langsung ke Tegal.

Minggu, 30 Juni 2013
Pagi hari aku beres-beres rumah setelah itu pergi ke Tegal bersama sepupuku Leha. Sampai di Tegal aku pun bertemu Bapak. Ibu dan adikku Ragil yang menemani beliau semalaman. Tidak tega melihatnya yang terbaring lemah di tempat tidur. Beliau terlihat sangat kurus sekali. Aku mencoba untuk tidak menunjukkan kesedihanku. Sorenya Aku, Leha, dan adikku Ragil berangkat ke Brebes. Yach, aku diminta Bapak untuk menemani Ragil ke Yogya ikut tour bersama guru-guru SMK. Leha ikut menemani kami. Sampai di Brebes rasanya benar-benar seperti orang hilang, tak ada guru yang kami kenal selain Om Hardi, teman seperjuangan Bapak sejak di Aceh. Dengan berat hati aku menceritakan kabar Bapak setiap ada rekannya yang bertanya. Sebenarnya berat sekali perjalanan malam ini, kami jalan-jalan di saat Bapak sedang terbaring di Rumah Sakit. Namun Bapaklah yang meminta kami tetap pergi tour mengisi liburan.

Senin, 1 Juli 2013
Pagi hari di Magelang, mengunjungi Borobudur, candi Budha terbesar di dunia. Senang melihat Ragil yang begitu senang mengunjungi candi ini untuk yang pertama kalinya. Bertemu beberapa turis di sana, Ragil juga sangat antusias ketika mengobrol dengan turis. Untuk anak seusianya, bahasa Inggrisnya tergolong lumayan. Setelah dari Borobudur, kami ke Taman Pintar Yogyakarta. Aku tidak begitu menikmati perjalanan di yogya ini. terbatasnya waktu kunjungan membuat kami tergesa-gesa ditambah dengan hujan yang mengguyur kota Yogyakarta sore itu. Jalan-jalan di Malioboro pun jadi tidak asik. Wajah Bapak yang menanti cerita dan foto-foto perjalanan kami terus terbayang.

Selasa, 2 Juli 2013
Pukul 03.30 WIB dini hari rombongan tiba di SMKN 1 Bulakamba. Keluarga guru-guru langsung pulang ke rumah mereka masing-maisng. Sementara aku, Ragil, dan Leha harus istirahat dulu di UKS sekolah sesuai saran Bapak sampai menunggu pagi. Haduh, benar-benar nggembel.... Pagi pukul 06.00 WIB kami pulang dari Brebes. Sampai di terminal Tegal kami berpisah dengan Leha, dia langsung ke Pemalang, sementara aku dan Ragil kembali ke rumah sakit untuk menjenguk Bapak yang pulang ke Pemalang siang ini. 

Rabu, 3 Juli 2013
Aku kembali ke Purwokerto untuk menyelesaikan tugas dan menyusun tesis.

Selasa, 16 Juli 2013

Borobudur Temple


Borobudur Temple (Andam, 2013)

Borobudur is the biggest temple in the world. The location of the Borobudur is in Magelang City, Central Java, Indonesia. Near from Yogyakarta, Indonesia. Two weeks ago I have visit this temple with my sister. As a Indonesian, i have visit this temple three times, the first when i was student in junior high school, the second when  i was collegian in Semarang State University, and the third last month ago. Every i was visit this temple, the temple always same. Many tourist visit this temple, foreign countries tourist or domestic tourist from Indonesia.
I am and my little sister wear batik (Andam, 2013)
Borobudur have made in eight centuries, phase Syailendra Dynasty, from Mataram Kingdom in the Java. Borobudur have made original  from stone. As one of seven wonders in the world, the building of Borobudur temple always awake the authenticity. To keep the cleanness the temple, the visitor can’t bring something that can make the building the temple broken, like felt tip marker etc. Beside that, the visitor can’t bring food, just licensed bring mineral water.
Take picture with Biksu and Biksuni from Malaysia (Andam, 2013)
To enter Borobudur area you must wear Batik, traditional shirt from Indonesia. If you don’t wear Batik, you don’t be afraid because you can borrow batik fabric with official the temple. Beside temple, in Borobudur location you also can visit museum and theater. You can also use bicycle circling the area or by horse.
Near from  Borobudur, we can find traditional market. There are sell many souvenir like henger for key, batik, bag, hat, traditional food, and others. Don’t worry, the price is very cheap for our pocket.

Jumat, 12 Juli 2013

Kurindu Suaramu



Bulan puasa tlah datang, namun tidak bagi Bapakku. Bapak orang yang selalu penuh puasanya, bulan ini tak bisa puasa akibat sakit yang dideritanya. Tak hanya itu, bulan ini pun aku tak dapat mendengar suaranya mengimami sholat dan memberi kultum. Bapak, seorang imam masjid kini hanya bisa terbaring lemah. Ketika sholat tarawih pertama, yang ku ingat hanya Bapak. Bacaan Qur’an yang dilantunkannya ketika mengimami sholat terus terngiang-ngiang. Beliaulah imam pertama yang kukenal. Tak hanya imam bagi keluarga, tapi juga bagi para jamaah dimana kami tinggal. Bahkan dulu waktu di Aceh, saat bulan puasa Bapak menjadi imam penuh selama sebulan. Bacaannya begitu indah, membuat sholat terasa tenang. Sekarang, jangankan menjadi imam buat orang lain, menjadi imam untuk dirinya sendiri pun beliau mengalami kesulitan.
Sebenarnya ku tak tega melihatnya. Ingin rasanya kumenangis, namun kumencoba untuk tegar. Kalau aku sedih, bagaimana dengan adikku yang baru mau masuk SMA, yang masih butuh banyak bimbingan, bagaimana dengan Bapak yang sedang sakit, Bapak pasti juga akan sedih. Bapak dan Ibu sering berpesan, tunjukkan yang baik-baik kepada orang, tunjukkan kalau hidupmu senang agar orang lain juga senang, buatlah hidup itu tanpa beban, mencoba ikhlas untuk setiap yang terjadi.
Ya,,,,, mungkin keluarga kami sedang di coba, mungkin juga Allah sedang membersihkan dosa-dosa Bapak. Semoga Bapak cepat sembuh.. Aamiinnn

Rabu, 03 Juli 2013

Bapak Tak Bisa Naik Sepeda Lagi


Kenangan saat Bapak bersepeda (Andam, 2012)

Bapak punya cita-cita untuk melintasi jalur Pantura (Pantai Utara) Brebes-Semarang dengan sepedanya. Namun sayang, belum sampai cita-cita itu terwujud kini Bapak tak bisa bersepeda lagi untuk selamanya karena sakit yang beliau derita. Beliau mengalami sakit ambien yang parah dan tumor usus. Kedua hal inilah yang mengharuskan beliau untuk dioperasi dua kali, bagian depan dan belakang perut bagian bawah. Sedih, ketika melihat Bapak yang lemah tak bisa kemana-mana.
Sepeda adalah kendaraan favorit Bapak sejak kecil. Sepeda telah menemani masa hidupnya. Sepedalah yang mengantarkan beliau kemana saja. Di saat hari libur, Beliau sering mengajak  putri-putrinya berkeliling Kota Pemalang dengan mengendarai sepeda. Beliau pula yang mengajari putri-putrinya bersepeda.
Beliau adalah satu-satunya guru yang mengendarai sepeda di sekolah tempat beliau mengajar. Meski begitu, Beliau tak pernah terlambat ke sekolah. Ketika ku kecil, Bapaklah satu-satunya orang di komplek yang memiliki sepeda, padahal semua tetangga kami sudah memiliki sepeda motor. Aku masih ingat betul, dulu setiap pagi Bapak harus mengayuh sepeda melewati jalanan yang naik turun demi mengantarkanku sekolah TK yang jaraknya 3 Km. Aku juga masih ingat ketika Bapak tetap mengayuh sepeda melewati jalanan itu dalam keadaan ban yang kempes.
Sungguh, aku tak tega melihatnya tak bisa bersepeda lagi.